Top

21 Oktober 2019

Keluaran 6:2 (FAYH) Akulah TUHAN, Allah Yang Mahakuasa, yang menampakkan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub—walaupun Aku tidak mengungkapkan nama-Ku, yaitu Yahweh, TUHAN, kepada mereka.

 

Amsal 18:10 (TB) Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.

 

Setiapkali Tuhan menyatakan DiriNya dan melakukan intervensi Ilahi dalam kehidupan hamba-hamba/ umat pilihanNya, Dia selalu menyatakan namaNya; dapat dikatakan bahwa nama Tuhan adalah seperti sebuah password atau portal dalam alam rohani yang mengkondisikan untuk umat Tuhan dari generasi yang berbeda akan dapat mengalami intervensi Tuhan yang sama seperti yang dahulu pernah terjadi/ dialami oleh generasi yang sebelumnya.

 

Gideon merindukan dimensi kedaulatan Tuhan yang pernah dialami Israel, akan kembali dinyatakan di zamannya (Hak 6:13), Daud mengakses dimensi keperkasaan Allah dalam peperangan saat ia harus menghadapi Goliat (1 Sam 17:45-47); bahkan di perjanjian baru, Bartimeus menerima kesembuhan/ mujizatnya karena dia berhasil mengakses dimensi rohani yang ada dalam teriakan/ berseru-seru di daerah Yerikho (ingat, tembok Yerikho di hancurkan karena seruan/ teriakan orang Israel – Yos 6:20, Mark 10:46-52)

 

Ketika umat Tuhan menerima penyingkapan pewahyuan dari Roh Kudus tentang nama Tuhan – God’s Attribute (sifat/ keberadaan Tuhan), umat Tuhan harus mulai membangun dasar keyakinan & logika Ilahi dalam hidup mereka di atas dasar/ di seputar nama Tuhan yang disingkapkan oleh Roh Kudus tersebut.

 

Saya berikan sebuah contoh: Ketika Abram memenangkan peperangan saat melawan raja Kedorlaomer dan sekutunya, ada raja Sodom yang datang menyambut Abram dan menawarkan kekayaan kepadanya asalkan Abram bersedia menyerahkan orang-orang yang berperang bersamanya; tapi Abram menolak penawaran dari raja Sodom tersebut (Kej 14:17-24)

 

Menolak tawaran/ permintaan seorang raja sesungguhnya adalah sebuah kebodohan karena artinya sedang memancing kemarahan sang raja, sedang memposisikan diri untuk menjadi musuh dari raja tersebut. Mengetahui posisi yang Abram hadapi, Tuhan datang dalam hidup Abram dan menyatakan diri sebagai Allah yang melindungi Abram

 

Kejadian 15:1 (TB) Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu….”

 

Ada satu janji firman yang Tuhan berikan kepada Abram: Akulah perisaimu, Akulah pelindungmu; jika ada orang yang mau berbuat jahat terhadapmu, mereka harus berhadapan dengan DiriKu terlebih dahulu!

 

Logikanya, siapa yang bisa menang menghadapi Allah pencipta langit & bumi? Artinya, Abram akan terus (dan seharusnya memang Abram jadi terus menikmati) rasa aman yang tinggi! Bayangkan, yang menjagai dirinya adalah Allah sendiri! Apa yang bisa diperbuat oleh raja Sodom atas hidupnya? Jika mau berbuat jahat kepada Abram, artinya harus berhadapan secara pribadi dengan Tuhan terlebih dahulu!

 

Prinsip di atas harus kita bangun menjadi logika Ilahi dan dasar keyakinan dalam kehidupan sehari-hari! Pada saat kita terus hidup dalam keakuratan, seringkali tanpa kita sadari, kita justru memunculkan banyak orang yang malah memusuhi keberadaan kita! Hal tersebut disebabkan karena memang ada banyak orang yang saking menikmati kursi kekuasaan, ia jadi tidak lagi mencintai kebenaran! Ia jadi hidup dalam kegelapan, dan ia membenci terang kebenaran!

 

Jadi saat kita membawa kebenaran, orang tersebut justru jadi merasa sangat terganggu oleh keberadaan kita! Tapi walaupun ia adalah seseorang yang memiliki kekuatan massa atau mengandalkan kekuatan uang untuk berusaha menghancurkan hidup kita, ia tidak akan pernah berhasil! Yang menjagai diri kita adalah keberadaan Tuhan sendiri! Dengan kepak sayapNya, dengan realita hadiratNya, Dia menjagai diri kita, sama seperti induk ayam yang menjagai anak-anaknya di bawah kepak sayapnya!

 

Saya berdoa, biarlah dasar keyakinan dan seluruh pengambilan keputusan yang kita lakukan, semua didasari atas pengenalan akan Tuhan yang benar, yang dihadirkan oleh Roh KudusNya dalam kehidupan kita! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus