Top

21 April 2020

Saya pernah membaca bagaimana Smith Wigglesworth menjagai hati yang haus-lapar akan Tuhan dan kebenaran-Nya di dalam hidupnya. Dia berkata: “Setiap pagi begitu aku bangun dari tidur, aku langsung mengambil langkah prophetik untuk menari di hadapan Tuhan. Kadang memang tubuh ini seperti bersuara dengan nyaring menolak untuk melakukannya – karena kelelahan – tapi aku tetap paksa tubuhku untuk menari di hadapan Tuhan. Aku mungkin memulai dalam daging, tapi aku selalu mengakhirinya dalam Roh! Tindakan aku memakasa tubuhku menari di hadapan Tuhan adalah untuk memastikan aliran air hidup  sukacita dalam hatiku dapat terekspresi sepenuhnya, tidak ada sumbat-sumbat apa pun yang menghalanginya.

 

Saya mencoba hal tersebut dan memang tubuh ini segera mengeluarkan berbagai macam suara protes atas tindakan yang saya lakukan tersebut! Tapi saya terus mengingat apa yang Smith katakan: Aku mungkin memulainya dalam dagingku tapi aku memastikan untuk berakhir di dalam Roh!

 

Jadi saya terus paksa diri saya untuk menari, berdoa, bernubuat serta melakukan deklarasi sehingga saya betul-betul bisa merasakan bagaimana dinamika keantusiasan kembali berkobar secara penuh dalam batin saya, dan dengan penuh saya mengekspresikannya.!

 

Saya juga pernah membaca bagaimana Smith Wigglesworth secara literally membaca beberapa ayat firman setiap satu jam sekali, tidak peduli aktivitas sosial yang sedang ia kerjakan di saat itu!

 

Wow… membandingkan dengan pemahaman yang Tuhan berikan tentang ‘lapar dan haus akan kebenaran’: Suatu kondisi atau sikap hati seseorang yang mengejar kebenaran atau realita hadirat Tuhan dengan penuh hasrat, penuh semangat – bahkan cenderung mengejarnya dengan rasa kalap.

 

Saya jadi bisa membayangkan seperti apa Smith menjalani kehidupan sehari-harinya dan pada saat yang sama, bagaimana kita seharusnya menjalani kehidupan sehari-hari kita!

 

1 Korintus 9:25-27 (TB)  Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

 

Paulus menegaskan, sama seperti seorang olahragawan menempa fisiknya secara sedemikian rupa – dengan tekun, disiplin, dengan standar yang lebih tinggi dibanding  para penontonnya – dengan tujuan supaya memenangkan pertandingan yang akan ia ikuti. Ia juga mendisiplin dirinya secara sedemikian rupa sehingga ia bisa tetap berfungsi secara maksimal untuk menjawab panggilan Tuhan dalam hidupnya!

 

Saya mau kita juga menyadari hal yang sama, dalam hidup kita ada suatu panggilan Ilahi yang datang dari Bapa. Tanpa kita menjagai hati yang selalu ‘lapar dan haus’ akan Dia – memiliki kecenderungan hati yang mengejar realita Tuhan secara berkobar-kobar, seperti orang yang sedang kalap – maka kita dengan mudah akan dapat di-distract oleh Musuh, dijatuhkan dalam ketidakakuratan dan dihancurkan dalam tipu muslihat si Iblis!

 

Kuncinya adalah pendisiplinan pribadi. Mintalah pertolongan Roh Kudus untuk dapat mendisiplin dirimu sendiri sehingga setiap hari dan setiap waktu kita selalu hidup di dalam dimensi hadirat-Nya – tinggal di dalam Kristus! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus