Top

21 November 2018

Mengalami berbagai pengalaman Ilahi bersama Tuhan tidaklah menjadi jaminan bahwa kita otomatis jadi hidup dalam keIlahian ataupun kemuliaan Tuhan. Yakub adalah salah satu contohnya. Kitab Kejadian 32 menceritakan secafa detail hal tersebut. Dia sudah bertemu dengan bala tentara sorga (Kej 32:1-2) Seharusnya dia menyadari bahwa tujuan manifestasi perjumpaan dengan bala tentara sorga adalah untuk meneguhkan dirinya, bahwa dia disertai oleh Tuhan! Bahkan sebelumnya Tuhan sendiri yang menjumpai Laban yang sedang marah & mengejar Yakub yang pergi darinya secara diam-diam lalu ‘memaksa’ Laban untuk tetap bersikap baik kepada Yakub (Kej 31:22-42) Tapi semua itu tidak mengubah kenyataan bahwa Yakub masih hidup dalam kemanusiawian & kedagingannya! Saat harus bertemu kembali dengan Esau, Yakub mempergunakan ‘akal liciknya’ untuk ‘menyuap Esau’ dan melunakkan hatinya setelah peristiwa penipuan perampasan hak kesulungan tersebut (Kej 32:3-8) Meski Yakub sudah berdoa kepada Tuhan tapi tetap saja doa-doanya tidak bisa menyingkirkan segala kecemasan & kesesakan hatinya (Kej 32: 9-12) Dalam dia berupaya melunakkan hati Esau dengan berbagai pemberian-pun, dia lakukan dengan ‘strategi’ (Kej 32:13-21) Dia bagi pemberian-pemberian tersebut dalam kelompok-kelompok supaya jika satu kelompok di serang oleh Esau, kelompok lain bisa segera melarikan diri (Kej 32:7-8) Bahkan keluarganya sendiri dia seberangkan terlebih dahulu sementara dirinya sendiri tetap ada di seberang sungai Yabok – mungkin pikirnya, ‘kalaupun seandainya semua pemberian, hamba-hamba & keluargaku di serang oleh Esau, paling tidak, aku sendiri masih bisa melarikan diri’ (Kej 32:22-23)
Kejadian 32:24 (TB) Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing.
Pergulatan antara kemanusiawian & keIlahian akan terus terjadi dalam hidup manusia selama manusia itu ‘tetap hidup’. Itu sebabnya, sebagai orang percaya, kita harus membangun sudut pandang/ perspektif yang kita miliki sebagai orang yang sudah mati! (Rom 6:11)
Pergulatan Yakub dengan seorang laki-laki di pinggir sungai Yabok adalah gambaran dari pergulatan kita – manusia dengan firmanNya! Untuk kita alami perubahan nature – dari yang manusiawi dan kedagingan harus berubah jadi hidup dalam kodrat Ilahi, menyatakan kehidupan yang saleh – kehidupan yang menyatakan kemuliaan Tuhan, maka tidak ada alternatif lain, kita harus terus berupaya untuk ‘menggosokkan firman’ dalam pikiran kita sehingga nature dari pikiran kita (kebiasaan & sifat dari pikiran kita) mengalami perubahan! (Ef 4:23) Tanpa sifat & kebiasaan pikiran ini alami perubahan, diselaraskan dengan firman, maka pergulatan antara hidup berdasar manusia baru dengan kebiasaan dari manusia lama akan terus berlangsung; dan biasanya, kita akan cenderung untuk mengikuti kebiasaan dari manusia lama!
Tapi, masa perubahan sudah tiba! Tuhan sedang membawa gerejaNya untuk hidup dalam keIlahian & kemuliaanNya – membuang semua yang duniawi, kedagingan maupun yang manusiawi! Bahkan ‘semua hal yang baik’, jika hal tersebut manusiawi, Tuhan mau hal itu tetap ‘di potong’ dari hidup kita! Pernahkah kita berbuat baik/ menolong seseorang tapi pada akhirnya kita justru di curangi oleh orang yang kita tolong tersebut? Itulah sebabnya bahkan ‘kebaikan kita’ – sesuatu yang sudah baik, harus menjadi Ilahi – agar tidak ada orang yang memanfaatkan/ memanipulasi kebaikan hati kita! Semua yang ada dalam hidup kita haruslah yang Ilahi saja….
Jadi pastikanlah kita terus berfokus untuk menggosokkan firman dalam pikiran kita; dengan rajin galilah fakta-fakta rohani dari alkitab dan imajinasikan, deklarasikan, bawa dalam doa semua fakta rohani tersebut hingga terbangun menjadi Logika Ilahi dalam hidup kita – sampai seluruh aspek pikiran & kehidupan kita di cetak ulang oleh firmanNya…#AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus