Top

20 September 2019

Di saat seseorang baru mengalami peristiwa buruk yang menggoncangkan jiwa atau emosinya, biasanya dia membutuhkan pendampingan untuk kembali bisa menjalani hari-harinya dengan normal. Saat peristiwa buruk itu terjadi, biasanya peristiwa tersebut hanya terjadi selama beberapa saat yang pendek tapi dampak buruk yang dihasilkannya, bisa membekas selama bertahun-tahun, bahkan ada yang menjadi suatu trauma dan mengikuti dirinya untuk sepanjang sisa hidupnya.

 

Tanpa diambil suatu tindakan yang tepat, trauma atau goncangan jiwa yang terjadi tersebut bakal memberikan pengaruh buruk bagi dirinya.

 

1. Orang yang menjadi korban dari suatu peristiwa buruk perlu didampingi oleh orang-orang yang penuh Roh dan hikmat sehingga bisa ditolong untuk kembali hidup secara normal

 

Seringkali orang-orang yang pernah mengalami peristiwa buruk, membawa trauma dalam hidupnya. Bagi saya, ‘trauma’ adalah ‘alat kekang’ yang berhasil dipasangkan oleh Musuh ke dalam hidup seseorang. Tidak peduli seseorang sudah alami kemajuan iman secara menakjubkan, selama ‘trauma’ yang ia miliki tidak dibereskan, dengan mudah Musuh bisa menarik mundur atau menjatuhkan dirinya untuk kembali ada di titik bawah!

 

Tidak mudah bagi seseorang untuk menanggulangi trauma dalam hidupnya, meski sesungguhnya itu hanya ada di area imajinasinya, tapi rasa takut, sakit, malu, kuatir dan berbagai gejolak emosi negatif yang tak terkatakan lainnya terasa begitu sangat nyata bagi orang tersebut sehingga otomatis akan mempengaruhi berbagai pengambilan keputusan yang dibuatnya, bahkan mempengaruhi seluruh aspek kehidupannya! Untuk itulah, dibutuhkan adanya seorang atau beberapa orang pendamping yang bertugas untuk menolong orang yang bersangkutan mengalami kelepasan dari trauma yang ia bawa dalam hidupnya!

 

Biasanya orang-orang yang membawa trauma akan menjalani kehidupannya ‘secara ekstrim’ – misalkan contoh, jika seseorang merasa trauma dengan rumah sakit, dokter, jarum suntik dan yang semacamnya, ia akan jadi orang yang ‘mati-matian’ menjauhi itu semua! Bahkan ketika diminta untuk menjenguk seseorang di rumah sakit pun terkadang ia jadi merasa enggan, dan bahkan memilih untuk menolak permintaan tersebut. Atau bisa juga, orang yang bersangkutan jadi ‘terjebak’ dengan rasa membelas kasihani diri sendiri! Ia jadi orang yang sangat lemah, bergantung, sensitif (mudah tersinggung, marah, sedih dll)

 

Itu sebabnya, dibutuhkan seorang pendamping yang penuh dengan Roh dan hikmat sehingga di saat orang yang membawa trauma dalam hidupnya ‘mulai kambuh’ dan memanifestasikan kualitas hidup yang ‘tidak pada tempatnya’, sang pendamping akan dapat membawanya kembali untuk berpikir, mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan akal sehatnya yang sudah diselaraskan dengan kebenaran firman!

 

Sebagai pendamping, kita tidak boleh menjadi pribadi yang terlalu mendakwa atau menghakimi; tapi di satu sisi yang lain, ia juga tidak terus memberi dispensasi atau mencoba mengerti orang yang sedang trauma tersebut. Adalah tugas sang pendamping untuk dengan hikmat Tuhan dan kuasa Roh dalam hidupnya, ia bisa terus memberi motivasi, menolong mengkondisikan terjadinya terobosan dalam hidup orang yang bersangkutan sampai ia betul-betul mengalami kemerdekaan dari traumanya.

 

2. Segala bentuk trauma sesungguhnya hanya ada dalam pikiran atau imajinasi seseorang, di situlah sumber permasalahannya; solusinya adalah dengan membenahi pikiran dan imajinasi dengan kuasa firman!

 

Filipi 4:8 (FAYH)  Saudara sekalian yang saya kasihi, pada akhir surat ini saya ingin mengatakan satu hal lagi. Arahkanlah pikiran Saudara kepada hal-hal yang benar, yang baik, dan yang adil. Renungkanlah hal-hal yang murni dan indah, serta kebaikan dan keindahan di dalam diri orang lain. Ingatlah akan hal-hal yang menyebabkan Saudara memuji Allah dan bersukacita.

 

Di saat kita sedang dibelenggu oleh rasa trauma, kita akan selalu mendapati bagaimana kondisi kita yang sekarang seperti ‘ditunggangi’ oleh peristiwa-peristiwa buruk di masa lalu, yang ‘kembali hidup’ atau terasa sangat nyata dalam area imajinasi dan emosi kita karena ‘terbangkitkan’ oleh sesuatu. Itulah kondisi ketika alam bawah sadar kita (tempat di mana trauma itu tersimpan) mulai mengambil alih kendali hidup yang selama ini dipegang oleh alam sadar atau daya nalar dan logika yang kita miliki.

 

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang merasa takut dengan seekor kecoa? Bagi nalar kita yang tidak memiliki trauma atas kecoa, tindakan orang yang membawa trauma atas kecoa tersebut sungguh sangat sulit untuk bisa kita terima! Tapi memang ketakutan, rasa jijik, ataupun rasa tidak suka yang menguasai emosi dan imajinasinya sedemikian kuat dan mendikte sehingga menggerakkan orang yang bersangkutan jadi ‘terlihat tidak normal’!

 

Permasalahan yang sesungguhnya sebetulnya tidaklah real; hanya ada dalam pikiran atau perasaannya belaka. Tapi memang terasa sangat real! Itulah sebabnya, bagi orang-orang yang sedang membawa trauma dalam hidupnya, harus dilatih untuk bertekun dalam melakukan perenungan firman!

 

Bagi banyak orang, solusi atas berbagai trauma atau ikatan lain adalah dengan melakukan pelayanan pelepasan; tapi sesungguhnya solusi sejati bukanlah melayani orang yang bersangkutan dengan pelayanan pelepasan tapi justru melatih, memperlengkapi orang yang bersangkutan untuk mengetahui bagaimana cara ‘membawa masuk’ sang Pembebas sejati itu (Firman Hidup) ke dalam kehidupannya. Ketika kita ‘membawa masuk’ Kristus ke dalam hati kita, saat Iblis mengetuk pintu hati kita untuk kembali menghadirkan trauma ke dalam hidup kita, maka Kristus sendiri yang akan membukakan pintu hati kita dan berurusan dengan si Jahat itu!

 

Pastikan sebagai orang percaya kita terus menyelaraskan seluruh aspek kehidupan kita dengan firmanNya, lakukan perenungan firman hingga setiap area kehidupan yang kita miliki jadi diterangi oleh terang kebenaranNya. Ketika terang kebenaran Firman menerangi setiap aspek kehidupan yang kita miliki, segala bentuk kegelapan (trauma) pun harus pergi!

 

Teruslah mendisiplin pikiran kita untuk hanya memikirkan, merenungkan dan mengingat-ingat hal-hal yang membuat kita bersyukur!

 

Yohanes 8:32 (TB)  …dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

 

Saya berdoa di dalam nama Yesus, biarlah kuasa firman dimanifestasikan secara penuh dalam kehidupan setiap orang percaya, membawa mereka mengalami berbagai terobosan dan dimerdekakan dari segala bentuk trauma dan ikatan tipu daya Iblis yang dia pasang dalam emosi atau imajinasi orang-orang percaya!

 

Engkau alami datangnya roh hikmat dan wahyu, yang membuatmu mengenal kebenaran! Dan di dalam nama Yesus, biarlah kebenaranNya memerdekakan kehidupanmu di saat ini. Di dalam nama Yesus, terjadilah! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus