Top

20 Agustus 2019

Bilangan 12:1-3 (FAYH) PADA suatu hari Miryam dan Harun mengkritik Musa karena ia memperistri seorang perempuan Kusy. Mereka berkata, “Apakah TUHAN berfirman hanya melalui Musa? Bukankah TUHAN berfirman melalui kita juga? ” TUHAN mendengar percakapan mereka itu. Adapun Musa seorang yang paling rendah hati di dunia.

 

Ketika saya membaca ayat diatas, hati saya jadi sangat tergelitik membaca bagaimana Alkitab mendiskripsikan keberadaan Musa sebagai pribadi yang paling rendah hati di dunia tapi pada saat yang sama, ia juga mengambil perempuan lagi untuk menjadi istrinya.

 

Meski dalam kasus Harus & Miriam yang mengkritik Musa, Tuhan tetap membela Musa, tapi bukan berarti Ia menyetujui tindakan Musa dalam mengambil perempuan Kusy (atau Ethiopia) untuk menjadi istrinya; Tuhan tidak pernah mengijinkan dilakukannya poligami ataupun perceraian (Mal 2:13-16)

 

Dari peristiwa ini, saya belajar satu hal: Menjadi orang yang memiliki karakter yang sudah mumpuni (Musa adalah orang yang paling lembut, rendah hati) dan bahkan mengalami pembelaan dari Tuhan saat ‘diserang oleh orang lain’, tidak menjamin bahwa orang yang bersangkutan sedang melakukan hal yang benar!

 

Dibutuhkan suatu tekad yang bulat untuk terus melakukan hal yang benar dalam kehidupan sehari-hari; dibutuhkan suatu sikap hati yang memang mengejar kebenaran sehingga tidak lagi mempergunakan berbagai alasan atau logika yang sifatnya manusiawi, lahiriah atau bahkan lumrah bagi banyak orang sebagai alasan pembelaan diri atas hal tidak benar yang ia lakukan!

 

Semakin saya merenungkan prinsip tentang ‘Melakukan hal yang benar’, semakin saya disadarkan oleh Tuhan bahwa hanya mereka yang memang sudah ‘mengosongkan diri’ yang akan bisa terus melakukan hal yang benar dalam kehidupan sehari-harinya. Untuk selalu melakukan hal yang benar, seringkali ada pengorbanan yang harus kita lakukan – yang membuat pengorbanan tersebut menjadi terasa semakin berat adalah karena membutuhkan ‘penyerahan’ hidup, masa depan, keinginan, cita-cita dan sebagainya dari orang yang bersangkutan.

 

Matius 26:39, 42 (TB) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!”

 

Di saat Yesus berkata kepada Bapa: Bukan kehendakKu yang jadi, tapi jadilah kehendakMu. Dia sedang terus memposisikan DiriNya untuk melakukan hal yang benar! Langkah ketaatan terhadap apapun yang Tuhan kehendaki/ firmankan akan selalu memposisikan kita melakukan hal yang benar!

 

Jangan lagi menjadikan ‘penyertaan Tuhan’, bekerjanya pengurapan dalam pelayanan dan lain-lain – bahkan reputasi memiliki karakter yang hebat sekalipun sebagai suatu jaminan bahwa kita akan selalu melakukan hal yang benar.

 

Untuk selalu melakukan hal yang benar, dibutuhkan tekad dan pengambilan keputusan yang selaras dengan firman setiapkali kita memang harus mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Hiduplah dengan terus mengosongkan diri dan membangun tekad atau pengambilan keputusan untuk selalu melakukan hal yang benar – di segala situasi, kepada semua orang di semua area kehidupan! #AkuCintaTuhan


Ps. Steven Agustinus