Top

21 Januari 2020

Dari mengobservasi pekerjaan Roh Kudus dalam hidup sehari – hari, saya mendapati bahwa Roh Kudus adalah pribadi yang menginisiatif doa. Khususnya ketika kita ada dalam kondisi tertekan, sedang mengalami perlakuan ketidakadilan atau perlakuan buruk dari seseorang, ataupun menghadapi suatu fakta negatif yang tidak kunjung berubah.

 

Saat kita menghadapi itu semua, maka Roh Kudus akan mendorong kita untuk berseru kepada Tuhan, dan Ia akan menuntun kita mengucapkan kata – kata yang pasti dijawab oleh Bapa. Jawabannya bukan “tidak“, ataupun “tunggu”, tapi “iya”. Sebab bukan diri kita lagi yang berdoa, tapi Roh Kudus.

 

Roma 8:26-27 (TB) Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.

 

Dari apa yang kita doakan, pertama – tama yang akan diubahkan adalah diri kita terlebih dahulu: Sikap hati, konsep pikir, dan gaya hidup. Roh Kudus akan memberikan kita firman untuk dilakukan.

 

Misalkan Roh Kudus mengarahkan kita untuk mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain, memikirkan janji Tuhan untuk menyingkirkan berbagai pemikiran negatif, lalu memikirkan segala yang baik dalam hidup orang lain. Intinya pikiran kita akan diselaraskan dengan prinsip Filipi 4:8 (akar masalah biasanya dari pikiran, bahkan sakit penyakit pun andil terbesarnya dari pikiran dan perasaan).

 

Dengan demikian, diri kita tidak lagi dipengaruhi oleh faktor eksternal. Mau apa saja yang terjadi, kita tetap berdiri teguh di atas dasar kebenaran (pengenalan akan sifat – sifat Allah) dan hidup dalam damai sejahtera dan sukacita abadi. Prinsipnya Roh Kudus akan terus meng-upgrade hati kita dengan ‘anti gempa’ dan ‘anti gores’ yang makin kuat. Inilah yang membuat kita tidak tergoncangkan. Langit dan bumi akan berlalu, tapi firman-Nya akan tinggal tetap!

Setelah Firman mengubahkan kehidupan kita, barulah perubahan fakta negatif akan terjadi. Dengan sendirinya situasi, kondisi dan keadaan akan berubah. Sebab mereka (situasi – keadaan) hanya meresponi Firman yang keluar dari mulut Bapa yang ada dalam diri kita. Firman Tuhan sifatnya pasti. Semuanya harus menyelaraskan diri dengan Firman. Bahkan apa yang mustahil pun harus menyelaraskan dirinya sehingga menjadi mungkin oleh firman-Nya. Oleh firman itu kita akan mengetahui dan mengalami intervensi ilahi, kita pun akan melihat serta mengalami bahwa segala yang terjadi hanya untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup kita yang mengasihi Dia.

 

Roma 8:28 (AYT) Kita tahu bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan, bagi mereka yang mengasihi Allah, yaitu mereka yang dipanggil sesuai dengan rencana Allah.

 

#AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus