Top

24 April 2020

Sementara melakukan doa pagi, secara tiba – tiba Tuhan memberikan suatu penglihatan kepada saya: Ada seseorang yang mengenakan semacam perlengkapan selam – dengan helm kaca yang terhubung pada satu tabung oksigen sehingga orang yang bersangkutan dapat bernafas secara leluasa seperti normalnya orang bernafas dan bercakap-cakap. Dan orang tersebur melakukan aktivitas sehari-harinya dengan mengenakan perlengkapan selam tersebut.

 

Tiba-tiba, Roh Kudus membuka pengertian saya: Begitulah seharusnya kita menjalani kehidupan sehari-hari kita! Tabung selam yang saya lihat adalah gambaran dari realita hadirat Tuhan yang seharusnya membungkus hidup kita secara sedemikian rupa sehingga kita tidak perlu lagi ‘hidup dari oksigen bumi ini’, kita betul-betul hidup dari ‘oksigen sorga’ – realita hadirat-Nya saja!

 

Sama seperti seseorang tidak bisa hidup di bawah air – itu sebabnya seseorang butuh perlengkapan menyelam dengan tabung oksigennya untuk bisa ‘tinggal dan beraktivitas’ di bawah air untuk beberapa waktu lamanya. Demikian pula dengan keberadaan kita sebagai anak Allah – kaum Ciptaan Baru, kita sudah tidak bisa lagi tinggal dalam dunia ini! Dunia ini sudah terlalu kotor, tercemar dan tidak layak huni! Tapi karena kita masih ‘belum boleh meninggalkan dunia ini’ – masih ada tugas besar yang harus kita kerjakan yaitu membawa terjadinya pemulihan segala sesuatu (Kisah Para Rasul 3:21, Roma 8:19).

 

Jadi dengan kata lain, kita masih harus beraktivitas dalam dunia ini, maka kita membutuhkan realita hadirat Tuhan untuk melingkupi kehidupan kita!

 

1. Habitat kehidupan dari Ciptaan Baru adalah realita hadirat-Nya.

 

Jika kita mengalami ‘kehilangan’ realita hadirat Tuhan, sesungguhnya kondisi kita adalah sama seperti ikan diangkat dari air. Kita bisa dengan mudah dimangsa oleh binatang lain, atau kita akan mati dengan sendirinya!

 

Ketika kita melakukan berbagai kesibukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa adanya realita Tuhan yang melingkupi hidup kita, sesungguhnya keberadaan kita sangatlah lemah, rentan untuk mengalami serangan atau tipu daya dari si Jahat atau berbagai kesibukan, beban dan konflik yang memang bakal kita alami dalam mengerjakan kesibukan hidup sehari-hari. Semua itu secara perlahan tapi pasti, mulai ‘membunuh’ kehidupan rohani kita!

 

Pikiran kita seperti ‘dipaksa’ untuk mulai berfokus pada berbagai urusan yang lahiriah, duniawi. Tanpa kita sadari, musuh jadi mencetak konsep pikir kita kembali jadi manusiawi atau kedagingan. Dan hal tersebut sungguh ‘membunuh kita’!

 

Roma 8:6 (ILT) Sebab POLA PIKIR DAGING ADALAH KEMATIAN, tetapi pola pikir Roh adalah kehidupan dan damai sejahtera.

 

Jadi, tidak ada alternatif lain, dalam kita menjalani kesibukan hidup sehari-hari, kita harus ‘diperlengkapi’ dengan realita hadirat Tuhan!

 

2. Pikiran kita membawa suatu frekuensi (semacam sinyal dalam Hp kita) Saat kita memastikan frekuensi pikiran kita terus selaras dengan firman, otomatis kita pun akan terus mengalami adanya kesadaran akan realita Tuhan dalam hidup kita!

 

Paulus menegaskan, terjadinya perubahan frekuensi dalam pikiran kita yang menyebabkan terbangunnya kesadaran akan realita Tuhan dalam pikiran kita merupakan satu-satunya solusi yang harus kita tempuh!

 

Bagaimana caranya?

 

a. Pergunakan janji-janji firman atau pernyataan Roh yang pernah kita terima sebagai patokan jenis frekuensi yang ingin kita bangun dalam pikiran kita.

 

Pendek kata, kita mau memastikan kecenderungan yang mengejar kebenaran untuk dapat kita miliki dalam batin kita. Demikian pula dengan kondisi emosi yang selalu optimis, penuh dengan keantusiasan – selalu sukacita dan penuh damai sejahtera (Roma 14:17).

 

b. Pergunakan kuasa deklarasi atau perkataan mulut kita untuk men-setting frekuensi pikiran kita.

 

Mulailah lebih sering melakukan deklarasi firman, perkatakan kata-kata yang mempengaruhi, meyakinkan pikiran dan emosi kita. Ingatlah, orang benar akan hidup oleh iman (Roma 1:17). Sementara itu, kata ‘Iman’, dari kata Yunani, Pistis, juga dapat diartikan sebagai berhasil diyakinkan, dipengaruhi, dibuat percaya.

 

Jadi dengan kita terus memperkatakan janji-janji firman atau berbagai pernyataan Roh yang pernah kita terima dengan kata-kata yang meyakinkan. Lalu membuat pikiran, batin dan emosi kita meyakini dengan sungguh sampai terbangun suatu strong conviction dalam batin kita – sesungguhnya kita sedang bekerja sama dengan Roh Kudus untuk menaburkan benih-benih iman dalam hidup kita! Dan tentu saja, apa yang kita taburkan, pastilah juga akan kita tuai!

 

Frekuensi pikiran kita jadi membawa frekuensi firman. Kita jadi hidup dalam frekuensi sorga yang sama dengan keberadaan Tuhan sendiri (Yohanes 1:1).

 

Selama kita terus diselimuti dengan realita Tuhan, maka kita jadi selalu memiliki firman dalam menimbang, menilai serta membuat keputusan saat menghadapi berbagai urusan dalam kehidupan sehari-hari kita!

 

Inilah yang akan membuat kehidupan sehari-hari kita jadi berbeda dan diistimewakan oleh Tuhan dari antara banyak orang yang lain. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus