24 April 2018

Message ini adalah merupakan kelanjutan dari message kemarin…

3. Seorang pemimpin wajib memiliki roh yang lembut, mudah dibentuk, mau diajar & mau berubah; sudah alami peremukan hidup & pembentukan ulang melalui firman & RohNya sehingga menjadi pribadi yang serupa dengan Kristus

Di hari-hari terakhir ini, Tuhan sedang melahirkan suatu generasi yang karena saking mencintai Tuhan, maka mereka rela untuk melakukan apapun yang Tuhan perintahkan – termasuk jika Dia memerintahkan mereka untuk melakukan berbagai hal yang tidak lazim dalam konteks kehidupan sehari-hari mereka. Tapi jenis jemaat seperti ini hanya bisa terlahir dari kehidupan seorang pemimpin yang memang memiliki nature roh yang lembut, mudah dibentuk, mudah diajar & mau berubah sehingga apapun firman, arahan/ pembentukan ulang yang Tangan Tuhan lakukan atas hidupnya tidak lagi membutuhkan pergulatan/ pergumulan.

Tangan Tuhan memiliki keleluasaan untuk mencetak & membentuk ulang hidup sang hamba Tuhan/ pemimpin (dan pada akhirnya menjangkau seluruh jemaat yang ia pimpin) sehingga terlahirlah suatu generasi yang betul-betul hidup dari firman & pembentukan Tangan Tuhan! Tidak ada lagi percampuran dalam hidup sang pemimpin maupun orang-orang yang ia pimpin. Tidak ada lagi pergulatan/ pergumulan antara kehidupan kedagingan dengan kehidupan Ilahi dalam hidup orang percaya (generasi/ umat yang layak bagi Tuhan ini – Luk 1:17).

4. Seorang pemimpin wajib hidup dalam ketergantungan penuh terhadap Tuhan yang sudah memanggilnya dalam pelayanan & meyakini bahwa Tuhan juga akan mencukupi seluruh kebutuhan yang ia dan keluarganya miliki sehingga tidak ada lagi ketergantungan/ ikatan terhadap Mamon yang berpotensi membelenggu kehidupan pelayanan maupun keluarganya

Ketika seorang pemimpin memiliki celah dalam area gaya hidup/ kebutuhan-kebutuhan pada area keluarga lainnya, dengan mudah ia jadi tergoda untuk mengkompromikan prinsip-prinsip fondasional yang awalnya ia pegang teguh hanya demi mendapatkan keuntungan-keuntungan tertentu dari posisinya sebagai seorang pemimpin – ia mulai menjadi seorang pemimpin yang bisa ‘diperjual-belikan’. Jenis pemimpin seperti ini otomatis tidak akan pernah berani jadi mati-matian, gila-gilaan/ habis-habisan demi untuk menggenapkan rancangan Tuhan atas hidupnya ataupun jemaat yang ia pimpin; yang ada dalam pikirannya adalah aku akan ‘habis’ jika jemaat menolak apa yang sedang coba aku lakukan ini.┬áJenis pemimpin seperti ini sudah terjebak dalam zona nyaman dan biasanya menolak untuk melakukan berbagai perubahan yang berpotensi menyebabkan terjadinya ‘gejolak’ di tengah jemaat.

Pada dasarnya, sebelum Tuhan memanggil & menempatkan seseorang menjadi pemimpin, ia sudah memperlengkapi orang yang bersangkutan dengan berbagai perlengkapan rohani yang membuatnya tidak akan pernah jadi kuatir/ mengalami gangguan dalam aspek kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sang Jehova Jireh – sang Penyedia semua kebutuhan kita tersebut sudah menyatakan DiriNya dan memposisikan sang pemimpin jadi selalu hidup dari TanganNya sendiri. Tidak peduli dirinya melayani di tengah kota besar, di ujung desa yang terpencil ataupun bahkan di tengah hutan sekalipun, ia tidak akan pernah berkekurangan! Berkat & pemeliharaan Tuhan selalu cukup dalam hidupnya!

Yang membuat seseorang jadi hidup dalam kekurangan/ di belenggu hutang adalah karena gaya hidupnya yang tidak akurat! Selama seorang pemimpin terus menjalani gaya hidup ‘just enough’, dapat dipastikan bahwa dirinya tidak akan pernah alami kekurangan/ terjerat oleh belenggu hutang.

5. Seorang pemimpin harus berani mati-matian, gila-gilaan & habis-habisan dalam mengejar realita Tuhan serta penggenapan rencanaNya

Tanpa adanya kematian daging (hidup di dalam Roh), terus menyangkal diri & pikul salib, seseorang tidak akan pernah betul-betul bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa & kekuatannya (1 Yoh 2:15) Padahal dimensi mengasihi Tuhan yang seperti inilah yang mengkondisikan seseorang untuk jadi berani mati-matian, gila-gilaan & habis-habisan bagi Tuhan yang ia cintai.

Tanpa seorang pemimpin mengalami kobaran kasih mula-mula, ia tidak akan pernah bisa membawa jemaat yang ia pimpin untuk juga alami kasih mula-mula kepada Tuhan; di butuhkan seorang pemimpin yang karena mati-matian, gila-gilaan & habis-habisan mengejar Tuhan sampai dirinya alami kebangunan rohani secara pribadi, barulah akan terlahir jemaat yang juga hidup dalam kobaran api kebangunan rohani…#AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus