Top

20 Maret 2020

Mengapa kita perlu mengisi pikiran hanya dengan firman-Nya saja? Karena suka atau tidak berbagai keputusan dan perilaku diri kita sangat ditentukan oleh apa yang kita yakini dan juga apa yang kita pikirkan. Firman Tuhan berkali – kali mengingatkan, agar umat-Nya merenungkan firman-Nya saja. Bahkan dari perjanjian lama sampai perjanjian baru penegasan itu selalu berulang. Tapi untuk kita mengikuti hal itu seringkali tidaklah mudah, sebab ada perbantahan dari pikiran kita sendiri yang mengatakan: “Masakan pikiran kita hanya boleh diisi firman? apakah mungkin? lalu bagaimana dengan yang lain, apakah tidak dipikirkan? Kan masih banyak hal penting lainnya yang harus dipikirkan, hidup itu kan tidak harus terus menerus merenungkan firman, kita kan harus ‘mendarat dan seimbang’ dalam hidup ini, dan tentunya harus berhikmat.

 

Roh terus menegaskan kepada saya: “Isi hidupmu hanya oleh firman. Jangan tunda – tunda dan berlama – lama (mengingat hari – hari ke depan yang akan kita hadapi, harusnya firman itu semakin konkret dan realistis untuk dilakukan). Abaikan segala pemikiran lain yang ‘menentang pengenalan akan Allah’ dan apa kata orang. Sebab Aku sedang terus mencari generasi yang tanpa percampuran sedikitpun untuk mengalahkan dunia. Untuk menjadi saksi bahwa Aku itu ada dan Aku masih terus bekerja.”

 

Saya mendengar Roh berkata dalam batin saya: “PERTARUNGAN DASAR KEYAKINAN sedang dimulai!!! Ini masa penting yang akan menentukan apakah kita gereja Tuhan akan ‘memasuki tanah perjanjian’ (memerintah dalam kuasa dan ororitas Kerajaan Surga) atau tidak. Sadarilah, peperangan sekaligus pembersihan akan dimulai dari dalam gereja!! Akan terbagi menjadi dua kelompok, yaitu orang – orang yang berdiri bersama dengan Yosua dan Kaleb, dan yang lainnya percaya pada 10 pengintai yang menganggap diri sebagai belalang setelah melihat para raksasa penghuni tanah Kanaan.”

 

Saya sungguh merasa, raksasa – raksasa justru sedang berdiri di hadapan gereja Tuhan! Dan mengintimidasi dengan membabi buta. Teriakan raksasa itu bahkan banyak menggoyahkan dasar keyakinan dari umat Tuhan! Mereka yang tidak membangun dirinya hanya dari firman (otomatis mempunyai opsi dasar keyakinan lainnya) akan jadi goyah. Dengan berbagai macam keyakinan yang bercampur dengan firman akhirnya keluar juga keputusan dan tindakan yang dinamakan ‘hikmat’ (padahal ketakutan). Itulah ‘hikmat’ bangsa Israel yang percaya pada 10 pengintai. Mereka tidak mau masuk ke tanah Kanaan demi mempertahankan nyawa mereka, alhasil mereka kehilangan nyawa.

 

Begitulah kurang lebihnya kondisi orang percaya saat ini, mereka tidak ‘rela kehilangan nyawa’ demi mempertahankan dasar keyakinanannya. Beda dengan Yosua dan Kaleb, mereka tidak lagi mengasihi nyawa mereka untuk terus melangkah dalam keyakinan yang mereka miliki, mereka berseru di tengah bangsa yang semuanya sedang ketakutan (tindakan berbahaya).

 

Bilangan 14:6-10 (TB) Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya, dan berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.” Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel.

 

Seringkali saat kita sedang melawan raksasa fakta negatif (entah itu berupa virus, tantangan hidup, kondisi kesehatan atau apapun juga) sedang berada di hadapan kita, justru kita membuka diri untuk banyak mendengar segala sesuatu yang bukan suara Tuhan. Raksasa – raksasa itu berhasil menjadi penghalang frekuensi rohani kita dalam mendengar firman-Nya, dan mengarahkan kepada suara manusia dan hikmat dunia! Alhasil, hidup kita ‘di-lock down‘ (dikunci)! Roh Kristus dalam diri kita menjadi terhalang oleh tembok – tembok filosofi duniawi yang terbangun dalam diri kita oleh berbagai informasi!

 

Untuk melawan raksasa, tidak ada cara lain selain memakai mulut kita untuk bersuara lebih lantang! Selain belajar dari Yosua dan Kaleb yang tidak lagi mengasihi nyawa mereka demi mempertahankan dasar keyakinan, kita juga bisa belajar dari Daud yang mengalahkan Goliath! #AkuCintaTuhan

 

Message ini masih akan berlanjut besok.

 

Ps. Steven Agustinus

 

(Bagi saudara pengguna Instagram, ikuti IG terbaru Ps Steven Agustinus di @psstevenpersonal – Gbu)