Top

16 Juni 2020

Ketika Paulus menulis surat kepada setiap jemaat yang ia perlengkapi (kitab Roma, Korintus, Efesus, Filipi, dll) itu semua bertujuan untuk membuat terjadinya penyetaraan pewahyuan. Sehingga jemaat dapat mengenal Tuhan sebagaimana Paulus mengenal-Nya. Dengan demikian akan terjadi ‘kesatuan iman’ yang membuat terjadinya kebangkitan tubuh Kristus. Di mana setiap anggota Tubuh yang ada akan membawa dinamika rohani, tujuan, dan agenda yang sama. Sehingga Kristus sebagai kepala dapat memanifestasikan diri-Nya di atas muka bumi ini.

 

Menarik ketika kita memperhatikan apa yang Paulus tuliskan pada kitab Filipi. Di sana Paulus banyak berbicara mengenai kematian daging dan prinsip mengosongkan diri. Juga ia menunjukkan kecenderungan hatinya yang sejati. Paulus berkata: “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Filipi 3:10-11).

 

Saya yakin, Paulus sebagai pemimpin kegerakan pada masa itu menghendaki agar jemaat Filipi dan juga kita yang membaca suratan tersebut dapat mengadopsi kecenderungan hati yang ia miliki. Bahkan Paulus menegaskan bahwa hasratnya dalam mengejar Tuhan yang sangat menggebu – gebu merupakan ‘pola ilahi’ dan KEBENARAN yang dari pada Tuhan sendiri dan harus dihidupi oleh jemaat.

 

Untuk meyakinkan jemaat Filipi bahwa itu merupakan kehidupan yang Tuhan kehendaki, Paulus memberikan suatu PENEGASAN: Jikalau ada orang yang menganggap hal itu tidak benar atau salah, maka Paulus berharap dan berdoa agar Tuhan sendiri yang langsung menyingkapkan kebenaran tersebut pada diri orang yang bersangkutan.

 

Filipi 3:15 Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.

 

Tapi Paulus memberikan ‘kata kunci’ untuk orang – orang yang karena satu dan lain hal ‘mulai tidak lagi sefrekuensi’ dengan Paulus. Paulus berkata dalam kitab Filipi 3:16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.

 

Maksud Paulus seperti ini: Jika jemaat ingin memperoleh penyetaraan pewahyuan, maka cara – cara yang dipakai tidak boleh dengan memakai caranya sendiri. Melainkan seturut dengan cara yang Paulus telah ajarkan dan tunjukkan di hadapan seluruh jemaat yang berada dalam pengayomannya.

 

Filipi 3:17 Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.

 

Pertanyaannya, bagaimana cara Paulus memperoleh pewahyuan tentang Kristus sehingga dirinya bisa dijadikan pola dan contoh? Dalam kitab Korintus, Paulus menunjukkan bagaimana totalitasnya dalam mengejar Tuhan. Ia mempraktekkan prinsip mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Ia membangun dirinya (roh, jiwa dan tubuhnya) layaknya seorang atlet yang penuh disiplin dan penuh fokus. Ia melatih tubuhnya untuk mendesak masuk dalam realita hadirat-Nya (ekspresif dan berlama – lama dalam hadirat-Nya) sampai porsi pekerjaan Roh dan Firman yang disediakan Bapa pada setiap harinya dapat ia peroleh sepenuhnya (1 Korintus 9:24-27). Sehingga ketika tiba waktunya untuk Paulus membangun dan memperlengkapi kehidupan jemaat, ia datang bukan dengan kata – kata kosong, melainkan dengan kekuatan Roh yang sangat kokoh dan menciptakan ledakan kebangunan rohani serta pembaharuan akal budi dalam hidup jemaat.

 

Filipi 3:16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.

 

Ayat di atas pagi ini berbicara sangat kuat dalam batin saya. Roh Kudus memberikan garis tebal pada kalimat “jalan yang telah kita tempuh“. Hal itu mengartikan bahwa ada satu pola yang bersama – sama telah dipraktekkan baik itu oleh Paulus maupun jemaat sehingga beroleh penyetaraan pewahyuan yang dapat terus bertumbuh semakin utuh dan sempurna.

 

Roh Kudus mengingatkan saya tentang prinsip “MEMBANGUN MANUSIA ROHANI” – itulah jalan yang telah kita tempuh bersama. Jalan itulah yang menghantarkan kita sampai pada saat ini! Jadi, harus terus kita lanjutkan (membangun manusia rohani). Tanpa kita membangun manusia rohani dengan standar yang sama seperti yang sudah ditunjukkan oleh pemimpin kegerakan maka penyetaraan pewahyuan tidak akan pernah terjadi. Kita justru hanya akan membawa pengenalan akan Tuhan yang berbeda – beda, alhasil tidak akan pernah tercapai kesatuan IMAN yang mengalahkan dunia. Pelayanan tubuh Kristus tidak akan pernah terlahir. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus