Top

2 April 2020

 

Tuhan menghendaki untuk keberadaan kita sebagai orang percaya terus melimpah dengan takaran iman, pengharapan dan kasih. Kekurangan salah satu dari ketiga unsur tersebut hanya akan membuat keberadaan kita sebagai orang percaya jadi ‘tertatih-tatih’ dalam menjalani kehidupan sehari-hari, bahkan membuat kita jadi seperti zombie rohani – kelihatan hidup padahal sudah mati secara rohani!

 

1. Seseorang yang takaran iman dalam dirinya sedang ‘penuh’ seringkali secara alamiah akan memunculkan ciri-ciri:

 

a. Dalam berbicara dan bertindak, ia terus memanifestasikan keyakinan yang kuat. Ia menjadi pribadi yang selalu optimis dalam menghadapi berbagai situasi atau keadaan yang buruk atau tidak seperti yang diharapkan. Kata-kata yang ia ucapkan terus mencerminkan keyakinan yang kokoh akan firman yang pernah ia terima. Tidak ada keluh kesah, omelan ataupun berbagai ekspresi negatif lainnya.

 

b. Tidak terpengaruh oleh berbagai opini negatif yang sering dihembuskan oleh orang-orang yang tidak bisa memahami prinsip kehidupan oleh iman. Fokus hidupnya terus tertuju hanya kepada firman yang pernah ia terima, berbagai data dan fakta lahiriah tidak bisa men-distract dirinya. Suara orang banyak tidak bisa mengintimidasi dirinya. Ia tetap memiliki hati yang teguh, pertimbangan dan pengambilan keputusan yang sepenuhnya selaras dengan firman.

 

c. Ada ‘sense of achivement’ – rasa puas, damai dan sukacita karena sudah menemukan isi hati Tuhan dan melakukannya – yang terus menguasai hati dan pikirannya. Rasa ‘sense of achivement’ inilah yang membuat orang yang bersangkutan jadi menjalani kehidupan sehari-hari yang stabil, kokoh dan fokus.

 

d. Terus memperlihatkan kekonsistenan dan dinamika rohani yang kuat meski masih menghadapi fakta yang berbeda dengan janji firman. Orang yang hidup dengan takaran iman yang penuh, tidak akan mudah menyerah oleh karena keadaan, tidak mudah patah arang ataupun tidak mencari berbagai alternatif lain yang terlihat lebih mudah baginya. Tidak! Ia akan terus fokus dan bertekun hingga janji Tuhan tergenapi sepenuhnya!

 

e. Ucapan dan tindakannya terus memanifestasikan apa yang ia yakini dengan teguh. Sifat dan karakternya jadi tercetak mengekspresikan apa yang sudah ia yakini, yang berasal dari firman!

 

Karena itu pastikanlah kita terus menumbuhkan level keterhubungan dan kebergantungan yang kita miliki terhadap Tuhan dan firman-Nya. Kala kita mendapati level kepenuhan takaran iman dalam hidup kita mengalami penurunan atau kebocoran rohani, otomatis hal yang berkebalikan dari semua poin penting di atas akan mulai bermunculan dalam hidup kita!

 

Untuk itu, kita harus memastikan setiap firman yang datang dalam hidup kita, ada tindakan aktif dan agresif dari diri kita untuk mendisiplin diri – menyelaraskan setiap sudut pandang, konsep berpikir, pertimbangan dan pengambilan keputusan kita dengan firman-Nya, maka kita juga akan menikmati bertumbuh dan meluapnya takaran iman dalam diri kita!

 

2. Seseorang dengan takaran pengharapan yang penuh dalam hidupnya, secara alamiah akan memunculkan ciri-ciri sebagai berikut:

 

a. Selalu memanifestasikan sudut pandang dan konsep pikir yang positif dalam menghadapi kondisi apa pun.

 

b. Terus memunculkan keantusiasan dan kualitas emosi yang selalu positif.

 

c. Terus memunculkan keyakinan positif yang menular terhadap siapapun yang berinteraksi dengan dirinya.

 

d. Selalu berkeyakinan bahwa walau sedang ada di tengah kondisi negatif, ia dapat terus menikmati berbagai hal yang positif dan memperkaya hidupnya.

 

e. Selalu termanifestasi kata-kata yang penuh ucapan syukur dari mulutnya.

 

3. Saat seseorang dipenuhi kasih, ia akan memunculkan ciri sebagai berikut:

 

a. Rela melakukan pengorbanan atau ‘extra mile’ tanpa bersungut-sungut, berkeluh kesah atau mengomel.

 

b. Terus memiliki motivasi kerja yang tinggi walau sering menghadapi tantangan atau hambatan, bahkan bangkit untuk mengatasi semuanya tersebut.

 

c. Mengkondisikan seseorang untuk selalu mengharapkan munculnya hal-hal baik atau positif dari hidup seseorang.

 

d. Mengkondisikan seseorang untuk terus menikmati kehidupan yang bebas dari konflik batin, penuh kedamaian dan sukacita.

 

e. Mengkondisikan seseorang untuk terus berusaha memunculkan kualitas terbaik yang ada dalam hidupnya.

 

#AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus