Top

16 Maret 2020

 

Oleh karena suatu kabar buruk perilaku suatu bangsa bisa alami perubahan yang drastis. Contoh kabar tentang awal terjangkitnya dua orang akibat virus Corona di Indonesia (apalagi sekarang sudah ada banyak yang terjangkit); gaya bersalaman menjadi berubah, pemakaian antiseptic menjadi makin sering, memakai masker, bahkan ada yang menjadi sangat ketakutan sehingga memborong kebutuhan pokok dalam jumlah yang sangat banyak. Semua itu terjadi sebagai akibat beredarnya kabar buruk! Tentu saja semuanya itu dilakukan sebagai tindakan berjaga-jaga dan antisipasi agar tidak tertular.

 

Tapi dari hal ini saya berpikir, mengapa kabar buruk justru memberikan dampak yang besar dan dengan cepat menular? Sedangkan saat mendengar suara Tuhan atau firman-Nya, kita justru berbantah – bantah, tidak percaya, dan bahkan tidak berubah sama sekali. Kalaupun berubah, perubahannya terjadi dengan sangat lamban. Ada yang salah dengan diri kita. Kita telah menjadi orang yang begitu reaktif ketika mendengar kabar buruk, daripada cepat responsif terhadap suara Tuhan.

 

Saya mendapati, itulah KEBIASAAN BURUK yang pernah dilatih oleh dosa sewaktu kita menjadi budak dosa! Di┬ádalam alam bawah sadar kita telah terbangun sistem reaktif terhadap kabar – kabar buruk. Dan di saat yang sama, sistem ketaatan terhadap pekerjaan Roh dan Firman seperti dilumpuhkan. Inilah yang membuat kita jadi ‘serupa dengan dunia’ atau mudah dicetak oleh situasi, kondisi, dan keadaan yang ada.

 

Oleh karena itu kita perlu membongkar akal budi kita untuk dilatih ulang oleh pekerjaan Roh dan Firman. Imajinasi, logika ilahi, asumsi, persepsi, dan motivasi hati harus kembali diselaraskan oleh suara Tuhan. Jadi hidup kita tidak lagi digerakkan oleh roh – roh dunia, termasuk roh ketakutan. Melainkan kehidupan kita bisa sungguh – sungguh memanifestasikan diri sebagai anak Allah.

 

Tiba – tiba saya teringat kisah Yesus menyembuhkan orang Kusta.

 

Lukas 5:12-13 (TB) Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.

 

Yesus telah melakukan suatu tindakan yang beresiko karena menyentuh orang yang sakit kusta. Sebab virus penyakit ini bisa saja menular lewat sentuhan fisik secara langsung. Itulah sebabnya orang Kusta pada zaman itu harus diasingkan. Tapi, Yesus sebagai Anak Allah tidak berimajinasi dirinya tertular, bahkan tidak terpikir sedikitpun akan bisa tertular, dan tidak berasumsi serta tidak berpersepsi bahwa dirinya bisa tertular. Tidak terbesit sedikitpun dipikiran Yesus. Justru yang Ia rasakan adalah Bapa di surga berkehendak menyembuhkan. Ia melihat Bapa bergerak, dan Ia pun turut bergerak. Jadi Ia berpikir bahwa diri-Nya adalah solusi, jawaban, dan siap menghadirkan mukjizat untuk orang kusta tersebut, dan menjadi ROH YANG MENGHIDUPKAN lalu menelan segala penyakit dalam kemenangan.

 

Jika mau jujur, seringkali respon kita sangat berbeda jika dibandingkan dengan Yesus dalam menyikapi adanya suatu penyakit atau virus. Reaksi kita masih sama dengan reaksi dunia ini, bukan respon sebagai anak Allah.

 

Saya jadi paham, perombakan akal budi kita harus tuntas dan kontras. Bahkan harus ekstrem. Ibarat bandul tidak boleh ada di tengah – tengah antara manusiawi dan kebenaran. Harus sepenuhnya ada di kebenaran. Tidak boleh ada percampuran. Apalagi sampai dikendalikan oleh berbagai ketakutan! Tidak! Kita adalah anak Allah. Pikiran, perasaan, dan kehendak kita harus merepresentasikan keberadaan sebagai anak Allah!

 

Sekali lagi, bukan juga berarti kita harus ‘dengan gagah -gagahan’ mendatangi orang-orang dengan penyakit menular tersebut. Jangan salah memahami saya. Saya menegaskan: Hiduplah seperti Yesus yang hanya bereaksi saat Ia mendapati Bapa bergerak dan bertindak. Ia tidak pernah meresponi ‘pergerakan apa pun’ yang berasal dari dunia ini!

 

Dari hal ini saya sungguh termotivasi untuk menggembleng diri saya untuk senantiasa membaca firman, mendeklarasikan firman, dan memenuhi hati dan pikiran saya hanya oleh firman! Hanya firman dan firman.

 

Bandul pikiran saya tidak boleh ada di tengah, tapi harus ekstrem berada pada posisi melekat pada firman-Nya, percaya pada firman-Nya, dan hanya melakukan firman-Nya! Dan hanya digerakkan oleh firman-Nya saja. Tidak boleh yang lain! Itulah jalan satu – satunya untuk hidup dalam Kerajaan yang tidak tergoncangkan! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus