Top

21 Agustus 2019

Kejadian 4:3-7 (FAYH)
Pada musim panen Kain membawa hasil tanahnya sebagai persembahan kepada TUHAN, sedangkan Habel membawa daging anak-anak domba sulung yang gemuk-gemuk sebagai persembahan kepada TUHAN. Persembahan Habel menyenangkan hati TUHAN, tetapi persembahan Kain tidak. Hal ini membuat Kain murung dan marah. Mukanya muram karena geram. “Mengapa engkau marah? ” tanya TUHAN kepadanya. “Apa sebabnya engkau kelihatan muram dan geram? MUKAMU TENTU MEMANCARKAN SUKACITA APABILA ENGKAU MELAKUKAN APA YANG BENAR YANG SEHARUSNYA KAULAKUKAN. Tetapi, apabila engkau tidak mau taat, dan melakukan yang salah, maka berhati-hatilah! Karena sesungguhnya dosa sedang mengincar untuk menyerang dan membinasakan engkau. Tetapi engkau harus mengalahkannya.”

 

Dari ayat di atas, saya disadarkan Tuhan bahwa untuk melakukan hal yang benar, kita tidak boleh mengikuti kondisi emosi kita – ketika emosi kita baik-baik saja, maka kita melakukan hal yang benar; ketika emosi kita sedang buruk atau bad mood, maka kita boleh saja mengekspresikan emosi negatif yang kita rasakan. Orang harus bisa memahami bahwa kita memang sedang bad mood.

 

Justru di saat kita sedang merasakan munculnya emosi negatif – apa pun pencetusnya! Dalam kasus Kain dan Habel, karena Kain merasa bahwa Tuhan sudah ‘berlaku tidak adil’ kepadanya – kita harus segera mengambil sikap untuk mengalahkan emosi negatif tersebut!

 

Dari kisah Kain dan Habel serta teguran Tuhan terhadap Kain, saya belajar beberapa prinsip penting:

 

1. Ketika kita terus melakukan hal yang benar, akan selalu ada sukacita yang mengalir dari dalam batin kita; dan hal tersebut akan terpancar melalui wajah kita.



Ketika kita melakukan hal yang benar, hati nurani kita akan selalu memberikan peneguhannya dalam batin kita; tidak ada tuduhan dari dalam batin kita – kita sedang terus menikmati adanya ‘the right standing before God‘ dalam hidup kita.



1 Yohanes 3:19-22 (FAYH)

Dengan demikian kita akan mengetahui benar-benar, dari perbuatan kita, bahwa kita di pihak Allah. Hati nurani kita akan jernih, sekalipun kita berdiri di hadapan Tuhan. Sebaliknya, jikalau kita mempunyai hati nurani yang buruk dan merasa bahwa kita telah berbuat salah, Tuhan akan merasakannya lebih daripada kita, karena Ia mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan. Tetapi, Sahabat-sahabat yang saya kasihi, jikalau hati nurani kita jernih, kita dapat menghadap Tuhan dengan keyakinan yang pasti. Kita dapat memperoleh segala yang kita minta, karena kita menaati-Nya dan melakukan hal-hal yang menyenangkan Dia.



Dan bukankah hal Kerajaan sorga lebih merujuk kepada aspek kebenaran (the right standing before God), damai sejahtera & sukacita yang berasal dari Roh Kudus? (Rom 14:17) Selama kita terus melakukan hal yang benar, kita akan terus menikmati realita Kerajaan dalam kehidupan sehari-hari kita!



Meski terkadang kita mengalami suatu peristiwa yang membuat kita jadi marah (ada emosi negatif yang tercetus) Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa kondisi tersebut tetap tidak boleh membuat kita jadi melakukan dosa (Maz 4:4, Ef 4:26-27)

2. Emosi negatif yang sedang bergolak – apa pun alasan yang menjadi pencetusnya – menandakan kita sedang dalam ‘keadaan bahaya’ – sedang ada si Jahat yang siap mendorong kita untuk melakukan kejahatan di mata Tuhan; dosa sedang mengincar untuk menyerang & membinasakan diri kita.



Kain pada akhirnya justru melakukan kejahatan – membunuh Habel, adiknya sendiri – pribadi yang seharusnya menjadi penjaga adiknya (apabila Kain melakukan yang benar), justru berubah menjadi pribadi pembunuh karena ia mengikuti dorongan emosi negatif dalam dirinya.



Melakukan hal yang benar adalah sebuah pilihan – di saat kita sedang happy ataupun bad mood. Malah, merujuk pada apa yang Tuhan katakan kepada Kain, justru di saat kita sedang bad mood, kita harus segera mewaspadai diri! Perhatikan berbagai pemikiran & imajinasi yang sedang melintas dalam pikiran kita! Jangan biarkan pemikiran jelek/ negatif berlalu lalang dalam pikiran kita. Segeralah mengambil kendali atas pikiran kita! Paksa pikiran kita untuk mulai tertuju kepada hal-hal yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, yang disebut kebajikan dan patut dipuji; hanya hal-hal itu yang boleh dipikirkan! (Fil 4:8) Untuk mudahnya, paksa pikiran kita untuk kembali tertuju hanya kepada firmanNya!



Jangan biarkan emosi negatif tersebut ‘memberi ide’ untuk kita mencari pelampiasan – dalam bentuk apapun karena segala bentuk pelampiasan emosi negatif akan selalu bersifat merusak! Baik itu merusak diri sendiri atau bahkan berpotensi merusak orang-orang lain yang ada disekitar hidup kita.

3. Sekuat apapun gejolak emosi negatif, sesungguhnya masih tetap ada dalam kendali kita & dengan mudah akan dapat kita kalahkan!



Milikilah suatu ketetapan hati, apapun kondisi emosi yang sedang kita rasakan, kita akan selalu melakukan hal yang benar! Ingatlah selalu, kondisi emosi yang sedang kita rasakan hanya mengindikasikan kondisi/ keberadaan kita dalam alam roh. Jika kita merasakan emosi yang positif, artinya kita sedang aman-aman saja; realita hadirat Tuhan sedang terus melingkupi hidup kita. Puji Tuhan….



Tapi ketika kita mulai merasakan munculnya emosi negatif, itulah saat dimana kita harus betul-betul mewaspadai diri kita! Radar rohani dalam batin kita sedan memberi peringatan untuk kita segera bertindak melakukan ‘serangan balik’ dari segala upaya jahat yang musuh rancangkan atas hidup kita. Segeralah berdoa dalam bahasa roh, lakukan deklarasi firman sampai semua gejolak emosi negatif tersebut jadi padam dan tergantikan dengan gelora/ kobaran firman & RohNya di dalam batin kita!



Jadilah orang yang bertanggung jawab atas diri kita sendiri; pastikan emosi kita terus dibakar oleh api Roh Kudus yang bersumber dari firmanNya! Apapun kondisi emosi kita, teruslah melakukan hal yang benar! #AkuCintaTuhan


Ps. Steven Agustinus