Top

20 November 2018

Saya percaya, ketika Tuhan membawa Gereja untuk memasuki ‘kelas akselerasi’ – mengejar ketertinggalan yang selama ini ada; mengkondisikan gereja untuk mulai hidup didalam keIlahianNya, memanifestasikan kemuliaanNya – Tuhan akan mempergunakan firman & RohNya untuk membawa gereja menanggalkan semua yang lahiriah, kedagingan maupun duniawi dan bergerak memasuki keIlahianNya. Dia akan menyingkapkan berbagai pewahyuan firman yang dapat dipakai oleh setiap pemimpin & jemaat untuk ‘membuka pintu keIlahianNya’. Yang mereka harus lakukan hanyalah menjadikan setiap firman tentang hidup dalam keIlahian yang mereka terima dari Tuhan untuk menjadi bahan doa mereka. Camkan firman tersebut, imajinasikan dalam pikiran kita dan mulailah berdoa dalam bahasa Roh. Berdoalah dalam bahasa Roh secara meluap-luap, bersuara & berekspresi penuh. Ketika kita menerima suatu inspirasi/ impresi dalam batin kita berkaitan dengan firman yang sedang kita doakan, deklarasikan hal tersebut! Lakukan terus sampai kita merasakan batin kita jadi bergelora/ berkobar-kobar. Dengan melakukan hal tersebut secara konsisten, kita sedang mengkondisikan diri kita untuk alami bekerjanya kuasa Roh yang akan mencengkeram dan membawa hidup kita memasuki keIlahian & kemuliaanNya (Ibr 4:12, 2 Kor 4:7-14, 16-18, Rom 8:10-11)

Tapi memang terkadang ada saja orang-orang tertentu yang mengalami ‘kesulitan’ untuk dibentuk ulang dengan menggunakan firman dan karenanya harus ‘dikondisikan’ melalui situasi, keadaan ataupun orang-orang tertentu yang Tuhan ijinkan untuk ikut berperan serta mencetak ulang hidupnya.
Biasanya Tuhan harus ‘merancang skenario’ khusus untuk mereka yang ‘mengalami kesulitan’ dalam menjadikan firman sebagai sarana untuk membangun & mengubah diri. Jadi Tuhan akan mulai memakai situasi/ keadaan/ orang-orang untuk ‘mendatangkan api’ guna mengekspose berbagai kemanusiawian/ hal-hal lahiriah yang selama ini masih tersimpan didalam kehidupan orang-orang percaya/ para pemimpin. Dengan hal-hal manusiawi/ lahiriah yang selama ini ‘tersimpan’ didalam hidup orang percaya tersebut mulai ‘diekspose’ karena ‘datangnya api’, yang harus dilakukan oleh orang percaya tersebut adalah BERKATA-KATA untuk ‘membuang’ semua perkara lahiriah/ manusiawi yang sedang diekspose oleh Tuhan tersebut.

Alkitab menggambarkan dengan jelas tentang apa yang akan Tuhan lakukan: Dia akan bertindak seperti api tukang pemurni logam. Sang Tukang pemurni logam akan terus memanaskan api yang ada sampai seluruh kotoran yang masih melekat pada si logam jadi meleleh/ terbakar habis. Setiapkali ada kotoran-kotoran yang muncul/ terekspose, sang pemurni logam akan menyingkirkan kotoran-kotoran tersebut – setiapkali kemanusiawian/ keduniawian dalam hidup kita mulai terekspose, segera pergunakan mulut kita untuk melakukan deklarasi, menyingkirkan/ membuang kemanusiawian tersebut dari hidup kita; lalu mulailah mendeklarasikan datangnya hal-hal Ilahi yang dari Tuhan untuk mulai menyatu dalam hidup kita. Jadi, justru disaat kita sedang marah hebat dengan seseorang, segeralah menyadari bahwa ‘orang itu’ sesungguhnya adalah ‘api pengekspose’ kemanusiawian yang masih ada dalam hidup kita (dalam hal ini, emosi yang tidak terkendali); segeralah berkata-kata untuk membuang emosi negatif yang ada.

Jika aspek kemanusiawian yang masih ada dalam hidup kita adalah mudah terbawa perasaan (mudah baper) – dalam arti gampang tersinggung, kecewa ataupun menyimpan ganjalan terhadap orang lain, dan Tuhan mulai ‘mengirim api’ untuk mengekspose hal tersebut, sadarilah dengan segera bahwa kita sedang dibawa memasuki kelas akselerasi oleh Tuhan! Segeralah berkata-kata dan singkirkan aspek kemanusiawian tersebut lalu kembali berkata-kata untuk mengundang keIlahianNya. Kurang lebih gambaran yang Tuhan berikan adalah sama seperti suatu cangkir yang ada banyak kotoran dibagian dalamnya, dengan dicuci lalu diguyur kembali dengan air maka cangkir tersebut akan jadi bersih. Itulah yang sedang Tuhan lakukan atas hidup kita.
Teruslah melakukan apa yang benar. Saat kita alami penyingkapan Roh yang mengekspose hal-hal duniawi/ kedagingan yang masih ada didalam hidup kita, ‘sekedar bertobat saja’ tidaklah cukup. Dibutuhkan suatu tindakan nyata dari pertobatan kita: mulai melakukan apa yang benar. Semua kesalahan yang pernah kita lakukan hanya bisa dibenahi dengan cara kita mulai melakukan apa yang benar!

Demikian pula dalam ‘kelas akselerasi’ yang harus Gereja masuki, Gereja Tuhan harus mulai melangkah untuk hanya melakukan apa yang benar: Mengkondisikan diri untuk mulai berinteraksi dengan keIlahian & kemuliaanNya…#AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus