Top

23 Agustus 2019

Ketika saya membaca ulang perenungan firman yang saya tuliskan tentang melakukan hal yang benar, saya merasa seperti diberikan pengertian atau bisikan Roh: Untuk sungguh-sungguh melakukan hal yang benar, jangan biarkan area alasan atau logika dalam pikiranmu membandingkan langkah ketaatan untuk melakukan hal benar yang memang harus kau lakukan dengan tokoh-tokoh Alkitab mana pun.

 

~ Jangan biarkan area logika atau alasan dalam benak kita menjadikan Abraham yang sedang hidup tidak akurat – mengakui Sara, istrinya hanya sebagai saudaranya (Kej 12 & 20) sebagai suatu pembenaran atas berbagai ketidakakuratan yang kita lakukan sebagai seorang suami atas istri kita masing-masing.

 

~ Jangan biarkan tindakan Musa mengambil istri lagi sebagai tindakan pembenaran atas diri kita yang memang masih hidup dalam ketidakakuratan dalam keluarga (Bilangan 12)

 

~ Jangan biarkan tindakan Daud yang tidak akurat – meniduri Batsyeba lalu merencanakan pembunuhan atas Uria, pembantu atau prajuritnya yang sangat loyal dan mengambil Batsyeba sebagai istrinya sendiri sebagai suatu alasan atau logika atas hidup kita yang memang sudah memiliki niat untuk berselingkuh (2 Samuel 11)

 

~ Jangan biarkan ketidakakuratan yang masih dilakukan oleh tokoh-tokoh Alkitab justru kita jadikan sebagai ‘pembenaran’ atas kehidupan kita yang masih belum mau melakukan hal yang benar!

 

Pendek kata, untuk bisa terus melakukan hal yng benar, kita harus membulatkan tekad dalam hati kita dan terus melangkah dalam kebenaran tanpa peduli lagi apa pun yang menjadi opini orang lain – termasuk berbagai alasan dan logika manusiawi atau duniawi yang masih sering berseliweran dalam pikiran kita!

 

1. Teruslah mengarahkan kecenderungan hati yang kita miliki untuk selalu tertuju kpd kebenaran.

 

Kecenderungan hati yang kita miliki dapat diibaratkan sebagai suatu sistem GPS dalam hidup kita. Jika kecenderungan hati yang kita miliki memang tertuju kepada kebenaran, bahkan di saat kita sudah ‘menyatu’ dengan suatu kumpulan orang yang hidupnya tidak akurat, kecenderungan hati kita tersebut otomatis akan ‘menuntun’ kita untuk meninggalkan kumpulan orang tersebut dan pada saat yang sama, membawa kita untuk bertemu dan meleburkan diri dalam kumpulan orang yang memang mencintai Tuhan dan kebenaranNya!

 

Sebaliknya, jika memang kecenderungan hati kita masih tertuju kepada (kesenangan) dunia ini, somehow, kecenderungan hati kita itu pasti akan ‘membawa kita’ untuk bergabung dengan mereka yang memang masih mencintai dunia ini – bahkan jika kita sudah ada di tengah kumpulan orang yang mencintai kebenaran!

 

2. Teruslah mengarahkan atau mendisiplin pikiran kita untuk selalu tertuju kepada kebenaran firman atau pikiran Kristus.

 

Alkitab menegaskan: Sebab jika pikiran orang dikuasai oleh keinginan duniawi, akibatnya adalah kematian rohani. Dan jika pikiran orang dikuasai oleh Roh, hasilnya adalah hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6 – VMD)

 

Jadi tidak ada alternatif lain, kita harus dengan aktif terus mengarahkan pikiran kita – berbagai imajinasi, logika, argumentasi atau alasan yang kita miliki untuk tetap selaras dengan firmanNya!

 

Yosua 1:8 (TB) Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.

 

3. Teruslah menjagai area emosi dalam hidup kita.

 

Di saat emosi seseorang sedang bergejolak – cenderung memanifestasikan emosi negatif, itu adalah masa-masa rawan. Dapat digambarkan, saat emosi negatif sedang bergolak dalam hidup seseorang, ‘pintu jiwa’ orang tersebut jadi ‘terbuka’ untuk berbagai roh-roh dunia dapat mempengaruhi hidupnya!

 

Itu sebabnya, di saat seseorang sedang merasakan emosi negatif, dia cenderung mendapati area imajinasi dalam pikirannya jadi ‘bergerak liar’ – biasanya muncul berbagai imajinasi atau pikiran yang jelek, jahat, liar – pendek kata tidak selaras dengan kebenaran firman. Emosi negatif yang dibiarkan berlama-lama dalam batin kita juga bakal membuat diri kita tergoda untuk mencari suatu pelampiasan dari emosi negatif tersebut – berhati-hatilah karena emosi negatif tersebut sedang menjadikan keberadaan kita menjadi senjata kelaliman (Roma 6:11-13)

 

Belajarlah untuk segera kembali mengarahkan pikiran kita kepada hal-hal yang baik, yang benar, yang sedap didengar dll. Karena memang dengan kita ‘mengendalikan’ pikiran kita, otomatis kita jadi bisa ‘mengendalikan dan menjinakkan’ emosi kita kembali!

 

Filipi 4:8 (FAYH)

Saudara sekalian yang saya kasihi, pada akhir surat ini saya ingin mengatakan satu hal lagi. ARAHKANLAH PIKIRAN Saudara kepada hal-hal yang benar, yang baik, dan yang adil. RENUNGKANLAH hal-hal yang murni dan indah, serta kebaikan dan keindahan di dalam diri orang lain. INGATLAH akan hal-hal yang menyebabkan Saudara memuji Allah dan bersukacita.

 

Teruslah meminta tuntunan Roh Kudus untuk kita bisa selalu melakukan hal yang benar – di segala waktu, di segala situasi dan keadaan. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus