Top

21 Mei 2020

Roma 12:1-8 (TB) Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

 

Perikop di atas berbicara mengenai PELAYANAN TUBUH KRISTUS (manifestasi kepenuhan Kristus melalui gereja-Nya), di mana setiap anggota mempunyai fungsi dan tugas masing – masing. Namun ada banyak ‘individu orang percaya’ yang tidak mau mempersembahkan dirinya untuk terhisap masuk ke dalam ‘SATU TUBUH’. Mereka masih mau berjalan seturut kehendaknya masing – masing. Paulus menegaskan bahwa hal tersebut disebabkan oleh CETAKAN DUNIA yang masih melekat dalam hidup mereka.

 

Cetakan dunia seperti apa yang masih melekat dalam hidup mereka? Mereka memikirkan hal – hal yang lebih tinggi daripada yang patut dipikirkan. Apa maksudnya? Masih ada angan – angan, impian, dan ambisi yang tidak seturut kehendak Tuhan dalam hidup mereka.

 

Contohnya: Dalam satu tubuh ada banyak anggota – ada hidung, mulut, tangan, kaki, mata, dll. Ada banyak orang yang mau menjadi anggota Tubuh yang dianggap ‘teramat penting’. Ada yang ingin jadi tangan dan kaki (dengan asumsi menjadi motor penggerak kegerakan) padahal Tuhan menetapkan ia menjadi (misalkan) ‘bulu hidung’.

 

Ada yang ingin jadi mulut (dengan asumsi menjadi pembicara atau pengkhotbah), padahal Tuhan menetapkan ia menjadi kuku kaki. Ada yang mau jadi mata (harapannya bisa visioner), sedang Tuhan menetapkannya menjadi bulu hidung. Alhasil mereka menolak memainkan fungsi mereka. Mereka ‘menganggap diri mereka kurang terhormat’ jika harus menjadi pribadi ‘yang kurang terlihat’.

 

Paulus menegaskan, untuk terjadinya perubahan pada konsep pikir ada 3 cara yang perlu dilakukan:

 

1. Mempersembahan tubuh

 

Ini berbicara mengenai cinta akan Tuhan yang bergelora dan ikatan janji terhadap Tuhan serta pemimpin kegerakan yang Tuhan tetapkan. Tanpa ada cinta yang murni dan ikatan janji yang suci, tidak akan ada ‘persembahan tubuh’. Oleh karenanya sangat penting untuk terus menjaga hati yang mencintai Tuhan (menolak tawaran cinta dunia, cinta diri sendiri, dan cinta uang) dan ikatan janji yang suci. Tanpa ada hal ini maka langkah pembentukan oleh pekerjaan Roh dan Firman akan sulit tergenapi. Sebab dirinya tidak akan rela dikoreksi, dibentuk, dan juga diajar.

 

2. Mengubah cara berpikir dan arah langkah kaki (berbalik dari jalan dunia ini)

 

Cetakan dunia ini selalu membuat orang menginginkan kesuksesan pribadi, jadi yang terhebat, terkaya, dan yang ‘terbaik’. Sedangkan cetakannya, Tuhan ingin membuat kita menjadi hamba dan hidup dalam kematian daging, serta mati dari ambisi pribadi (Filipi 2). Tidak ada alternatif lain, jika kita memang mencintai Tuhan (ingin hidup memperkenan hati Tuhan) maka dengan mudah kita ‘rela mati’ untuk Dia!.

 

3. Minta Tuhan menyatakan siapa kita di dalam Dia (bicara tentang takaran iman)

 

Betapa penting untuk diri kita mengosongkan diri saat mendesak masuk dalam hadirat-Nya. Jangan bawa ambisi dan angan – angan pribadi atau jati diri yang kita inginkan. Ijinkan Tuhan menyatakan fungsi dan peranan kita dalam satu tubuh. Jika Tuhan menyatakan kita sebagai alis yang menjagai mata, terimalah hal tersebut dan jangan berkeinginan menjadi mata. Jika Tuhan menyatakan diri kita sebagai bulu hidung, terimalah hal tersebut tanpa harus berkeinginan menjadi rambut kepala. Sebab seluruh anggota tubuh sesungguhnya sedang memainkan tugas dan peranannya masing – masing dalam satu roh, satu tujuan, dan satu agenda!!

 

Saya yakin, jika kita berpikir ‘sesederhana’ yang tertulis di atas, maka hidup kita tidak akan menjadi ‘ribet dan penuh masalah’ (mengacaukan tatanan tubuh Kristus), melainkan dengan mudah bersinergi sebab kita memiliki pemahaman yang akurat mengenai pelayanan tubuh Kristus!! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus