Top

20 Juni 2019

Hari ini, ketika saya kembali menyerahkan dan mendedikasikan seluruh kehidupan dan keberadaan saya kepada Tuhan, Roh Kudus membawa saya untuk kembali menyadari bahwa saya adalah milikNya, saya sudah mati bagi dosa, dan sekarang saya hidup hanya bagi Allah! (Rm 6:11)

 

Sudah seharusnya saya menyerahkan seluruh keberadaan saya untuk berfungsi sebagai senjata kebenaran di tanganNya (Rm 6:13). Setiap aspek kehidupan saya seharusnya berfungsi sebagai senjata kebenaran, termasuk aspek keinginan dalam kehidupan saya. Seringkali aspek keinginan dalam diri manusia justru menghambat dirinya untuk hidup hanya bagi Tuhan.

 

Tetapi Firman di Galatia 5:24 menyatakan, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”

 

Aspek keinginan manusia yang tadinya berfungsi sebagai senjata kelaliman, (yang membuat kita keluar dari jalan-jalan Tuhan) akan menjadi senjata kebenaran ketika kita menyerahkannya kepada Tuhan. Memang untuk hidup memperkenan hati Tuhan tidak dapat kita lakukan dari kekuatan diri sendiri, bahkan untuk menginginkan hal-hal yang menyukakan hatiNya juga tidak dapat kita lakukan dari kekuatan diri sendiri.

 

Namun, saya bersukacita karena atas kehendak-Nya sendiri, Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, dan Dia memberi kita keinginan serta kemampuan untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan hati-Nya (Yak 1:18, Fil 2:13)! Roh saya berkobar-kobar ketika membaca dan merenungkan Firman ini, saya terima kebenaran fakta rohani ini dan saya bangun menjadi dasar keyakinan saya!

 

Roma 8:6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.

 

Keinginan daging selalu membawa kita mengalami maut, dalam berbagai takaran – mulai dari kesedihan, kekuatiran, kegalauan hati, sungut-sungut, dukacita, kesengsaraan, konflik batin, sakit penyakit, bahkan sampai kepada kematian. Dunia ini dan segala sesuatu yang diinginkan orang sedang menuju kebinasaan, dunia ini sedang lenyap dengan segala keinginannya. Tetapi, jika aspek keinginan dalam kehidupan kita diisi oleh keinginan-keinginan Roh yang membuat kita melakukan kehendak Allah, kita akan menikmati kehidupan dalam KerajaanNya yang tidak tergoncangkan (1 Yoh 2:17)!

 

Saya menyadari bahwa menjagai hati yang mengasihi Tuhan sesungguhnya menjadi jawaban atas semua persoalan kita. Permasalahannya, ada banyak orang yang menyatakan bahwa ia mengasihi Tuhan, tetapi di saat yang sama, masih tetap mengasihi dunia, mengasihi dirinya sendiri, dan mengasihi uang. Padahal prinsipnya, kita tidak bisa melayani dua tuan! Selama masih ada cinta akan dunia, diri sendiri dan uang, artinya kita tidak sedang mencintai Tuhan (1 Yoh 2:15-16, Mat 6:24).

 

Itu sebabnya, saya berketetapan untuk menjagai hati yang mengasihi Tuhan dalam hidup saya, menumbuhkannya dan menjadikan Tuhan sebagai SATU-SATUNYA yang saya ingini. Bukan hanya memprioritaskan Tuhan dan menjadikan dia nomor satu, namun menjadikan Dia satu-satunya, tidak ada yang lain!

 

Roh Kudus menuntun saya untuk belajar banyak dari Mazmur 73 yang ditulis oleh Asaf dan bagaimana ia menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya yang ia inginkan. Asaf memulai mazmurnya dengan menceritakan bagaimana ia mengingini begitu banyak hal yang dimiliki oleh orang-orang fasik (Maz 73:3-12); bahkan ia merasa sia-sia telah mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan karena keberuntungan-keberuntungan yang dinikmati orang fasik (Maz 73:13-14). Tetapi ketika ia tetap memposisikan dirinya untuk tetap di dekat Tuhan (Maz 73:23), ia mendapati bahwa ternyata segala keinginan yang lain selain mengingini Tuhan, ujungnya menuju kepada kebinasaan.

 

Dalam ketidaktahuan dan kepahitan hati Asaf, ia tetap di dekat Tuhan, dan Tuhan memegang tangannya, menuntunnya dengan terus memberikan nasihat melalui pekerjaan Firman dan RohNya, serta membawa Asaf naik dalam kemuliaanNya. Sehingga akhirnya Asaf memahami harta yang sesungguhnya adalah Tuhan sendiri. Bahkan Asaf dapat menyatakan bahwa tidak ada hal lain yang ia ingini di dunia ini, yang ia inginkan hanyalah Tuhan. Tidak peduli dengan kondisi yang ia alami sebagai fakta dan data, tetap ia hanya menginginkan Tuhan! (Maz 73:25-26).

 

Dari Mazmur 73 ini, saya kembali disadarkan bahwa memang Dialah harta yang paling berharga dalam hidup saya! Saya berdoa, pekerjaan Roh dan FirmanNya terus mencetak hati dan keberadaan saya untuk tidak lagi mengingini hal lain, selain mengenal Tuhan dan mewujudkan isi hatiNya! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus