Top

17 Juni 2019

Ketika merenungkan Firman dalam Habakuk 3:17-18, saya mendapati bahwa respon yang Habakuk munculkan ketika menghadapi fakta dan data negatif bukanlah respon yang umum dijumpai di dunia. Saya menerima pengertian bahwa artinya, yang menjadi ‘harta’ dalam hidup Habakuk bukanlah keberhasilan atau kekayaan harta secara lahiriah. Ia menegaskan bahwa ia bersorak-sorak dan beria-ria di dalam Tuhan yang menjadi sumber kehidupan dan keselamatannya (Hab 3:18).

 

Serupa dengan apa yang dialami oleh jemaat Ibrani di awal mereka mengenal Kristus, mereka mengalami banyak hari-hari penderitaan yang berat, mereka menjadi bahan cercaan, dipukuli; tetapi mereka tetap bertahan dan tetap setia kepada Tuhan. Hal yang menarik ketika saya membaca kisah mereka adalah, ketika barang-barang milik mereka dirampas oleh musuh, mereka meresponi hal tersebut dengan bersukacita, karena mereka menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menyentuh harta mereka yang sesungguhnya. Mereka tahu dengan pasti bahwa harta mereka ada di dalam Sorga. Mereka mengalami banyak hal negatif, namun tidak ada satu hal negatif-pun yang membuat mereka ingin mundur, mereka melaluinya dengan bersukacita, tetap percaya dan tetap setia kepada Tuhan! (Ibr 10:33-34)

 

Saya kembali mengevaluasi diri saya, apakah selama ini sukacita saya masih dipengaruhi oleh hal-hal eksternal yang terjadi di sekitar saya? Saya merasakan ada hati yang mencintai Tuhan yang Roh Kudus curahkan lebih lagi dalam kehidupan saya, menyadarkan saya bahwa harta yang sesungguhnya dalam hidup saya adalah Tuhan! Sumber sukacita saya hanyalah Dia! Saya percaya Roh Kudus sedang terus bekerja dalam hidup setiap orang percaya pd hari-hari ini untuk membuat kita terlepas dari berbagai attachment dengan dunia ini. Sehingga tidak ada hal apa pun dari dunia ini yang dapat mencuri sukacita kita!

 

Untuk itu, saat ini saya berdoa biarlah Roh Kudus menolong saya untuk terus menyelaraskan sikap hati dan keinginan saya, untuk hanya mengingini pengenalan akan Dia dan kuasa kebangkitanNya!

 

Ketika saya merenungkan penyebab dari munculnya berbagai emosi negatif dalam hidup manusia, saya mendapati bahwa ternyata kita telah sedemikian ’terlatih’ untuk dengan ‘refleks’ memunculkan emosi negatif ketika ada fakta dan data negatif yang kita hadapi. Dunia telah mencetak manusia untuk hidup berdasarkan apa yang ‘tangible’, yang terlihat. Sementara Firman Tuhan menyatakan bahwa banyak dari apa yang terlihat (masalah) adalah sementara, tetapi yang tidak terlihat oleh mata jasmaniah kita saat ini (sukacita yang akan datang) adalah kekal (2 Kor 4:18). Dunia ini hidup berdasarkan kehidupan bios, yang terlihat nyata namun sesungguhnya semu dan sementara.

 

Tetapi, Tuhan telah menanamkan kehidupan Zoe dalam hidup kita, yaitu kehidupan yang sejati yang bersumber dari Firman dan RohNya. Kehidupan Ilahi tsb sudah tersedia, saya tinggal ambil keputusan untuk memasuki duniaNya! Saya mau melatih pikiran saya untuk terus tertuju dan berfokus kepada hal-hal yang benar, baik, adil, murni, dan indah. Hal-hal yang membuat saya terus limpah dengan ucapan syukur (Filipi 4:8-9).

 

Saya mendapati bahwa kita dapat melatih, membiasakan pikiran dan sudut pandang kita untuk selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang ilahi. Pengenalan akan Allah, pekerjaan Firman dan Roh serta ketetapan hati dan kesungguhan kita untuk bertekun dalam merenungkan Firman akan membawa kita menjadi pribadi yang semakin mewarisi pikiran Kristus.

 

Semakin kita banyak berasosiasi dengan Roh Kudus dan FirmanNya, kita akan semakin ‘mengadopsi’ jalan berpikirNya, sehingga pandangan, pertimbangan, dan penilaian kita terhadap hal-hal yang terjadi di dalam dan di sekitar hidup kita akan menjadi semakin selaras dengan pikiran Kristus, jadi semakin ilahi.

 

Kalau dulu saya sudah sedemikian ’terlatih’ untuk secara ‘refleks’ memunculkan emosi negatif ketika menghadapi fakta dan data negatif; sekarang saya mau bekerja sama dengan Roh Kudus untuk melatih ulang diri saya sampai secara refleks, saya terus memunculkan emosi yang ilahi ketika menghadapi fakta dan data negatif.

 

Karena saya meyakini bahwa di dalam Tuhan, tidak ada dukacita! Dia adalah Allah yang berdaulat, Dialah Sang Raja segala raja, artinya segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, terjadi dalam kontrolNya dan Ia memiliki otoritas tertinggi untuk menentukan segala sesuatu. Dia Allah yang setia, Ia tidak menyerah ketika masih ada kegagalan dalam hidup saya untuk menyukakan hatiNya, Dia akan selalu menyertai saya. Dia Bapa yang baik dan mengasihi saya, artinya, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, Ia pastikan akan selalu mendatangkan kebaikan bagi anak-anakNya.

 

Dengan mengenal Dia sebagai Allah yang berdaulat, Allah yang setia, dan Bapa yang baik, saya merasa bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki alasan untuk berdukacita. Jadi, sesungguhnya, apa pun juga yang kita hadapi, baik itu hal positif ataupun negatif, respon kita yang paling tepat sebagai anakNya adalah ucapan syukur, sorak-sorai, puji-pujian dan sukacita! Karena kita tahu dengan pasti bahwa segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia dan yang terpanggil melakukan rencanaNya (Rm 8:28).

 

Saya mau latih sudut pandang dan emosi saya untuk menjadi semakin ilahi! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus