Top

22 Agustus 2018

Message ini adalah kelanjutan dari message kemarin….

3. Kita selalu memanifestasikan buah-buah Roh dalam hidup sehari-hari (Gal 5:19-23)

Hanya ada 2 pilihan. Jika kita tidak memanifestasikan buah-buah Roh, pasti kita akan memunculkan perbuatan daging dalam hidup sehari-hari (Gal 5:19-23). Demikian pula sebaliknya. Karena keduanya ini memang bertentangan, tidak mungkin bisa kita lakukan kedua-duanya.

Seringkali kita “tahu” bahwa kebiasaan yang kita lakukan ini salah dan jika diteruskan akan berakibat buruk, namun seringkali kita jugalah yang mengambil keputusan untuk membungkam hati nurani yang sedang menegor kita untuk kembali berjalan dalam kebenaran.

Karena terus menerus dibungkam, lama kelamaan PADAMLAH hati nurani kita. Tanpa adanya suara hati nurani, mudah sekali bagi kita untuk terjerumus kembali melakukan perbuatan daging tanpa merasa bersalah.

Di sisi lain, tanpa pemberesan hati nurani akan banyak tuduhan si jahat berbicara di hati kita. Kondisi ini menyebabkan kita tidak dapat bertumbuh sebagaimana layaknya. Karena tidak bertumbuh, buah-buah Roh juga tidak muncul, sebagai akibatnya orangpun akan mengenali kita dengan karakter yang buruk, serampangan dalam berkata-kata dan suka bertindak ceroboh. Tanpa sadar kita justru menjadi batu sandungan bagi orang lain. Segeralah bertobat, lakukan pemberesan dan dengarkan kembali hati nurani kita. Dia adalah Allah yang setia dan adil, Dia akan kembali menyucikan hati nurani kita. (Ibr 9:14) Ia membuat kita hidup dalam hati nurani yang murni (Kis 24:16)

4. Kita memiliki dasar hidup: Aku sudah mati bagi dosa tapi hidup hanya bagi Tuhan dan penggenapan rencanaNya (Rom 6:11, Gal 5:24)

Tanpa mensetting pikiran kita dengan dasar ini, kita masih “hidup”. Karena masih “hidup” kitapun mudah tersinggung, mudah ngambek, dan hidup sembrono, dan lain-lain. Di sisi lain kita juga sering merasa lemah tak berdaya hidup dalam kungkungan dosa. Kita menjadi semakin manusiawi dan duniawi. Ubah dasar berpikir kita yang sering berkata; “Saya ‘kan masih hidup, normal-lah kalau saya masih merasa sakit ketika “dicubit”.

Mulai setting kembali pikiran kita dengan berkata “Saya sudah mati bagi dosa, kalo “dicubit” tidak rasa lagi, orang yang sudah mati tidak merasakan apa-apa, Hai dengarlah jiwaku: sekarang saya bukan lagi hidup bagi dosa, tapi bagi Allah!”. Contoh tindakan di atas ini akan menolong kita mensetting pikiran kita, ke logika ilahi.

Saya semakin menyadari untuk hidup dalam roh, pikiran kita ini berperan penting, bukan menjadi musuh kita. Tuhan memberi otak/pikiran untuk menolong kita. Dengan belajar mensetting pikiran kita, pikiran kita akan berhenti menentang dan akan menjadi partner dengan roh kita untuk menggenapi apa yang menjadi firmanNya.

5. Kita melebur dalam rumah rohani berfungsi sebagai bagian tubuh Kristus (Gal 5:25-26)

Mereka yang tidak menjagai dinamika dan pekerjaan RohNya, sulit masuk dalam kehidupan korporat dalam tubuhNya. Karena kehidupan yang individualistis masih akan terus bermanifestasi.

Satu-satunya peranan di dalam tubuhNya adalah sebagai anggota tubuh yang sakit, yang membutuhkan banyak perhatian dan pertolongan. Atau berpotensi memanifestasikan kedagingan untuk merusak tatanan tubuh Kristus yang ada! (1 Tim 1:20, 2 Tim 2:17)

Mari terus bangun standar ilahi ini dan kita akan alami kehidupan korporat yang solid, kuat dan semakin berkemenangan di dalam Kristus. #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus