Top

16 Mei 2020

2 Samuel 22:21 (TB) TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku; Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku

 

Dari ayat di atas, ada banyak pertanyaan yang harus saya jawab dalam perenungan saya :

 

Kebenaran seperti apa yang sedang kita yakini? Benarkah itu kebenaran atau firman yang Tuhan berikan? atau hanya sekedar ‘kebenaran diri sendiri’? atau suatu hikmat dunia ini? Bagaimana membedakan Kebenaran sejati dengan ‘sesuatu yang menyerupai kebenaran padahal bukan’? Hal ini menjadi sangat penting untuk kita jawab, sebab hidup kita ternyata sangat ditentukan oleh apa yang kita yakini. Bahkan jika kita meyakini sesuatu yang salah, maka yang salah itulah yang akan termanifestasi dalam hidup kita sehari – hari.

 

Roh Kudus memberikan saya ilustrasi seperti ini: Seorang tukang emas pasti dengan mudah akan mengetahui emas asli dengan emas palsu. Ia bisa segera membedakan hanya dengan memandang dan meraba. Bukan karena ia ‘ahli’, melainkan karena ia sudah terbiasa atau sering ‘berasosiasi’ dengan emas yang asli. Jadi sewaktu ia diperhadapkan dengan yang palsu, ia langsung mengetahui. Bagi orang awam, sangatlah mirip. Tapi bagi tukang emas, perbedaannya jadi sangat menyolok sekali.

 

Dari ilustrasi di atas saya belajar sesuatu: Hikmat dunia dan filosofi dunia ini sangat banyak yang ‘menyerupai kebenaran sejati’. Bagi orang yang ‘tidak terbiasa berasosiasi dengan kebenaran sejati’, mereka akan melihat hal itu sebagai kebenaran yang sama seperti kebenaran sejati itu sendiri. Bahkan mereka akan menerimanya sebagai ‘kebenaran’ dan melakukannya. Tapi bagi kita yang terus haus dan lapar akan kebenaran sejati dan terus berasosiasi dengan realita-Nya, kita tahu dengan pasti bahwa segala filosofi yang berasal dari dunia ini sangatlah bertolak belakang dengan kebenaran atau tidak sama; perbedaanya kontras sekali. Walaupun sudah dipoles dan dilapisi dengan bahan – bahan yang berkilau (kata – kata motivasi dan masuk logika manusiawi) tetap saja kita bisa mengendus roh yang di dalamnya sangat berbeda dengan kehidupan yang ada di dalam kebenaran. Kita tahu dengan pasti ada ‘bau kematian di sana’.

 

Roh Kudus mengajar saya seperti ini untuk mempraktekkan prinsip di atas: Di era informasi terbuka dan sangat cepat seperti saat ini, ada beragam berita, informasi, sudut pandang, opini, pengetahuan dan pengajaran yang kita dengar. Jika kita mendapati apa yang kita dengar dan baca tidak seturut dengan suara Tuhan atau takaran iman yang Tuhan berikan, maka kita harus segera menolaknya. Bahkan jika yang kita dengar atau baca tersebut seolah sesuatu yang masuk akal dan sifatnya baik, jangan langsung terima sebagai kebenaran, tanyakan dahulu kepada Roh Kudus. Apakah itu suara Tuhan untuk kita atau bukan? Jika itu tidak sesuai dengan arahan dan firman yang kita terima, segera kita tolak. Tidak perlu ditimbang – timbang.

 

Di masa sekarang ini TINGKAT KEFANATIKAN KITA TERHADAP SUARA TUHAN HARUSLAH MENINGKAT DENGAN DRASTIS. Sebab jika tidak seperti itu, kita akan ‘berkompromi’ dengan berbagai filosofi dunia ini. Alhasil kita bakal mengulangi kesalahan yang sama seperti Adam dan Hawa di taman Eden. Dan berakibat kematian untuk diri kita sendiri. Alih – alih kita dibangkitkan menjadi pahlawan iman, ketika cara kita ‘memperlengkapi diri’ adalah dengan menerima berbagai informasi dan jalan – jalan dunia ini, kehidupan kita justru akan menjadi serupa dengan dunia ini. Di saat dunia bergoncang, kita pun turut bergoncang. Ketika dunia ini berlalu, kita pun pasti berlalu. Pendek kata, kita tidak akan pernah mencapai kepenuhan Kristus.

 

Roh Kudus menegaskan kepada saya: “Jangan kotori tanganmu untuk menangkap berbagai filosofi dan jalan – jalan dunia ini. Buang itu semua! Tangkap saja firman-Ku, dan gosokkan pada manusia rohmu (renungkan firman) lalu deklarasikan firman tersebut. Pastikan hanya Firman-Ku, kebenaran dan suara Tuhan yang menjadi dasar keyakinanmu bukan yang lain. Hanya dengan begitulah Aku akan memperlakukanmu seturut dengan cara-Ku. Tangan kedaulatan-Ku akan menuntun dan memegang tanganmu berjalan dalam keilahian-Ku! Engkau akan menjadi saksi dari berlalunya dunia ini dan betapa kokohnya Kerajaan-Ku!! Langit dan bumi akan berlalu, tapi engkau dan Firman-Ku akan tinggal tetap. Engkau akan buktikan bahwa apa yang dunia ini katakan adalah SALAH!”

 

Ibrani 11:7 (VMD) Nuh telah diperingatkan Allah tentang hal yang belum dapat dilihatnya, tetapi Nuh mempunyai iman dan menghormati Allah. Jadi, ia telah membangun sebuah kapal yang besar untuk menyelamatkan keluarganya. DENGAN IMANNYA, IA MENUNJUKKAN BAHWA DUNIA INI SALAH. Dan dia menjadi seorang yang benar di hadapan Allah melalui iman.

 

Terjadilah atasku, di dalam nama Yesus!! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus