Top

18 Mei 2019

Belajar dari kehidupan Daud; dia adalah pribadi yang bebas dari ambisi ingin jadi terkenal, ingin punya nama besar, ingin jadi yang terhebat. Ia dibuang oleh bapanya di padang belantara dan dititipkan 2 – 3 ekor domba sebagai umpan untuk binatang buas membunuhnya. Itu pun Daud tetap saja tulus, dan tidak tahu menahu dengan niat hati bapanya yang jahat. Ia justru sangat bertanggung jawab dengan apa yang dipercayakan kepadanya. Ia membunuh singa dan beruang yang kerap kali ingin menerkam dombanya!

 

Tidak hanya sampai disitu saja, ketika Samuel datang ingin mencari raja atas Israel di antara anak – anak Isai, Daud dilupakan. Nama dia sengaja tidak disebut. Ia tidak dianggap sama sekali. Tangan manusia berupaya untuk menahan promosi dan rencana Tuhan atas Daud. Tapi tangan Tuhan mengangkat dirinya menjadi raja atas Israel. Setelah Samuel mengurapinya menjadi raja, ia sama sekali tidak menganggap dirinya raja. Ia tidak berambisi untuk itu. Ia kembali ke aktivitasnya sebagai penggembala dua-tiga ekor domba.

 

Bahkan saat Israel sedang diintimidasi oleh Filistin selama 40 hari, Daud tidak tertarik untuk mendekat ke medan pertempuran. Ia tetap bersama dua – tiga ekor dombanya. Ia tidak melihat itu sebagai kesempatan untuk mencari nama besar, ia tidak melihat itu sebagai “waktu promosi”, ia tidak melihat itu “sebagai moment dari Tuhan untuk menyatakan dirinya sebagai raja”. Daud benar – benar mati dari ambisi. Ia hanya bergerak saat ayahnya menyuruh dia mengantarkan makanan kepada kakak – kakaknya di medan tempur. Daud tidak berkeberatan dengan cara orang tuanya memperlakukan dia. Padahal di depan mata Isai, Daud diurapi oleh Samuel menjadi raja. Seharusnya dari sejak itu keluarganya respek dan hormat terhadap Daud. Tapi itu tidak dilakukan mereka. Dengan berbagai macam cara jati diri Daud ingin dihancurkan. Namun Daud tetap tulus saja. Ia mengantarkan makanan dengan sukacita.

 

Sesampainya di medan pertempuran, pembunuhan karakter kembali dilakukan oleh kakak – kakaknya. Bukannya berterimakasih karena makanannya dihantarkan, tapi justru mencemooh dan menganggap Daud hanya ingin ikut “menonton keramaian” saja. Berharap Daud segera pulang sehingga tidak perlu mengikut pertempuran. Tapi kali ini Daud tidak bisa diam, ia mengabaikan perkataan kakak – kakaknya (tidak diambil hati) dan harus meresponi Goliat yang sedang menghina umat Tuhan! Daud maju melawan Goliat. Bukan karena Daud ingin mencari nama, atau mencari pengakuan dirinya sebagai raja. Dan juga bukan untuk mempertunjukkan kehebatan/kapasitasnya sebagai petarung yang tangguh, melainkan karena nalurinya sebagai gembala muncul untuk menjagai Israel dari segala bentuk ancaman dan teror – hal yang biasa ia lakukan terhadap 2 – 3 ekor domba yang ia kasihi.

 

Ketika Daud merubuhkan Goliat, lalu dipercayakan sebagai kepala pasukan untuk berperang, maka mata seluruh rakyat Israel tertuju kepadanya. Daud mengalahkan musuh berlaksa – laksa! Daud memikat hati rakyat. Namun Daud tetap saja tulus. Ia tidak mengkudeta Saul dan mengambil posisinya sebagai raja. Bahkan kesempatan untuk membunuh Saul dua kali, tidak dilakukannya. Ia tetap pribadi yang bebas dari ambisi dan tulus!! Ia telah diurapi oleh Samuel menjadi raja, dan diangkat oleh Tuhan dengan caraNya yang ajaib!

 

Dari cerita Daud di atas saya belajar, tidak peduli sehebat apapun destiny dan jati diri yang diberikan Tuhan atas hidup kita, kita tetap adalah hamba Tuhan dan anak rohani yang taat serta setia kepada bapa rohani (bapa rohani yang akurat) Dan mengerjakan tanggung jawab apapun yang dipercayakan dengan sepenuh hati. Bahkan sekalipun ada orang yang bernubuat atas kita dan menyampaikan rencana Tuhan yang besar, semua itu tidak menjadikan kita besar kepala, bahkan kita “perlu membunuh” itu didalam diri kita. Menyerahkan itu kembali dalam tangan Tuhan. Dan tetap tulus melakukan apa yang dipercayakan Tuhan sekarang tanpa berambisi untuk mencapai hal tersebut. Bukan berarti kita tidak mempersiapkan diri, melainkan menjaga diri agar tetap memiliki hati sebagai hamba/pelayan! Jika Tuhan mengangkat, itu sesungguhnya bukan untuk kepentingan kita, melainkan untuk kepentingan umat dan bangsa. Bukan untuk kita memiliki nama besar! Sebab hanya nama Tuhan yang layak dimuliakan!

 

Sikap hati Daud tersebut membuat kedaulatan Tuhan nyata atas hidupnya. Sehingga tangan Tuhan mengangkatnya dan menjadikannya sebagai raja. Daudlah raja yang memperkenan hati Tuhan. Sebab bukan lagi dirinya yang hidup, melainkan raja segala Raja yang ada dalam batinnya.

 

Saya yakin, tidak ada cara lain untuk Tuhan dapat mengangkat kita memerintah atas negeri selain melalui jalan kematian dari cinta diri sendiri, cinta uang, dan cinta dunia!! Itulah jalan satu – satunya yang harus kita tempuh. Diluar itu kita sedang berada dalam jalan orang fasik yang menuju kehancuran!! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus