26 Desember 2020

Tanpa kita sadari waktu telah berlalu dengan cepat. Akhir tahun sudah di depan mata. Dan biasanya, di setiap akhir atau awal tahun, ada banyak orang yang melakukan evaluasi hidup – mencoba merumuskan resolusi atau target-target baru dalam hidupnya. Menanggapi hal tersebut, ada satu ayat yang Tuhan ingatkan kepada saya:

 

Mazmur 90:12 (TB) Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

 

Kata ‘menghitung’ dalam ayat di atas menggunakan kata Ibrani: Mânâh yaitu Memberi arti atau memberi bobot dengan sepatutnya.

 

Jadi dengan kata lain, Tuhan menghendaki untuk pertama-tama kita dapat membangun suatu sikap hati yang mengkondisikan diri kita jadi memberi arti atau memberi bobot atas berbagai peristiwa yang pernah kita alami dalam kehidupan kita. Bahkan atas suatu situasi atau peristiwa buruk yang pernah kita alami dan berusaha kita ‘singkirkan’ dari ingatan kita. Sesungguhnya kita tetap akan dapat memetik ‘mutiara hikmat’ yang akan membuat kita menjadi pribadi yang makin matang atau bijaksana dalam menyikapi kehidupan ini.

 

Saya mendapati bahwa salah satu alasan mengapa seseorang menjadi mudah terluka, trauma atau minimal menyimpan ganjalan terhadap orang lain adalah karena mereka telah gagal untuk memberi arti yang positif atas berbagai peristiwa kehidupan yang mereka jalani. Alih-alih menjadi pribadi yang makin matang atau bijaksana dalam menyikapi kehidupan, mereka justru jadi terluka atau menyimpan trauma.

 

Memberi arti atau bobot (menghitung – Mazmur 90:12) memiliki makna: Mencoba melihat berbagai peristiwa atau situasi yang kita alami dari perspektif atau persepsi yang berbeda dan ilahi – dari sudut pandang Tuhan sendiri.
Pemazmur sedang menaikkan suatu doa dan meminta kepada Tuhan untuk berkenan menyingkapkan pikiran-pikiran-Nya atas setiap peristiwa yang sedang terjadi, sehingga dirinya justru dibuat menjadi pribadi yang makin matang dan bijaksana dalam menyikapi kehidupan yang ada.

 

Saya percaya, sikap hati yang sama seperti pemazmur (Musa) harus kita adopsi dalam hidup kita. Melakukan perenungan akhir tahun dan membuat resolusi-resolusi baru untuk awal tahun menjadi tidak berarti sama sekali kala semua itu hanya tertulis di secarik kertas belaka. Musa menegaskan bahwa dengan meminta Tuhan menyingkapkan pikiran-pikiran-Nya dan menjadikan hal tersebut ‘tertulis’ dalam relung hati kita, maka akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih matang dan bijak dalam menyikapi kehidupan ini. Kita mulai ‘melihat’ – memiliki perspektif dan persepsi Tuhan atas peristiwa-peristiwa yang pernah kita alami.

 

Dengan demikian kita sedang memastikan terjadinya perubahan di alam bawah sadar (ABS) yang kita miliki. Terjadinya perubahan dalam ABS inilah yang memberi kepastian untuk terjadinya perubahan sikap dan perilaku. Ada perubahan dalam kondisi emosi ataupun batin saat kita menjalani dan menyikapi kehidupan sehari-hari kita.

 

Saya berdoa biarlah menjelang akhir tahun ini, tercipta suatu sikap hati yang penuh ucapan syukur dalam batin kita. Mengkondisikan kehidupan sehari-hari kita kembali menjadi ceria, penuh sukacita dan kedamaian yang berasal dari pekerjaan Roh Kudus di dalam batin kita.

 

Sekali lagi saya ucapkan Merry Christmas kepada semua pembaca setia Daily Devotion yang ada. Biarlah kesukaan ilahi sekali lagi memenuhi batin kita. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus