Top

25 Juni 2018

Pagi ini, saat saya membaca teks Alkitab dalam Yakobus 1:2-3, berbunyi: “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”

Roh Kudus menegaskan kepada saya bahwa alasan kita bisa ‘terjatuh/ masuk’ ke dalam pencobaan adalah karena masih adanya sikap hati atau konsep pikir ataupun gaya hidup kita yang belum akurat.

Yakobus 1:13-14 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.┬áTetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

Jadi dengan kata lain, saat kita harus menghadapi adanya kesulitan hidup – dalam bentuk apapun juga; entah itu berupa konflik batin yang menggerogoti hidup kita akibat mengalami gesekan dengan orang-orang lain, kesulitan ekonomi, permasalahan keluarga, apapun itu – pasti ada aspek ketidak akuratan dalam hidup kita yang menjadi penyebabnya. Jika kita memang sudah membangun keakuratan dalam seluruh aspek hidup kita, kalaupun ada kesulitan hidup yang tiba-tiba menghadang – yang disebabkan karena interaksi kita dengan orang lain, jadi sumbernya ada pada orang lain, bukan diri kita – dengan mudah kesulitan tersebut akan dapat kita tanggulangi.

Yakobus menegaskan, kalau kita sampai terjerumus masuk dalam pencobaan (ada kesulitan/ kesusahan yang kita hadapi) kita justru harus berbahagia. Artinya Tuhan sedang membukakan adanya area hidup yang masih belum akurat dalam hidup kita; jadi sebelum hal tersebut menjadi hal yang membahayakan, sudah bisa segera di bereskan dalam hadirat Tuhan.

Permasalahannya, seringkali kita tidak bisa menemukan akar penyebab dari ketidak akuratan kita – entah itu bersumber dari area sikap hati, gaya hidup ataupun konsep pikir salah yang selama ini masih kita miliki.

Itulah sebabnya Yakobus menasehati kita dengan berkata: Yakobus 1:5 (FAYH) Jika Saudara INGIN MENGETAHUI APA YANG DIKEHENDAKI ALLAH DARI SAUDARA, TANYAKANLAH KEPADANYA, MAKA IA AKAN MEMBERITAHUKANNYA KEPADA SAUDARA. Ia selalu bersedia memberikan kebijaksanaan dengan limpahnya kepada semua orang yang memohonkannya. Ia tidak akan merasa kesal karenanya.

Adalah merupakan kehendak Bapa untuk kita memiliki kehidupan yang akurat dalam segala hal. Tentu saja, ketika kita meminta untuk Dia menyatakan isi hati/ kehendakNya atas hidup kita – menyatakan area mana dalam hidup kita yang tidak selaras dengan keberadaanNya, Dia dengan senang hati akan menyatakan isi hatiNya melalui Roh KudusNya.

Yang harus kita lakukan hanyalah menyediakan tanah hati yang lembut, mudah dibentuk, mau belajar & berubah. Jadi apapun yang menjadi koreksian dari Bapa dengan mudah bisa kita terima, pahami & taati.

Permasalahan utama yang sering membuat kita ‘tidak bisa mendengar’ – baca: tidak siap/ tidak mau mendengar – koreksian dari Bapa adalah karena dari diri kita sendiri, kita memang masih menyukai apa yang tidak akurat tersebut – entah ketidak akuratan tersebut berupa hobi, gaya hidup, dasar pemikiran (kebenaran diri sendiri), kebiasaan atau apapun juga – yang pasti, kita memang belum mau menyalibkan/ mengubah area kehidupan kita tersebut.

Saya berdoa, biarlah hikmat Allah terus Dia limpahkan dalam kehidupan kita sehingga kehidupan sehari-hari kita jadi makin akurat & memperkenan hatiNya. #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus