Top

19 Mei 2018

Selama ini kita melihat dalam suatu gereja lokal hanya segelintir orang yang hidupnya mati – matian, gila – gilaan, dan habis – habisan bagi rencana Tuhan. Sedang yang lainnya hanya sebagai jemaat “yang setia ibadah” dan sibuk dengan aktivitas masing – masing tanpa peduli dengan apa yang menjadi agenda Tuhan secara korporat. Dan parahnya, ada banyak pemimpin rohani yang menganggap itu sabagai hal yang ‘wajar’! Bahkan ada yang cukup puas karena menganggap itu “sebagai pertumbuhan gereja yang alamiah” (pengajaran yang mengatakan bahwa adalah hal normal jika ada 10% dari total jumlah jemaat berfungsi) Tidak heran mereka akhirnya terjebak untuk terus “melayani” jemaat agar tetap setia datang ibadah. Khotbah – khotbahnya pun diatur sedemikian rupa agar tidak terlalu “menuntut” jemaat untuk mati – matian, gila – gilaan, dan habis – habisan bagi rencana Tuhan.

Berkat, sukses, dan mukjizat menjadi tema khotbah favorit. Bahkan pemimpin rohani yang ada rela memberi mimbar untuk para motivasional dan berbagai pengkhotbah populer untuk berkhotbah di gerejanya. Itu semua dilakukan demi mempertahankan dan menambah jumlah jemaat!!
Berbeda dengan kondisi gereja mula – mula dimana Petrus berkhotbah pertama kali. Khotbahnya sangat keras dan merobek hati!

Kisah Para Rasul 2:37 (TL) Setelah didengarnya demikian, maka pedihlah hati orang sekalian, lalu berkatalah mereka itu kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain itu, “Hai Tuan-tuan dan Saudara sekalian, apakah yang wajib kami perbuat?”

Tapi herannya, jumlah mereka bertambah pada hari itu juga.

Kisah Para Rasul 2:41 (TB) Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

Hal ini tentunya sangat kontras dengan kondisi saat ini. Khotbah keras sedikit (menuntut kematian daging dan penyerangan hak) jemaat bubar dan mencari gereja lain. Tapi disini saya mendapati, ternyata seorang pemimpin rohani atas suatu gereja “membawa suatu frekuensi rohani” yang akan menarik orang – orang yang mempunyai frekuensi rohani yang sama!

Secara singkat frekuensi rohani berbicara mengenai ‘kecenderungan hati’. Jika kecenderungan hati pemimpin atas suatu gereja lokal tidak tertuju kepada kebenaran, maka sudah pasti ia akan menarik tipe orang yang sama. Bahkan memultiplikasi orang yang sama. Sehingga terbangunlah jemaat yang tidak mencintai kebenaran, melainkan terus cinta diri sendiri, cinta uang, dan cinta dunia ini! Alhasil gereja lokal tidak berfungsi sebagai tubuh Kristus, dimana seluruh individu jemaat seharusnya mati – matian, gila – gilaan mengejar Tuhan dan menyelesaikan kehendakNya.

Oleh karenanya saya percaya, pemulihan segala sesuatu akan dimulai dari gerejaNya (Wahyu 2,3) dan secara spesifik terhadap para pemimpin atas suatu gereja lokal (Maleakhi 3:2-4) Tapi pemulihan para pemimpin rohani “akan sedikit memakan waktu lebih lama”. Karena ini sangat berkaitan erat dengan masalah ‘ego dan gengsi’, serta keinginan untuk menjadi siapa yang terbesar. Sebab untuk mengadakan pemulihan, biasanya (menurut pola yang akurat), Tuhan akan membangkitkan satu pemimpin rohani dengan kualitas yang berbeda, dan juga suatu gereja lokal dibawah kepemimpinannya yang memanifestasikan pelayanan Tubuh Kristus. Dengan tujuan untuk dijadikan contoh oleh Tuhan sendiri bagi para pemimpin dan gereja lainnya. Sebab untuk memulihkan pemimpin dan gereja lokal, Tuhan akan memakai ORANG. Ya, orang yang telah dibentuk dan dijadikan serupa dengan Kristus itu sendiri!

Ketika Tuhan memunculkan pemimpin rohani seperti itu untuk dijadikan contoh, maka disaat itulah “gengsi dan ego” dari para pemimpin lainnya mulai bermunculan. Biasanya mereka akan mengajukan pertanyaan: mengapa bukan ‘AKU’ yang dijadikan contoh, mengapa dia? Mengapa JUMLAH jemaat yang dipimpinnya tidak banyak (tapi berfungsi semua)? Mengapa AKU harus mengikuti dia, padahal dia lebih muda? Mengapa AKU harus mengikuti ajarannya?

Tapi saya percaya, terlepas dari apapun yang terjadi, Tuhan tetap akan memulihkan gerejaNya! Oleh karenanya Ia akan meremukkan EGO dari para pemimpin rohani dengan berbagai macam cara! Sehingga mereka menyadari, bahwa selama ini mereka telah kehilangan realita Tuhan dan firmanNya! Mereka yang memang punya hati mencintai Tuhan, biasanya akan dibawa oleh RohNya bertemu dengan pemimpin rohani yang membawa pola ilahi! Dengan demikian mereka bisa melihat dengan jelas contoh kehidupan pemimpin dan jemaat! Selanjutnya mereka hanya perlu ‘bertekun dalam pengajaran rasuli’ dan membangun gereja seturut dengan pola yang Tuhan tetapkan!! Dengan demikian Tubuh Kristus secara universal akan muncul dan pemerintahan Kerajaan Tuhan akan nyata di atas bumi ini!! Bagi mereka yang terus mengeraskan hati, Tuhan tidak akan memaksa. Ia akan terus bekerja dengan mereka yang mau bergerak bersama dengan Dia!! #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus