Top

20 Mei 2020

Betapa penting untuk memastikan keberadaan hidup kita selalu berada dalam pusat kehendak Tuhan yang sempurna (selaras dengan agenda surgawi) Tentunya hal tersebut bisa terjadi ketika kita mendengar Dia berfirman dan menaati-Nya. Pada saat itulah kita akan mengalami pemeliharaan Tuhan menjadi sempurna dalam diri kita. Segala yang kita butuhkan untuk menyelesaikan kehendak-Nya sudah disediakan oleh Bapa. Bagian kita hanyalah mendengar dan menaati.

Pada masa kegoncangan dunia seperti saat ini, ada banyak orang dan berbagai aspek hidup lainnya yang ikut bergoncang. Orang jadi takut, khawatir, cemas. Dan tidak sedikit yang akhirnya kehilangan pekerjaan. Tapi terlepas dari semua yang terjadi, isu utamanya bukanlah ‘pekerjaan apa yang kita butuhkan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari’, bukan itu! Melainkan isu utamanya adalah: Apakah kita sedang melekat dan mendengar suara Tuhan serta menaati-Nya! Sebab memang itu adalah esensi dari kehidupan orang percaya.

Jadi saya yakin sekali, kegoncangan ini diijinkan oleh Tuhan untuk suatu maksud: Agar semua kita kembali menatap atau berfokus kepada Pribadi (Firman Tuhan) yang tidak tergoncangkan. Sebab ada banyak orang percaya yang telah ‘menganggap’ sudah berada dalam ‘ladang yang diberkati oleh Tuhan’, ia menyukai pekerjaan yang ada dan beroleh pemasukan dari sana, bahkan telah menjadi ladang pelayanannya. Tapi dalam kondisi ‘diberkati’ (tidak kekurangan) hatinya berbelok daripada Tuhan. Kehidupan yang melekat kepada Tuhan bukan lagi menjadi yang utama dan terutama. ‘Kegilaan’ mengejar dan mencari Tuhan mulai menurun. Bahkan kadar cinta akan Tuhan terus memudar tergerus oleh ‘berkat’. Ini sesungguhnya tidak boleh terjadi atas kita!!

Pada pagi ini, terus terngiang di hati saya kalimat berikut: Tuhan tidak memberkati ‘pekerjaan’, melainkan yang Tuhan berkati adalah ‘orang’. Jadi ketika seseorang melekat kepada-Nya dan terus setia kepada firman-Nya, maka apa saja yang diperbuatnya berhasil!! (Mazmur 1) Bahkan sekalipun itu tidak ‘masuk akal’ bagi dunia ini!!

Tiba – tiba saya teringat dengan cerita di bawah ini:

Lukas 5:1-6 (TB) Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.

Dari kisah di atas kita bisa belajar sesuatu; Yesus memerintahkan Simon untuk menebar jala di waktu yang ‘tidak biasa’, alias di pagi atau siang hari. Tentunya itu diluar dari kebiasaan para nelayan yang biasa menjala ikan di malam sampai subuh atau pagi hari.┬áBagi Simon apa yang diperintahkan oleh Yesus ‘bertentangan’ dengan ‘pengetahuan tentang nelayan’ yang ia miliki. Belum lagi ‘pengalaman Simon’ juga berbicara pada saat itu, bahwa mereka telah bekerja keras semalaman tapi tidak menangkap apa – apa. Artinya memang fakta dilapangan seluruh nelayan yang melaut di tempat yang sama sedang mengalami penurunan omset. Tapi Simon mengabaikan sejenak ‘ilmu dan pengalaman’ yang dimiliki untuk menaati perintah Yesus. Alhasil mereka menangkap sejumlah besar ikan sampai jala mereka mulai koyak!!

Jadi prinsip yang dapat kita peroleh dari kisah tersebut adalah: Yang terpenting adalah ‘MENDENGAR SUARA TUHAN DAN TAAT’. Itu adalah prinsip untuk beroleh kehidupan yang terus bertumbuh dan tidak tergoncangkan. Jadi apa pun yang kita kerjakan jika itu memang arahan Tuhan bagi kita, maka kita hanya perlu taat saja. Otomatis kehidupan kita pasti terpelihara sempurna. Dan yang terutama kita ‘tidak perlu pikir untung rugi’, selama kita tahu itu suara Tuhan lalu kita taat, maka segala yang dianggap orang mustahil akan menjadi mungkin.

Pertanyaannya, mungkinkah suara Tuhan berseberangan dengan ilmu alam dan juga pengetahuan serta pengalaman yang kita miliki? Bisa jadi! Dan sangat mungkin! Bagian kita tidak perlu mempertahankan atau bahkan mempertentangkan itu semua. Lakukan saja seperti Simon menaati Yesus. Dan juga lupa, tetaplah berfokus pada Yesus. Jangan sampai hati kita berbelok kepada berkat yang Tuhan berikan. Tetaplah mengikuti Tuhan sebagai pribadi yang kita cintai lebih dari apa pun dan siapa pun juga (Lukas 5:10-11). Sikap hati itulah yang akan membawa kita hidup selaras dengan agenda surgawi, dan otomatis menjadi tidak tergoncangkan oleh apa pun juga! #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus