Top

18 Oktober 2018

Proses Kita menggali berbagai fakta Ilahi yang berasal dari firmanNya dan menginternalisasikannya sehingga terbangun menjadi logika Ilahi dapat dikatakan sebagai tindakan membangun kehidupan Iman.
Kata ‘Iman’ – dari kata Yunani Pistis, yqng diterjemahkan dalam Kamus Strong sebagai Be persuaded, Come to trust – Jadi terpengaruh, berhasil di yakinkan…
Memang kita harus menyadari bahwa Iman adalah merupakan hasil produk dari pekerjaan firman & Roh yang terjadi dalam hidup orang percaya; bukan hasil usaha dari orang percaya yang bersangkutan. Tapi tindakan orang percaya yang bertekun untuk menggali ayat-ayat firman – mencari berbagai fakta Ilahi yang ada didalam firmanNya dan kemudian menginternalisasikannya untuk terbangun menjadi suatu logika Ilahi didalam hidupnya adalah sama dengan mengkondisikan/ memposisikan diri untuk mengalami bekerjanya kuasa firman & Roh yang melahirkan kehidupan Iman yang agresif (Yak 1:25, 2:17-18) Semua orang percaya seharusnya bertekun untuk melakukannya; terus mengkondisikan diri untuk bisa lebih meyakini fakta Ilahi yang ada didalam firmanNya daripada fakta lahiriah yang disajikan oleh sekelilingnya…
Disaat kita mulai menggali firman dan menemukan fakta-fakta Ilahi yang bertentangan dengan fakta lahiriah yang banyak ‘diterima/ diyakini’ oleh kebanyakan orang, kita harus menginternalisasikan fakta Ilahi yang ada sebagai suatu upaya untuk memposisikan diri guna mengalami bekerjanya roh terobosan yang membuat kita menerima kuasa untuk mengubahkan fakta-fakta lahiriah yang ada jadi sesuai dengan firmanNya (fakta Ilahi).

Saya berikan suatu contoh: Jika kita menelaah catatan yang tertulis dalam Mat 6:25-34, kita akan mendptkan ada banyak fakta-fakta Ilahi yang bertentangan dengan fakta lahiriah yang selama ini kita yakini:
1. Adalah merupakan hal yang tidak normal untuk orang percaya mengalami/ merasakan kekuatiran akan hidupnya. Alasannya adalah karena ada Bapa di Sorga yang selalu memelihara kita didalam kesetiaanNya.
Tapi faktanya, hingga sekarang ada banyak orang – termasuk orang-orang percaya – yang masih terus hidup dalam kekuatiran!

2. Yesus menjadikan burung Pipit yang tidak pernah menabur ataupun memiliki gudang penyimpanan sebagai contoh & perbandingan:
(a) Tidak ada burung Pipit yang kuatir akan masa depan/ hari esoknya
(b) Tidak ada burung Pipit yang didapati stress/ depresi karena kekurangan makan
(c) Tidak ada burung Pipit yang cemberut/ mengomel karena tidak mendapatkan makanan.
Mereka semua ‘memuji Tuhan’ yang dalam kesetiaanNya selalu memelihara hidup mereka.
Yesus menegaskan: Kalau Bapa begitu perhatian pada burung Pipit, apalagi terhadap keberadaan orang percaya!
Kekuatiran kita tidak akan pernah membuat terjadinya perubahan ke arah yang positif; kekuatiran hanya akan memperumit situasi yang kita hadapi & bahkan merusak kehidupan kita sendiri…

3. Yesus menegaskan, alasan bunga Bakung di padang bisa lebih indah dari pakaian Salomo adalah karena sang bunga sudah memposisikan diri secara akurat untuk mengalami bekerjanya hukum alam atas dirinya.
Demikian juga dalam kehidupan orang percaya; seandainya orang percaya mau memposisikan diri secara akurat untuk mengalami bekerjanya hukum Roh & kehidupan, otomatis mereka akan di bawa menikmati kehidupan yang diistimewakan oleh Tuhan (Ul 28:1)

4. Ada Bapa di Sorga yang mengetahui semua kebutuhan kita & Dia sudah menyediakan pemenuhan kebutuhan tersebut bahkan sebelum kita menyadari akan adanya suatu kebutuhan dalam hidup kita (Mat 6:8)

5. Yesus sekali lagi menegaskan bahwa sebagai orang percaya, prioritas hidup kita haruslah kerajaanNya (bukan lagi diri kita/ masa depan kita)
Dari sejak kita bertobat, perspektif yang harus kita bangun/ miliki adalah : Aku sudah mati bagi dosa tapi sekarang aku hidup hanya bagi Allah (Rom 6:11)

Saat orang percaya menginternalisasikan fakta-fakta Ilahi diatas untuk terbangun menjadi suatu Logika Ilahi dalam hidupnya – diimajinasikan, diperkatakan dijadikan bahan doa secara sedemikian rupa SEHINGGA TERUS MEMPENGARUHI DAN MEMBUAT KITA LEBIH MEYAKINI FAKTA ILAHI YANG ADA DIDALAM FIRMANNYA LEBIH DARIPADA FAKTA LAHIRIAH YANG ADA, otomatis Logika Ilahi yang terbangun tersebut akan memiliki cukup kekuatan untuk ‘menantang’ berbagai fakta lahiriah & logika manusiawi yang ada; bahkan memastikan apa yang sudah diyakini – fakta Ilahi-lah yang akan bermanifestasi: mengubah fakta lahiriah, mematahkan logika manusiawi…
Saat itulah kita bisa berkata bahwa oleh iman(ku), aku mengalahkan dunia ini…#AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus