Top

22 Agustus 2019

2 Samuel 11:1 (TB)  Pada pergantian tahun, pada waktu Raja-Raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, SEDANG DAUD SENDIRI TINGGAL DI YERUSALEM.

Melakukan hal yang benar adalah merupakan kewajiban semua orang – termasuk para pemimpin atau orang-orang besar yang sering mendapat perlakuan instimewa!

Ketika Daud sudah menjadi Raja atas seluruh Israel, pada masa biasanya para Raja pergi berperang, dia justru tinggal di Istananya di Yerusalem; dan itulah awal dari kejatuhannya dengan Batsyeba – istri Uria, salah satu prajuritnya yang paling setia (2 Samuel 11:3)

Saya mendapati, di saat seorang pemimpin mulai memberikan berbagai alasan atau pertimbangan hanya supaya dirinya ‘tidak terus dituntut’ untuk melakukan hal yang benar, ia justru akan menjadi ‘senjata kelaliman’ bagi orang-orang yang ia pimpin (Roma 6:12-13)

1. Seorang pemimpin akan tergoda untuk memanfaatkan karunia, potensi dan berbagai keahlian yang ia miliki – yang menjadikannya sebagai seorang pemimpin umat, untuk kepentingannya pribadi (2 Samuel 11:2)

Biasanya istana Raja dibangun di atas bukit yang tinggi sedang pemandian umum untuk rakyat biasanya ada di bawah sekali; untuk Daud bisa melihat kecantikan dari sosok perempuan yang sedang mandi dari atas sotoh istananya, dibutuhkan mata yang tajam. Ketika seorang pemimpin mulai tidak melakukan hal yang seharusnya ia lakukan, tanpa sadar ia akan mulai memanfaatkan setiap karunia, keahlian dan potensi yang ia miliki untuk memanipulasi orang lain; dan biasanya itu justru adalah orang-orang yang ada di bawah kepemimpinannya sendiri! Itu sebabnya, tidak peduli sesenior apa pun seorang pemimpin, tidak peduli seberapa banyak hak istimewa yang sdh ditawarkan oleh orang-orang yang ia pimpin, seorang pemimpin harus terus memutuskan untuk ia melakukan hal yang benar – di segala waktu dan di semua tempat!

2. Seorang pemimpin dengan mudah akan tergoda untuk memanfaatkan posisi dan otoritas yang ia miliki untuk memanipulasi orang lain (2 Samuel 11:3-4)

Ketika seorang pemimpin mulai ‘terhanyut’ dengan berbagai kemudahan, keistimewaan atau berbagai perlakuan spesial lain yang orang banyak berikan kepadanya, tanpa sadar ia juga akan mulai mempergunakan posisi dan otoritas yang ia miliki untuk memanipulasi orang lain – di saat ia sedang lengah atau lemah, mengalami godaan dari berbagai keinginan hatinya yang sedang ‘terlena’ oleh berbagai perlakuan istimewa. Saya tidak mengatakan bahwa sebagai umat yang dipimpin oleh seseorang, kita tidak boleh membuat perlakuan istimewa untuk para pemimpin; setiap pemimpin wajib dihormati dan dihargai (1 Korintus 16:17-18, Ibrani 13:17)

Tapi sebagai sesama pemimpin, saya ingin mengingatkan, don’t make yourself get used with that things – jangan pernah jadi terlena dengan berbagai keistimewaan yang diberikan oleh jemaat atau orang-orang yang menghargai, mengagumi dan mengasihimu sebagai seorang pemimpin! Kelengahan kita akan justru membuat kita jadi menyakiti orang-orang yang sudah mengasihi kita dengan hidup mereka – kita jadi memanipulasi mereka. Terus dibutuhkan tekad dan keteguhan hati untuk menarik garis tegas bagi diri kita sendiri – khususnya ketika mulai berkaitan dengan berbagai perlakukan istimewa yang diberikan orang banyak kepada kita sebagai seorang pemimpin! Ingatlah selalu bahwa keberadaan kita sebagai seorang pemimpin adalah untuk melayani dan bukan untuk dilayani! (Matius 20:28, Markus 10:45, Yohanes 13:14-17)

3. Ketika seorang pemimpin melakukan hal yang tidak benar dan hal tersebut mulai memunculkan ekses negatif yang berpotensi merusak nama baiknya, pemimpin yang bersangkutan berpotensi menjadi sosok pribadi yang berubah jadi licik, penuh muslihat, kejam dan sangat egois (2 Samuel 11:5-27)

Begitu mengetahui Batsyeba – istri Uria, jadi hamil, Daud-pun segera membuat muslihat untuk menutupi dosanya. Tanpa roh pertobatan, seseorang yang hidup dalam dosa akan cenderung untuk terus menutupi satu dosa yang ia perbuat dengan dosa-dosa yang lain! Mulai dari berbohong, membuat cerita palsu, merancang suatu skenario jahat, sampai tega melakukan plot pembunuhan! Semua itu dilakukan oleh Daud – seorang living legend di Israel!

Terlepas dari setelah ditegur oleh nabi Natan, Daud bertobat (2 Samuel 12) dan pada akhirnya Batsyeba melahirkan Salomo – penerus Raja Daud (1 Raja 1) – nampaknya perjalanan hidup Daud terus saja ‘mengalir’ secara normal, bukan berarti Daud tidak mengalami berbagai konsekwensi negatif akibat ketidakakuaratannya! Tuhan menghendaki untuk kita – apa pun status sosial dan posisi keberadaan kita – untuk bisa terus melakukan hal yang benar di segala waktu, di segala situasi atau keadaan!

Segala bentuk tindakan yang tidak benar akan selalu membawa konsekwensi negatif dan bisa menjadi viral – membawa dampak negatif bagi banyak orang yang berinteraksi dengan diri kita; sebaliknya, setiap kali kita melakukan hal yang benar, kita sedang mengkondisikan perjalanan hidup kita – dan setiap orang lain yang berinteraksi dengan diri kita jadi menjalani perjalanan hidup yang lebih baik, lebih bermartabat dan lebih memperkenan hati Tuhan. #AkuCintaTuhan

Teruslah melakukan hal yang benar!

Ps. Steven Agustinus