Top

22 April 2020

Sementara pikiran saya terus tertuju kepada pernyataan Roh yang Dr. Jonathan David terima dari Tuhan tentang dalam enam hingga tujuh bulan ke depan akan ada aktivitas ilahi di alam roh bagi setiap orang percaya yang mau mendesak masuk dalam hadirat-Nya. Secara tiba-tiba Roh Kudus mengingatkan saya akan ayat berikut:

 

Ibrani 11:6 (TB)  Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

 

Dari ayat di atas, saya merasa Roh Kudus mengajar saya tentang beberapa prinsip berikut:

 

1. Pertama-tama, bangun dasar keyakinan kita bahwa memang dalam enam hingga tujuh bulan ke depan akan ada banyak aktivitas ilahi yang bakal kita alami setiapkali kita mendesak masuk dalam hadirat-Nya – setiapkali kita berdoa, menyembah ataupun membaca firman.

 

Tanpa pertama-tama kita membangun dasar keyakinan kita, setiap doa-doa atau penyembahan yang kita lakukan, tidak akan memiliki daya dorong, atau sama halnya kita sedang berdoa secara rutin belaka – tidak akan ada apa pun yang terjadi selama kita berdoa!

 

Allah itu roh dan dimensi iman juga adalah sebuah dimensi rohani – tanpa adanya dimensi iman di dalam batin kita, adalah mustahil untuk kita bisa menjangkau Tuhan melalui doa-doa ataupun penyembahan yang kita lakukan! Dengan adanya suatu keyakinan dalam batin kita bahwa saat kita berdoa atau menyembah, maka Tuhan akan hadir dan menjamah hidup kita, sesuatu pasti akan mulai terjadi dalam batin kita! Saat seseorang berdoa dengan dimensi iman di dalam batinnya, secara pribadi, Tuhan akan membuka Diri-Nya untuk dapat ditemui dan dijangkau oleh orang yang bersangkutan!

 

2. Dibutuhkan terbangunnya suatu kesadaran akan keberadaan Tuhan dalam pikiran kita pada saat mulai berdoa.

 

Pikiran kita tidak boleh kosong sementara kita mulai berdoa. Pastikan kita mengaktivasi area imajinasi dari pikiran kita. Itu sebabnya dalam pelajaran membangun manusia roh, saya mendorong semua kita untuk mulai berdoa dengan cara mengimajinasikan salah satu janji Tuhan. Dan sementara berkata-kata dalam bahasa roh – mendoakan janji tersebut, secara aktif kita terus mengarahkan pikiran kita untuk mengimajinasikan penggenapan janji tersebut.

 

Dengan memiliki pikiran atau imajinasi yang aktif bekerja terus diarahkan pada penggenapan janji, sesungguhnya tanpa sadar kita sedang menaikkan doa dengan cara yang berbeda. Ingat prinsipnya: doa dan pikiran memiliki kuasa yang sama (Efesus 3:20). Hal ini akan menolong kita untuk dapat melatih atau mendisiplin pikiran guna selalu memiliki kesadaran akan realita Tuhan dan firman-Nya.

 

3. Pastikan dalam konsep berpikir atau dasar keyakinan kita telah terbangun suatu keyakinan bahwa apa pun yang kita lakukan dalam usaha mengejar realita Tuhan, tidak pernah menjadi sia-sia.

 

Seringkali kita alami, setelah beberapa waktu lamanya kita berdoa atau menyembah dan membaca firman, tanpa diduga kita mengalami suatu peristiwa yang tidak mengenakkan. Ada peristiwa buruk atau sesuatu yang tidak kita kehendaki terjadi dalam hidup kita, yang membuyarkan semua dimensi rohani yang kita ‘simpan’ dalam batin kita. Dan kita jadi merasa bahwa semua usaha kita itu jadi sia-sia. Tidak! Tidak ada kesia-siaan di dalam Dia! Mungkin semua sukacita dan kedamaian yang sudah ‘kita kumpulkan’ di dalam hadirat-Nya, seperti lenyap begitu saja gara-gara tadi kita marah-marah akibat peristiwa negatif yang kita alami. Tapi percayalah, semua itu tidak pernah sia-sia! Tuhan tetap memberi upah kepada orang yang bersungguh hati mencari wajah-Nya!

 

Jika dengan segenap hati kita mencari Dia, teruslah melakukannya dengan tekun, dengan setia karena semua jerih lelah dan kesungguhanmu terus sedang Dia amati. Dia bukanlah Allah yang ‘menutup mata’ terhadap semua upaya dan kesungguhan hatimu. Dia yang menyelidiki hati, mengetahui maksud dan tujuan hatimu. Dan Dia memberi upah sesuai dengan kesungguhan hatimu! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus