Top

19 Juli 2018

Fase awal hidup sebagai ciptaan baru adalah fase yang ‘penuh pergulatan’. Disatu sisi, karena manusia roh kita sudah alami penebusan, tentu memiliki kecenderungan untuk melayani Tuhan. Tapi berhubung pikiran kita belum alami perubahan nature – masih membawa pola dunia – tentu masih memunculkan kecenderungan yang tertuju pada keduniawian, cenderung masih mencintai diri sendiri dan pasti juga cinta akan uang.

Di sinilah pergulatan itu terjadi: sementara manusia roh kita ingin selalu menyukakan hati Tuhan, pikiran yang belum diperbaharui ini menuntut untuk kita mengejar kesenangan/ keinginan pribadi! Dan konyolnya, yang seringkali ‘kalah’ adalah justru keinginan dari manusia roh kita! Tanpa sadar, pengaruh dunia ini jadi terus memiliki akses ke dalam hidup kita dan membuat kita selalu mengikuti keinginan yang berasal dari pikiran yang belum dibaharui tersebut; dari situlah manusia lama kita jadi kembali memiliki kekuatan untuk ‘bangkit & bermanifestasi’ dalam hidup sehari-hari.

Itu sebabnya Paulus mewanti-wanti untuk sebagai Ciptaan Baru, kita segera melakukan proses pembaharuan akal budi (Rom 12:2) – mengubah nature/ kebiasaan dari pikiran kita (Ef 4:23) karena memang selama pikiran yang belum dibaharui ini masih bercokol dalam diri kita, artinya dunia ini maupun roh-roh dunia masih akan memiliki peluang untuk dapat terus mempengaruhi hidup kita dan membuat manusia lama yang seharusnya sudah mati bersama Kristus, jadi bangkit & bermanifestasi kembali.

Mensetting pikiran dengan firman harus terus dilakukan hingga kita memiliki pikiran Kristus! Tanpa kita terus bertekun dalam firman hingga Pikiran Kristus terbangun nyata menjadi suatu kehidupan yang secara natural terus bermanifestasi dalam hidup sehari-hari, pergulatan antara manusia baru dengan manusia lama masih akan terus berlanjut (2 Kor 5:4)

Ketika seseorang terus bertekun dalam melakukan perenungan firman (mengubah nature dari pikirannya yang belum dibaharui) dan Pikiran Kristus mulai terbangun kuat dalam hidupnya, ada buah-buah/ hasil yang akan muncul. Dari situlah kita bisa menilai seberapa jauh pikiran kita sudah alami perubahan dan tercetak/ terbangun suatu kebiasaan baru: kita memiliki kemampuan untuk berpikir seperti Kristus (1 Kor 2:16 terj TSI):

1. Kita menjadi pribadi yang penuh kasih (1 Kor 13:4-8 terj TSI) Akan ada perubahan besar dalam kita berinteraksi dengan orang lain; cara kita menilai, bersikap & meresponi orang lain jadi makin memanifestasikan keberadaan Kristus sendiri.

2. Kita menjadi pribadi yang semakin tulus:

(a) tulus dalam sikap hati (tidak menyimpan ganjalan terhadap siapapun – Mat 5:20-26),
(b) tulus dalam pikiran/ moralitas (menghargai/ menghormati lawan jenisnya – Mat 5:27-30),
(c) tulus dalam membangun rumah tangga (bukan hanya ‘cinta sesaat’ sehingga mudah ‘berubah hati’ – Mat 5:31-32 ; 19:8-9),
(d) tulus dalam berkata-kata (Mat 5:33-37),
(e) tulus dalam menyatakan kemurahan hati (Mat 5:38-48 baca dalam Alkitab terjemahan the Message)

3. Kita menjadi pribadi yang makin ‘Selfless’ – tidak mengejar kepentingan pribadi ataupun puji-pujian yang sia-sia lagi. Sebaliknya jadi lebih mengutamakan keberadaan orang lain dan kepentingan bersama (Fil 2:1-4)

4. Kita menjadi pribadi yang makin bijaksana dan penuh hikmat.

Semakin seseorang memiliki pikiran Kristus, ia menjadi pribadi yang makin ‘seimbang’ & obyektif dalam menilai segala sesuatu, terlebih dalam mengambil berbagai keputusan yang dapat mempengaruhi orang banyak. Ia masih tetap pribadi yang idealis tapi sudah realistis sehingga tidak pernah terburu-buru/ bernafsu dalam usahanya mewujudkan sesuatu (bahkan dengan dalih untuk Tuhan sekalipun).

Apalagi jika berkaitan dengan ‘orang’, ia menyadari hanya kedaulatan Tangan Tuhan yang bisa mengubah orang; meski ia sudah menabur & menyiram setiap benih yang ada, ia menyadari bahwa hanya Tuhan saja yang mampu memberikan pertumbuhan.

Jadi, orang yang makin matang & berhikmat akan makin hidup dalam ketergantungan penuh terhadap Tuhan.┬áKematangan & hikmat membuat seseorang jadi ‘memiliki’ tanpa jadi ‘terikat dengan apa yang ia miliki’; menikmati & mencintai/ menyukai apa yang ia miliki tanpa jadi takut kehilangan apa yang ia miliki tersebut.

Ia hidup dalam kedamaian yang penuh, batinnya tenang, hening sehingga memudahkan dirinya untuk mendengarkan suara hati nuraninya. Inilah orang yang sedang menyatu dengan Kristus, makin di penuhi oleh keIlahianNya. #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus