Top

17 Februari 2021

Setiap orang percaya yang ingin hidup di dalam Roh, pertama-tama harus belajar untuk membangun kesadaran akan keberadaan manusia rohnya sendiri:

 

1. Keberadaan manusia roh kita perlu dijagai untuk terus ada dalam kondisi yang ‘bebas’, sehingga kehidupan ilahi (Greek: Zoe) di dalam dirinya bisa terus bertumbuh.

 

Memang terkadang tanpa alasan ‘yang jelas’, tiba-tiba saja kita bisa merasakan adanya perasaan ‘kosong’, ‘tertindih atau sulit berdoa, menyembah’ atau bahkan ‘marah ataupun uring-uringan’ di dalam roh kita. Semua jenis emosi negatif yang ada harus segera ditanggulangi!

 

Berdoalah secara meluap-luap, dengan suara keras sampai semua emosi negatif tersebut tersingkir keluar dari manusia roh kita dan kembali ada lingkupan hadirat Tuhan yang memenuhi hati atau manusia roh kita.

 

2. Manusia roh kita selalu membutuhkan sarana (Jiwa dan Tubuh) untuk mengekspresikan dirinya.

 

Jika terjadi suatu serangan atas jiwa atau tubuh seseorang, maka manusia roh orang yang bersangkutan untuk lebih jadi ‘tersumbat’ – tidak bisa mengekspresikan dirinya lagi secara leluasa.

 

Keberadaan manusia roh yang ‘tersumbat’ harus segera ditanggulangi karena hanya akan menciptakan rentetan kemerosotan (secara rohani maupun lahiriah) bagi orang yang bersangkutan.

 

3. Manusia roh kita bisa ‘diracuni’ oleh si Jahat dengan cara ‘memasukkan’ berbagai emosi negatif dalam jiwa kita – misalnya, kesumpekan, kesedihan, kegalauan, kekecewaan dan lain sebagainya.

 

Orang percaya yang manusia rohnya tercemari oleh roh-roh dunia jadi cenderung untuk kembali hidup dalam kedagingan dan terus memanifestasikan perbuatan daging dalam kehidupan sehari-harinya.

 

4. Dalam perjalanan hidupnya, orang percaya yang pernah menyerahkan hidupnya ke dalam tangan Tuhan dapat saja kembali berfokus pada dirinya sendiri, bahkan kembali mulai mengejar ‘keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup’.

 

Saat hal itu terjadi, cepat atau lambat, manusia rohnya akan seperti ‘tenggelam dan depresi’ – di tengah semua pencapaian yang menurut dunia ini dikategorikan ‘hebat’, tetap saja ia merasakan adanya kekosongan yang mencekam di dalam batinnya.

 

5. Manusia roh seseorang dapat saja merasakan adanya ‘suatu beban’ yang datang dari Roh Kudus – semacam dorongan yang sangat kuat dan ‘menekan batin’, menggerakkan orang yang bersangkutan untuk terus berdoa, berbicara kepada Tuhan, dan melakukan deklarasi rohani.

 

Tapi orang yang bersangkutan harus terus membedakan antara ‘beban yang dari Tuhan’ dengan ‘beban yang ditimpakan oleh roh-roh Jahat’ kepada kita.

 

6. Kehidupan ilahi – Zoe dalam hidup seseorang bisa mengalami ‘kebocoran’, ‘menyusut ataupun merosot’.

 

Orang yang bersangkutan jadi makin kehilangan selera untuk bersekutu dengan Tuhan. Ia mulai kehilangan sukacita dan damai sejahtera di dalam dirinya. Setiap hari ia jadi merasa kehidupan rohaninya makin melemah. Sebetulnya kondisi ini disebabkan karena ‘kehidupan ilahi’ dalam dirinya sedang ‘tersumbat ataupun berhenti mengalir’.

 

Temukan aktivitas sehari-hari, sikap hati, pemikiran-pemikiran ataupun alasan yang menyebabkan kehidupan ilahi dalam diri kita jadi terganggu atau tidak bisa terus mengalir dengan lancar. Kadangkala, rasa bersalah yang menghantui seseorang juga bisa menjadi penyebab utama dari berhentinya aliran kehidupan ilahi dalam diri seseorang.

 

7. Kita dituntut untuk terus hidup dalam persekutuan yang progresif dengan Tuhan.

 

Saat persekutuan kita terganggu, maka kita jadi ada dalam kondisi yang sama seperti kipas angin yang kabelnya sudah tercabut dari sumber aliran listrik. Meski terlihat masih tetap berputar, tapi hanya masalah waktu, kipas tersebut pasti akan berhenti bergerak.

 

Begitu pula dengan orang-orang yang tidak lagi terhubung dengan Tuhan, merek akan terus memunculkan kecenderungan hidup dengan mengandalkan kekuatannya sendiri.

 

Untuk itu, teruslah membangun persekutuan yang sehat dan hidup dengan Tuhan. Dengan demikian, kita pun akan selalu menikmati bekerjanya kuasa anugerah dalam hidup kita. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus

 

      170221_Renungan_Ps_Steven_Agustinus