Top

24 Oktober 2018

Setiap Firman adalah fakta rohani yang harus saya terima dan percayai sebagai sebuah fakta, karena Firman bukanlah opini rohani. Sehingga bukan untuk dikritisi, diragukan, dipertanyakan apalagi dinilai secara logika manusiawi!
Saya merenungkan kisah beberapa tokoh di dalam Alkitab mengenai respon mereka terhadap Firman yang datang dalam hidup mereka, dan saya mendapati bahwa Firman Tuhan pasti jadi (Yes 55:11), tidak peduli apakah pribadi yang mendengar Firman tersebut percaya atau tidak. Sama seperti hukum gravitasi yang tidak bekerja berdasarkan keyakinan manusia akan keberadaan dirinya, seperti itulah Firman. Karena FirmanNya adalah sebuah hukum, pasti terjadi, tidak membutuhkan persetujuan siapapun. Tetapi ada perbedaan yang menyolok di antara pribadi yang mempercayai FirmanNya dan mereka yang meragukan/tidak mempercayainya.

Berikut ini beberapa tokoh yang menundukkan logika manusiawi mereka di bawah Firman yang datang, dan justru mempergunakan Firman untuk membangun logika ilahi dalam kehidupan mereka:
1. Abraham. Sudah menjadi topik pembahasan kita beberapa waktu terakhir ini, bahwa ketika Firman datang dalam hidupnya, ia percaya dan ia mengalami janji Tuhan digenapi dalam hidupnya, dari kemandulan (fakta lahiriah), Ia menjadi bapa kita semua (fakta rohani yang sekarang juga sudah menjadi fakta lahiriah).
2. Maria. Walaupun ia masih tidak mengerti ketika Firman Tuhan datang, tetapi ia menyadari bahwa Tuhan adalah Allah yang berdaulat, ia tidak meragukan ketidakterbatasan Tuhan, terlihat dari responnya pada Luk 1:38, dan dari keterbukaannya terhadap Firman, privilege yang sangat istimewa ia alami : Yesus, Sang Raja segala raja lahir dari kandungannya. Saya mau membangun respon yang sama seperti Maria, dengan selalu meresponi Firman dengan berkata, “Terjadilah padaku sesuai dengan FirmanMu, karena aku ini hamba Tuhan.”
3. Simon Petrus. Walaupun secara lahiriah ia seorang nelayan, dan Yesus adalah anak seorang tukang kayu; tetapi ia memposisikan diri sebagai murid Yesus (Luk 5:5), sehingga ia mengikuti arahan Yesus dalam hal menangkap ikan yang sebetulnya adalah bidang keahlian Petrus sebagai seorang nelayan. Ketaatannya kepada Firman membuatnya menangkap sejumlah besar ikan, bahkan sampai jalanya koyak dan memenuhi dua perahu penuh! (Luk 5:6-7) Tetapi bukan itu poin utamanya, poin utamanya adalah: ketaatannya terhadap firman telah membawanya terhisap masuk dalam kegerakan yang Yesus bawa! (Luk 5:10-11)

Berikut ini beberapa tokoh yang terus mempertahankan logika manusiawi mereka ketika Firman datang, dan menilai Firman dari logika manusiawi:
1. Perwira, ajudan raja yang mendengar Elisa menyampaikan Firman Tuhan (2 Raja 7:1); ia tidak mempercayai Firman tersebut, bahkan ia berkata bahwa sekalipun Tuhan membuka tingkap-tingkap langit, itu mustahil terjadi. Ia meragukan kedaulatan Tuhan! Hasilnya? Firman Tuhan tetap tergenapi (karena FirmanNya adalah hukum), ajudan raja ini melihat tergenapinya Firman Tuhan, tetapi tidak menikmatinya, malah justru ia terinjak-injak dan mati ketika Firman tersebut tergenapi (2 Raja 7:16-17).
2. Zakharia. Ia berdoa untuk memiliki anak (Luk 1:13), tetapi tanpa keyakinan bahwa Tuhan dapat melakukannya, sehingga ketika Firman yang menjadi jawaban Tuhan datang atas hidupnya, ia bukannya bersukacita, tetapi justru meragukan Tuhan! (Luk 1:18) Apa yang menjadi konsekuensinya? Ia menjadi bisu, sampai Firman tersebut tergenapi. (Luk 1:20) Padahal ia seorang Imam! Tetapi ia kehilangan kesempatan untuk dapat bersaksi bahwa Allah menjawab doaNya!
Dari hasil perenungan kisah-kisah di atas, berikut sudut pandang ilahi yang saya set di pikiran dan hidup saya:
1. Saya mau menerima Firman sebagai fakta rohani dalam hidup saya dan mempergunakan Firman tersebut untuk membangun logika ilahi dalam kehidupan saya.
2. Roh Kudus dan saya sedang bekerja sama sebagai satu tim untuk mengerjakan agenda Kerajaan yang membutuhkan terbangunnya logika ilahi. Dalam proses ini, ada suatu misi yang saat ini sedang Roh Kudus jalani bersama saya, yaitu sebuah misi untuk membangun pikiran Kristus dalam pikiran saya yang tadinya menjadi ‘markas’ logika manusiawi yang menentang pengenalan akan Tuhan (2 Kor 10:4-5).
3. Saya harus terus alert dan terus menumbuhkan ketaatan mutlak dalam diri saya, karena Roh Kudus adalah pemimpin untuk misi ini. Saya harus mengikuti pergerakanNya sambil terus aktif mengasah senjata saya (bertekun dan memperkatakan Firman).
4. Ketika ada Firman yang menurut logika manusiawi saya mustahil atau tidak make sense, itulah sinyal dari Roh Kudus yang menunjukkan ‘koordinat lokasi’ dari kubu-kubu yang menentang pengenalan akan Allah dalam pikiran saya, sehingga bersama Roh Kudus, saya dapat secara spesifik meruntuhkan kubu tersebut dan menaklukkannya dengan pikiran Kristus!
5. Ketika ada Firman yang menurut logika manusiawi saya sangat besar, terlalu dahsyat, too good to be true, itulah sinyal dari Roh Kudus untuk saya segera mengambil Firman tersebut seperti Maria (Lukas 1:38), dan mempercayainya dgn terus bertekun dalam Firman, karena sesungguhnya Firman yang datang adalah sebuah privilege yang Tuhan ingin berikan kepada saya sebagai umatNya.
6. Konsekuensi yang akan saya alami jika saya tidak mempercayai Firman adalah: bisu rohani, hidup saya tidak dapat berkata-kata apapun atau menyaksikan apapun mengenai kebesaran Tuhan. Tetapi ketika saya mempercayai Firman, saya memposisikan diri saya untuk bangkit menjadi saksi, menjadi bukti nyata dari kesetiaan Tuhan dan ketidakterbatasanNya!
Terbangun suatu atmosfer yang berbeda ketika saya mulai membangun sudut pandang di atas. Saya menjadi semakin agresif dan aktif untuk bertekun di dalam Firman ketika ada Firman yang bertentangan dengan logika manusiawi saya. Saya begitu bersemangat untuk menemukan fakta-fakta rohani yang memperkuat terbangunnya logika ilahi dalam hidup saya, sehingga logika manusiawi kehilangan tempat sepenuhnya dari pikiran saya!
Saya mendapati bahwa, bahkan dalam keberadaan saya yang masih memiliki kelemahan dan ketidakakuratan, ketika saya memposisikan diri untuk berpartner dengan Roh Kudus, Ia terus membersihkan dan memurnikan hidup saya dari segala kontaminasi logika duniawi. Di saat yang sama, Roh Kudus terus mengajar, melatih dan mendandani kehidupan saya untuk menjadi pribadi yang memiliki pikiran Kristus dan memiliki keperkasaan roh! Saya berketetapan untuk terus aktif mengikuti tuntunan Roh Kudus dalam membangun logika ilahi dengan penuh passion! Amin. #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus