Top

25 Juli 2018

 

Yakobus 1:25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Tuhan menghendaki untuk kita bisa terus berfokus, bertekun dalam merombak nature dari pikiran kita (Ef 4:23) Karena memang pikiran yang belum dibaharui inilah yang menjadi ‘biang kerok’ dari ‘bangkitnya kembali’ manusia lama kita dalam kehidupan sehari-hari (Ef 4:17-32, Kol 3:5-10)
Untuk merombak nature dari pikiran kita, dibutuhkan sikap hati yang penuh minat terhadap firman & ketekunan untuk dengan teliti – satu persatu, menghubung-hubungkan firman dengan kehidupan sehari-harinya!
Kita harus membangun logika Ilahi!

Suka-tidak suka, dalam hidup kita sudah tercetak suatu logika berpikir yang dipengaruhi oleh berbagai informasi, opini ataupun fakta-fakta lahiriah (pola dunia) sehingga seringkali saat firman datang dalam hidup kita dan kita belum juga mengubah nature dari pikiran kita, otomatis logika berpikir kitapun akan segera bekerja dan melakukan ‘system filtering’ (menyaring firman yang datang tersebut dengan logika berpikir kita yang masih membawa pola dunia ini) Biasanya karena memang firman seringkali berkebalikan dengan logika (pola) yang dianut oleh dunia ini, maka pikiran kita yang belum diperbaharui tersebut segera ‘membloking’ firman yang ada.
Bayangkan, mana mungkin untuk seseorang menjadi seorang pemimpin bagi orang banyak, kok justru harus melayani/ menjadi pelayan bagi orang-orang yang ada? (Mat 20:25-28) Bukankah hal tersebut sangat tidak masuk akal? Tapi itulah logika (pola) dunia. Berkebalikan dengan logika Ilahi!
Jadi segera setelah kita menerima firman (yang di sampaikan oleh bapa rohani), kita harus segera menjadikan firman tersebut sebagai bahan dasar untuk mulai membangun logika (pola) Ilahi – menggantikan logika (pola dunia) yang selama ini bercokol dalam pikiran kita!
Bagaimanakah cara membangun logika Ilahi tersebut?
1. Jadikan firman sebagai tolok ukur/ batu penjuru, perspektif dari dasar berpikir kita.
2. Bangunlah suatu logika berpikir yang didasari oleh perspektif firman.
Misalkan, kita ambil perkataan Yesus yang dicatat di Matius 5:43-44:
Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
Logika lama mengatakan: Siapa yg dengan sengaja merencanakan hal jahat terhadap kita, layak untuk menerima pembalasan kita!
Tapi disini Tuhan memberikan perintah yang sulit untuk diterima oleh logika kita yang lama: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu…

Disaat logika manusiawi kita ‘di tantang’ oleh firman, itulah saatnya untuk kita mulai membangun logika Ilahi kita dan meruntuhkan logika manusiawi yang selama ini kita miliki…! (2 Kor 10:3-6)
Disinilah peranan ‘meneliti firman’ dan bertekun dlm firman jadi memainkan peranan yang sangat penting. Ingat, untuk membangun logika Ilahi, kita membutuhkan firman-firman yang lain sebagai tolok ukur dan sekaligus bahan dasar membangun logika berpikir kita yang Ilahi.

Kita mendapati dari ayat-ayat firman lain, bahwa jika kita tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita, maka Bapa disurga juga tidak akan mengampuni kesalahan kita (Mark 11:25); juga, tindakan kita yang tidak mau mengampuni kesalahan orang lain hanya akan membuat diri kita sendiri jadi hidup dalam siksaan batin yang berkepanjangan (Mat 18:21-35)

Berdasar dari dua bagian ayat firman itu saja, kita sudah cukup memiliki bahan untuk membangun logika berpikir Ilahi dan menggantikan logika berpikir (pola) dunia!
“Saya memang harus mengampuni siapapun yang bersalah kepada saya supaya setiap kali saya melakukan ketidak akuratan, dan saya bertobat-meminta ampun kepada Tuhan, Diapun mengampuni kesalahan saya; juga agar kehidupan batin saya selalu tenang, penuh damai dan sukacita….bebas dari berbagai konflik batin….”

Jika dengan tekun kita terus melakukan proses merombak pikiran (logika berpikir manusiawi/ duniawi – Rom 12:2-3) seperti diatas, maka kitapun akan mewarisi pikiran Kristus (1 Kor 2:16) #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus