Top

2 April 2021

“Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” (Galatia 3:13-14).

Melalui kematian Kristus di kayu salib, setiap orang yang percaya kepada-Nya dibebaskan dari kutuk hukum Taurat. Artinya tidak perlu ada lagi tuntutan-tuntutan keagamaan untuk seseorang menerima Roh yang sudah dijanjikan sebagai sarana untuk menerima berkat Abraham bagi bangsa-bangsa. Yang dibutuhkan hanyalah percaya kepada apa yang sudah Ia firmankan.

Menerima Roh yang sudah dijanjikan merupakan satu hal yang sangat serius bagi orang-orang Israel maupun penganut agama Yahudi. Sebab hanya dengan mengalami pencurahan Roh, janji menerima berkat Abraham akan dapat dinikmati.

1. Pencurahan Roh merupakan manifestasi penggenapan janji Bapa untuk Ia memulihkan realita Kerajaan-Nya bagi umat yang Ia tebus menjadi umat kesayangan-Nya dari antara bangsa-bangsa lain.

Sedari awal saat Tuhan membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, Ia sudah berencana untuk menjadikan mereka sebagai ‘umat pilihan’ yang Ia istimewakan dari antara bangsa-bangsa lain di bumi ini (Keluaran 19:4-6, Ulangan 7:6-8, 26:16-19). Tapi karena kebebalan hati, mereka lebih memilih menyembah dewa-dewa asing. Tuhan pun terpaksa menyerakkan mereka ke bangsa-bangsa asing (Ulangan 4:23-29, 28:58-68), walau dengan sebuah janji bahwa sekali waktu nanti Ia akan memanggil umat-Nya kembali dan memulihkan mereka (Yeremia 31:1-10, Zakharia 10:9-12).

Namun janji pemulihan tersebut akan ditandai dengan terjadinya perubahan hati dan pencurahan Roh Kudus-Nya (Yeremia 31:31-34, Yeh 11:16-20, 36:25-27). Itulah sebabnya saat pencurahan Roh yang terjadi di atas loteng Yerusalem, di hari peringatan Pentakosta, ketika Petrus menegaskan mengenai nubuatan nabi Yoel, seketika orang-orang penganut agama Yahudi yang berasal dari berbagai bangsa segera memberi diri untuk dibaptis dan menjadi orang percaya (Yoel 2:28-29, Kisah Para Rasul 2:1-40). Mereka jauh-jauh datang ke Yerusalem dan dengan tekun memelihara semua aturan Taurat dengan satu tujuan agar sekali waktu dapat dihisapkan sebagai umat pilihan-Nya, yaitu saat Roh tercurah!

Sekarang Roh Kudus sudah tercurah atas hidup kita sebagai orang yang percaya. Melalui pekerjaan Roh Kudus yang membawa kita mengalami kelahiran baru, kita menerima hati dan roh yang berbeda (2 Korintus 5:17). Dan saat kita menerima baptisan Roh, kita menerima Roh yang sudah dijanjikan itu.!

2. Pencurahan Roh yang kita alami membuat kita kembali menikmati dan jadi terhubung secara langsung dengan realita Kerajaan-Nya.

Bagi orang Israel, mengalami pencurahan Roh adalah lebih dari sekadar berkata-kata dalam bahasa roh. Namun menikmati realita dari Kerajaan-Nya yang penuh kemuliaan dan tak terkalahkan (Kisah Para Rasul 1:6).

Saat Bapa memanggil Abraham, Ia memberikan janji mengenai keturunannya: keturunannya (orang yang percaya) akan menduduki kota-kota musuhnya dan oleh keturunan Abraham (orang yang percaya) seluruh bangsa di muka bumi akan mendapat berkat (Kejadian 22:15-18).

Saat orang percaya terhubung secara langsung dengan Kerajaan-Nya, maka kita pun diberi hak penuh untuk menghadirkan Kerajaan-Nya. Di dalam Kerajaan-Nya tidak ada kekurangan, pergumulan ataupun tetesan air mata. Kerinduan hati Bapa adalah membawa bangsa-bangsa kembali mengikuti jalan ilahi yang suda Ia tetapkan.

Sebagai orang percaya, kita diberi mandat untuk mengajar bangsa-bangsa tentang bagaimana seharusnya kita menjalani hidup ini – hidup di dalam lingkupan anugerah sang Raja (Matius 28:18-20).

Ingatlah selalu bahwa Dia bukan hanya raja bagi sekelompok kecil orang yang memanggil dirinya sebagai orang percaya (Kristen). Dia adalah raja atas segala bangsa, atas semua orang dan atas seluruh alam semesta. #AkuCintaTuhan

Saya, Ps. Steven Agustinus beserta seluruh kerabat kerja renungan harian mengucapkan selamat hari raya Jumat Agung.

Ps. Steven Agustinus