Top

20 April 2020

Memiliki kehausan dan kelaparan akan kebenaran dan realita Tuhan harus terus dikondisikan untuk tetap ada dalam batin kita.

 

Matius 5:6 (TB)  Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

 

Dalam Alkitab, kata ‘lapar’ atau dalam Alkitab berbahasa Inggris ditulis dengan kata ‘do hunger‘, ditulis dengan menggunakan kata Yunani: Peinaō (dibaca: pi-nah’-o) yang dapat diterjemahkan: Mencari dengan sebuah kerinduan, dengan penuh hasrat. Dan gambaran yang dipakai dalam bahasa Yunani tersebut adalah orang yang mencari dengan penuh hasrat demi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

 

Dengan kata lain, seharusnya setiap orang percaya mengkondisikan batinnya untuk selalu merasakan adanya kelaparan akan firman; bukan hanya suatu ‘rasa lapar yang sekedarnya’, tapi betul-betul rasa lapar yang membuat seseorang ‘menjadi kalap’!

 

Jenis kelaparan akan firman yang ‘sampai kalap’, tidak akan pernah bisa dipuaskan hanya dengan membaca satu-dua ayat atau sekedar mendengar khotbah pendeta. Jenis kelaparan rohani yang Yesus maksudkan dalam injil  Matius 5:6, hanya akan bisa dipuaskan saat orang yang bersangkutan secara pribadi mendengar suara Tuhan berkata-kata, memberikan firman hidup ke dalam batinnya!

 

Dibutuhkan suatu tekad dan pendisiplinan pribadi untuk terus mendesak masuk dalam hadirat-Nya, membersihkan berbagai frekuensi rohani yang sering men-distract fokus kehidupan kita, menyingkirkan berbagai kesibukan yang memang sengaja diciptakan oleh musuh di dalam pikiran atau emosi kita, sampai kita betul-betul ‘memasuki keheningan ruang takhta’.

 

Baru di saat seperti itulah, kita akan mulai mendengar suara-Nya berbicara secara pribadi kepada kita. Firman-Nya yang langsung keluar dari mulut-Nya itulah yang bakal memuaskan hidup kita dalam arti yang sesungguhnya! Betul-betul tidak akan ada lagi ‘rasa butuh sesuatu’ dalam hidup kita karena semua ‘rasa butuh’ yang kita miliki telah dipuaskan melalui hadirnya firman dalam kehidupan kita (Mazmur 23:1).

 

Aspek paling penting yang harus segera kita tanggulangi untuk betul-betul memiliki rasa lapar-haus akan Tuhan dan firman-Nya sampai pada level ‘mengejar dengan penuh hasrat’ atau ‘sampai kalap’ adalah:

(1) Roh familiarity dan

(2) Masih adanya ‘rasa butuh’ atau ‘hasrat yang lain’, yang bersifat duniawi.

 

1. Roh familiarity akan membuat seseorang jadi kehilangan rasa butuh akan Tuhan yang ia miliki dengan menyala-nyala, yang membuat seseorang jadi ‘kalap’ dalam mengejar kebenaran dan realita Tuhan.

 

Biasanya roh familiarity mulai muncul dalam hidup seseorang karena ia sudah mulai menikmati area atau dimensi berkat secara melimpah dalam hidupnya. Segala sesuatu yang ia tabur, sedang terus ia tuai. Semua langkah keakuratan yang di masa lampau ia kerjakan, sedang terus memunculkan hasilnya. Pendek kata, semua berkat dan kebaikan Tuhan sedang terus ia nikmati secara berlimpah-limpah.

 

Di saat seseorang sedang terus menikmati hasil dari pengorbanannya di masa lalu, roh familiarity akan mulai mendompleng masuk dalam kehidupan seseorang. Secara perlahan tapi pasti, kegigihan, kedisiplinan dan tekadnya dalam mencari Tuhan menjadi tidak ‘se-kalap’ di masa lalu.

 

Kita harus terus mengingatkan diri kita sendiri, bahwa aspek rohani yang sudah membuat kita menikmati berbagai terobosan, berkat dan kelimpahan dari Tuhan harus terus kita lakukan sampai kapan pun! Jika doa bahasa roh secara meluap-luap sambil mengimajinasikan dan mendeklarasikan firman telah membawa kita menikmati terobosan dan kelimpahan sorga, kita harus terus melakukannya dengan tekad dan kegigihan yang lebih besar lagi!

 

Alasan ada banyak hamba Tuhan atau gereja-gereja besar mulai kehilangan realita Tuhan dalam kehidupan sehari-hari maupun pelayanan ibadah yang ada, selalu disebabkan mereka tidak lagi mengejar realita Tuhan dan firman-Nya sebagaimana dahulu mereka mengejar Tuhan.

 

Bayangkanlah kita sedang berenang, dan untuk sekian waktu lamanya kita sengaja menahan nafas kita di bawah air. Ketika kita sudah tidak tahan lagi untuk menahan nafas kita di bawah air, hasrat dan desakan untuk kembali menghirup udara di luar air menjadi teramat sangat besar.

 

Nah seharusnya hasrat kita untuk selalu mengalami realita jamahan Tuhan dan penyingkapan kebenaran-Nya harus sebesar hasrat kita untuk menghirup udara yang ada!

 

2. Seringkali kita jadi kehilangan hasrat untuk mengejar realita Tuhan karena ada bermunculan banyak hasrat yang lain dalam batin kita!

 

Biasanya, saat seseorang mulai menikmati banyak berkat Tuhan, ia mulai memiliki lebih banyak keleluasaan atau pilihan dalam hidupnya. Tanpa ia sadari, level kebergantungan yang ia miliki terhadap Tuhan juga jadi menurun.

 

Untuk apa bersusah payah melakukan puasa atau deklarasi demi untuk membeli sesuatu, jika kita sudah memiliki cukup uang untuk membelinya? Untuk apa capek-capek menghamburkan energi untuk melakukan deklarasi firman guna mengusir rasa pening atau sakit kepala, jika kita sudah memiliki kemudahan untuk membeli obat sakit kepala? Di sinilah saya melihat bagaimana dengan lihai, Musuh menyusupkan roh familiarity di saat kita menikmati berkat-berkat Tuhan!

 

Sekali lagi, kita harus membangun mentalitas dan tekad yang menyala-nyala dalam mengejar realita Tuhan – melatih dan mengobarkan kembali kehausan-kelaparan yang kita miliki akan realita Tuhan dan kebenaran-Nya sampai kita betul-betul dipuaskan hanya oleh keberadaan-Nya.

 

Doa saya biarlah melalui Daily Devotion hari ini, sekali lagi Roh Kudus akan bekerja dalam batin kita dan mengobarkan level kehausan-kelaparan kita akan Dia hingga mencapai level tertinggi seperti yang belum pernah kita alami. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus