Top

22 September 2018

Saya percaya, Samuel bertumbuh menjadi pribadi yang sangat tulus karena kedekatanNya dengan realita Tuhan. Saya mendapati bahwa hati yang tulus hanya akan kita dapati ketika kita ada di dalam hadiratNya, karena kedagingan, kekerasan hati, kemanusiawian tidak akan bertahan ketika terus menerus berinteraksi dengan realitaNya!
Di bawah ketidakakuratan Imam Eli, Samuel belajar memiliki roh penundukkan diri dan ketulusan. Memiliki sikap hati yang sangat respek pada pemimpin (walaupun hidup tidak akurat), dan tetap mengikuti arahannya. Memiliki sikap hati yang akurat sebagai orang yang ‘dicurhatin’ Tuhan tentang ketidakakuratan Imam Eli, Samuel tidak menunjukkan ketidak-respekan sedikitpun juga.
Saya percaya kehidupan Samuel sebagai nazir Allah (hidup dalam kematian daging, memikul salib, mengkhususkan diri hidup hanya bagi Tuhan) membawa hidupnya tetap ada di jalan Tuhan. Saya melihat bagaimana Samuel sebenarnya secara aktif menjagai hatinya tetap tahir dan bersih dengan menjalani kehidupan sebagai nazir Allah, sehingga hidupnya tetap ada di jalan Tuhan.

Roh Kudus mengingatkan saya untuk membandingkannya dengan kehidupan Simson, yang sesungguhnya sudah dipilih untuk hidup sebagai nazir Allah, bahkan keperkasaan Tuhan dinyatakan melalui hidupnya, tetapi ia tidak menjagai hidupnya yang sudah dipilih Tuhan, sehingga ia mengambil keputusan yang salah karena mulai ada keinginan-keinginan lain selain mengerjakan rencana Tuhan.

Hari ini saya berdoa, biarlah hati yang terus tertuju hanya kepada Tuhan ada di dalam hidupku. Roh Kudus, jagai aku, agar aku selalu hidup di jalan Tuhan. Saat ini aku kembali dedikasikan hidupku untuk dikhususkan hanya bagi Tuhan, karena aku hanya menginginkan Tuhan, aku tidak izinkan ada attachment dengan dunia/mamon/diri sendiri dalam hidupku. Biarlah hanya ada cinta akan Tuhan, FirmanNya dan rencanaNya! Tidak ada keinginan yang lain!

Samuel telah membangun integritas kehidupannya bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia! (1 Sam 12:1-5)
Membaca 1 Sam 12:20, 23, 24. Ketika membaca ayat-ayat ini ada gelora api Roh Kudus yang besar dalam hati saya, saya dapat merasakan hati Samuel terhadap bangsa Israel. Sesebal-sebalnya Samuel, tetapi tetap saja Ia menasihati (kadang menghardik) bangsa Israel dengan penuh ketulusan. Sama seperti Tuhan, ia tegas, berotoritas, tetapi penuh kasih. Terhadap orang Israel yang jelas-jelas sudah berdosa di hadapan Tuhan, ia bahkan berketetapan untuk tetap akan mengajarkan kepada mereka jalan yang baik dan lurus, ia tetap menyampaikan kapada bangsa Israel bagaimana Tuhan ingin memakai kehidupan bangsa Israel menjadi besar, ia tetap memotivasi mereka untuk terus mengikuti Tuhan, dan beribadah kepadaNya dengan segenap hati! Aku berdoa, biarlah terbangun kualitas hati yang sama dalam hidupku! Melihat dan menyikapi segala bentuk ketidakakuratan dengan keakuratan!

Saya mau terus bertumbuh dalam ketekunan seperti Samuel, dengan terus berasosiasi dengan Firman setiap saat, memperkatakan Firman, mengimajinasikan Firman, dan membawa diri saya menyatu dengan Firman. Sebagai hamba kebenaran, saya beri diri saya untuk menaati setiap Firman Sang Raja dengan sepenuh hati, dan menerima setiap Firman sebagai jati diri saya yang baru! No longer I, but Christ!

Membaca kisah hidup Samuel, saya melihat bagaimana Samuel hidup benar-benar sebagai representasi Kerajaan Sorga. Tidak saya dapati kisah hidupnya sedang mengurusi hidupnya sendiri. Seluruh hidupnya hanya untuk mengerjakan rencana Tuhan, mengurusi umat pilihan Tuhan, menyatakan suara Tuhan dan mengeksekusi setiap FirmanNya!
Saya percaya, bahwa bangsa-bangsa bukan hanya tidak akan mengalami kesunyian rohani lagi, tetapi justru akan hidup dalam kekuatan karena pengayoman tangan Tuhan sendiri. Sebagaimana seumur hidup Samuel tangan Tuhan melawan musuh-musuh bangsa Israel, saya percaya Tuhan berkehendak membangkitkan kita seperti Samuel bagi bangsa ini! Selama Samuel hidup, bangsa Israel menjadi bangsa yang tidak terkalahkan, tidak ada bangsa lain yang bisa menguasai Israel! (1 Sam 7:13) Woww, saya percaya ketika kita sebagai gerejaNya hidup hanya untuk Kerajaan Sorga, tidak lagi sibuk dengan urusan hidup sendiri, Ia membangkitkan kita untuk memerintah dan menjadi representasiNya bagi bangsa-bangsa. Sebagai gereja Tuhan, IA memperbolehkan kita untuk meminta bangsa-bangsa untuk menjadi milik pusaka kita, dan Tuhan memberi kita (GerejaNya) kuasa untuk memerintah atas semua bangsa (Maz 2:6-9, Why 2:26-27) Dan bersamaNya, gereja akan menghancurkan kuasa neraka atas bangsa-bangsa! Saya percaya ini saatnya bangkit gereja yang memerintah! Bangkit generasi yang menggembalakan bangsa-bangsa dengan gada besi! Terjadilah di dalam nama Yesus! Amin! #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus