Top

18 September 2018

Kejadian 20:7 Jadi sekarang, kembalikanlah isteri orang itu, sebab dia seorang ‘nabi’; ia akan berdoa untuk engkau, maka engkau tetap hidup; tetapi jika engkau tidak mengembalikan dia, ketahuilah, engkau pasti mati, engkau dan semua orang yang bersama-sama dengan engkau.”
1 Samuel 3:19-21 Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan ‘nabi’ TUHAN. Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya.
Yeremia 1:9-10 Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu. Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.”

Dari ketiga ayat di atas, saya mendapati bahwa ‘jabatan nabi Tuhan’ yang disematkan pada seseorang merupakan ‘pengakuan’ dari Tuhan dan juga manusia karena orang tersebut dengan konsisten hidup dalam pengaruh ilahi/firman dan memberi sepenuh waktu hanya untuk agenda Tuhan, dan terus memastikan aliran inspirasional/kondisi roh yang bergelora dalam dirinya, sehingga keberadaannya dapat menjadi penyampai suara Tuhan dan kebenaran dengan intensitas yang kuat dan posisi serta otoritas rohani yang sanggup membangun kehidupan jemaat seturut dengan pola surga, dan juga menyatakan suara Tuhan atas bangsa dan pemerintah, dan mendemonstrasikan kuasa Tuhan, serta menentukan saat, waktu, dan apa yang seharusnya terjadi dan akan terjadi, sehingga suatu umat dan bangsa dapat berjalan dalam jalan dan kehendak Tuhan!
Jadi peranan nabi sangatlah penting untuk terjadinya perubahan peradaban dan hadirnya Kerajaan Surga atas suatu bangsa. Namun perlu diingat, tidak semua orang “memangku” jabatan nabi Tuhan. Tapi gaya hidup, sikap hati, dan konsep pikir nabi, harus diikuti oleh semua orang percaya. Sebab Abraham adalah bapa orang percaya, dan dia disebut oleh Tuhan sendiri sebagai nabiNya!! Jadi sebagaimana Abraham terus mengkondisikan dirinya berada dalam pengaruh ilahi; terus meyakinkan dirinya (merenungkan, memperkatakan, mengimajinasikan firman) dengan janji Tuhan, maka begitulah yang harus kita lakukan! Sebagaimana Abraham terus memastikan adanya pekerjaan Roh yang bergelora sehingga aliran inspirasional terus mengalir lewat dirinya, maka begitu pun diri kita. Sehingga sebagaimana Abraham dikenal oleh Tuhan sebagai ‘nabi’ (bahasa asli ‘naba’ yang berarti ; under influence of divine spirit & speak by inspiration) maka kita pun akan dikenal oleh Tuhan sebagai sahabat Allah ( Yak 2:23, seperti Abraham) Sebab kita memarisi Roh yang sama (Gal 3:14, Kis 2:17-18) Jadi sangatlah lumrah jika orang percaya bergerak dalam dimensi profetis!! Tidak perlu harus diakui sebagai nabi. Tapi tidak menutup kemungkinan kita akan dipercayakan Tuhan sebagai nabi, namun bukan itu yang kita kejar. Karena yang terutama adalah membangun ketekunan, reputasi dan integritas dihadapan Tuhan dengan benar (1 Sam 3:18-21) maka akan tinggal tunggu waktu saja pengakuan bukan hanya datang dari Tuhan, melainkan juga dari manusia.
Bagian kita saat ini jangan sampai kehilangan momentum dimana Tuhan sedang melepaskan dimensi profetis atas kita umatNya pada akhir zaman ini. Karena melalui mantel kenabian dan dimensi profetis yang Tuhan lepaskan, maka komunikasi kita dengan Tuhan akan terjalin dengan baik. Apa yang Tuhan firmankan, itulah yang kita dengar dan pahami secara akurat serta lakukan!! Dengan demikian hal itu akan mengkondisikan kita terkoneksi dengan kedaulatan Tuhan yang mengangkat kita menjadi satu bangsa yang menjadi pola dan memerintah atas bangsa – bangsa lainnya (Kel 19:5-6, 1 Pet 2:9) Tidak hanya hal tersebut, kehidupan sehari – hari kita pun akan mengalami realita penyertaan Tuhan dahsyat dan luar biasa (Ul 28:1-14) #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus