Top

19 Agustus 2019

Sejak orang percaya mengalami kelahiran baru – dilahirkan oleh Roh dan kebenaran – ada satu ‘tuntutan’ yang seharusnya dijalani oleh orang percaya tersebut: Memiliki kecenderungan hati yang terus tertuju kepada kebenaran!

 

Apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan memiliki kecenderungan hati yang tertuju kepada kebenaran?

 

Kecenderungan hati dapat dijelaskan sebagai Suatu ‘sifat dasar’ dari hati manusia itu sendiri. Misalkan ada orang-orang yang memiliki sifat dasar dalam hatinya selalu ingin menikmati kemewahan hidup; ada juga orang yang memiliki sifat dasar kepengen selalu menjadi pusat perhatian orang; ada juga orang yang memiliki sifat dasar selalu ingin menang atau di atas orang-orang lain dll.

 

Semua sifat dasar tersebut seringkali terbentuk secara kompleks melalui berbagai interaksi yang terjadi dalam diri sang anak mulai dari sejak ia masih berupa janin dalam kandungan sang ibu (seringkali berbagai pengalaman dan emosi yang dialami oleh sang ibu menjadi ‘bahan dasar’ dalam proses pembentukan mental atau keberadaan sang janin) hingga berbagai interaksi yang dialami sang anak dengan lingkungannya. Dan semua itu ikut mempengaruhi keberadaan seseorang dalam usahanya harus melakukan hal yang benar dalam kehidupan sehari-hari.

 

Efesus 4:17-24 (TB)
Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.
Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.
Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.
Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

 

Dari ayat-ayat di atas, kita bisa mendapatkan beberapa fakta rohani:

 

1. Meski seseorang sudah menjadi ciptaan baru, ia masih bisa hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah, hidup dengan pikiran yang sia-sia, hidup dalam kegelapan, keras kepala (degil) dll karena memang kecenderungan hati yang mereka miliki sama sekali belum alami perubahan – sifat dasar dari hati mereka belum alami perubahan!

 

Meski sudah dilahirkan kembali oleh Roh & kebenaran tapi mereka belum betul-betul memiliki kecenderungan hati yang tertuju kepada kebenaran! Tidak heran, dalam menjalani kehidupan sehari-hari, orang yang bersangkutan seringkali mengambil berbagai keputusan yang ‘jauh dari kebenaran’! Padahal ada roh Kebenaran (Roh Kudus) yang selalu ingin menuntun orang yang bersangkutan untuk berjalan dalam kebenaran (Yoh 14:16-17, 16:13) bahkan mengingatkan orang yang bersangkutan akan semua yang Yesus sudah pernah ajarkan (Yoh 14:26)

 

Jadi seharusnya, tidak ada alasan untuk orang percaya jadi terus menjalani hidup dengan kecenderungan (sifat dasar) hati yang tidak memperkenan hati Tuhan! Semua kita seharusnya akan memiliki sikap hati, kecenderungan hati yang selalu memperkenan hatiNya!

 

2. Setiap orang yang sudah alami kelahiran baru masih harus melakukan satu tindakan tegas: Menanggalkan manusia lamanya!

 

Paulus menegaskan alasan mengapa ada orang percaya yang terus hidup dalam kesesakan, penuh pergumulan dan tekanan hidup: Terus menjalani kehidupan barunya di dalam Kristus tanpa menanggalkan yang lama (2 Kor 5:4-5)

 

Harus ada tindakan aktif dari orang percaya yang bersangkutan untuk ia mulai menanggalkan manusia lamanya (kecenderungan hatinya, sifat dasar yang sudah terbentuk atau tercetak menurut dunia ini di dalam hidupnya) dan pada saat yang sama mulai mengenakan manusia baru – dengan sifat dasar yang berbeda, yang tertuju kepada kebenaran – memberi kemampuan Ilahi untuk selalu melakukan hal yang benar!

 

3. Untuk mengubah kecenderungan hati (sifat dasar seseorang) dibutuhkan tindakan aktif untuk merenungkan firman hingga kebiasaan dari pikiran (bekerjanya imajinasi) akan alami perubahan total.

 

Salah satu cara untuk mengenali kebiasaan dari pikiran sebetulnya cukup mudah: Perhatikan saja jenis lamunan atau imajinasi yang sering muncul di saat kita sedang santai atau rileks. Bagi seseorang yang sudah mengalami perubahan kecenderungan hati, ia pasti akan memunculkan jenis lamunan atau imajinasi yang selalu selaras dengan firman. Apa yang dahulu ia inginkan dalam kedagingannya, sekarang sudah tidak lagi dianggap menarik atau ia ingini lagi. Keinginan hati yang ia miliki sudah diselaraskan dengan firman!

 

Paulus menggambarkannya dengan berseru: Apa yang dahulu aku anggap sebagai keuntungan, sekarang aku anggap sebagai hal yang merugikan; bahkan sekarang sudah aku anggap sebagai sampah! (Fil 3:7-16)

 

Dalam kitab Efesus 4:28 Paulus menegaskan lebih lagi: Orang yang mencuri (orang yang memiliki kecenderungan hati, sifat dasar ingin hidup enak tanpa harus bekerja keras) janganlah ia mencuri lagi (berhenti dari kebiasaannya yang salah, penuh dosa, tidak akurat tersebut) tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri (orang yang bersangkutan mulai membangun suatu sifat dasar yang baru, yang bertentangan dengan kecenderungan hati yang selama ini ia miliki – mulai melakukan hal yang benar!) supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan (dari tindakan benar yang kita jalani dalam hidup ini, akan selalu ada kehidupan yang memberkati, yang berdampak terhadap orang-orang lain yang akan kita miliki)

 

Mulailah dengan tekun ‘membasuh’ pikiran kita dari segala bentuk pola dunia yang masih tersisa dalam hidup kita; pergunakanlah firmanNya untuk membersihkan pikiran kita dan bangun ulang pikiran tersebut hingga kita memiliki pikiran Kristus! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus