Top

21 September 2018

Saya melihat bagaimana sebenarnya Hana pada awalnya berdoa karena hatinya sangat pedih (1 Sam 1:10), sangat cemas dan sakit hati (1 Sam 1:16). Hana merasa bahwa ia sangat sengsara karena ia tidak memiliki anak, maka ia pun terus-menerus berdoa di hadapan Tuhan (1 Sam 1:12) dan mencurahkan isi hatinya (1 Sam 1:15).
Ketika menyadari hal ini, Roh Kudus memberi saya pengertian bahwa kalaupun starting point seseorang dalam berdoa adalah karena kepedihan hati, dan berdoa untuk meminta kepada Tuhan mengenai kebutuhannya, tetaplah berdoa, terus-meneruslah berdoa di hadapan Tuhan seperti Hana. Saya mendapati bahwa ketika kita terus-menerus berdoa di hadapan Tuhan, nature kita diubahkan. Doa tidak pernah mengubah Tuhan, doa sesungguhnya sedang mengubah nature kita.

Saya merasa bahwa awalnya Hana berdoa dalam kepedihannya meminta Tuhan memberinya anak; tetapi doa-doa yg terus menerus ia naikkan mengubah naturenya, yang pada awalnya meminta anak untuk dirinya sendiri demi tidak terus disakiti oleh Penina, tujuannya menjadi berubah untuk mempersembahkan anak tersebut untuk melayani Tuhan untuk seumur hidupnya. From selfish to selfless life!
Saya melihat bagaimana kedagingan dan kemanusiawian secara otomatis terkikis ketika saya terus berinteraksi dengan realitaNya. Perubahan yang Hana alami dalam hadirat Tuhan melalui doa, ternyata adalah modal besar yang membentuk Samuel menjadi pribadi yang secara naluriah ingin berada di dekat realita Tuhan (Tabut Tuhan) ketika kefasikan sedang merajalela di bawah pengawasan Imam Eli.

Saya mengimajinasikan bagaimana interaksi antara Hana dan Samuel sejak Samuel masih bayi sampai ia disapih, pasti ada banyak benih destiny yang Hana terus katakan kepada Samuel, bahwa keberadaan Samuel adalah jawaban doanya, dan hidup Samuel adalah untuk melayani Tuhan seumur hidupnya. Sehingga Samuelpun bertumbuh menjadi pribadi yang berbeda di masa itu, karena pekerjaan roh destiny sejak ia masih sangat kecil.

Wow, saya melihat bagaimana roh destiny bekerja begitu intens dalam hidup Samuel, membuat Samuel bertumbuh dalam kehausan dan kelaparan akan Tuhan, padahal Samuel belum mengenal Tuhan (1 Sam 3:7), tetapi secara naluriah, ia suka berada di dekat realita Tuhan (tabut Tuhan)!
Menarik ketika saya membaca 1 Sam 2:18-19, Hana membuatkan Samuel baju efod, jubah kecil untuk melayani Tuhan (karena ia memang masih anak-anak), ia berfungsi sebagai orang tua yang memperlengkapi Samuel untuk hidup menjadi pelayan Tuhan, saya percaya ini adalah representasi dari seorang bapa rohani yang terus memperlengkapi anak-anak rohaninya untuk mulai hidup menjadi pelayan Tuhan.

Saya percaya bahwa ketika Samuel terus menerus ada di dekat tabut Tuhan, bahkan ketika ia masih sangat muda, ia menjadi pelayan Tuhan (1 Sam 2:18, 3:1). Menjadi pelayan Tuhan diambil dari kata ‘Sharath’ yang berarti menjadi seorang penyembah, menanti-nanti dan melayani di hadapan Tuhan. Dalam ketidak-mengertiannya, impartasi hati seorang penyembah dari Hana membawa Samuel jadi semakin dekat dengan momen perjumpaannya dengan Tuhan. Hari ini saya berdoa biarlah hati yang menyembah terus ada di dalam hidup kita semua…! #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus