Top

26 Juli 2018

Dalam usaha mensetting pikiran kita untuk hidup seturut firman, seringkali kita alami, firman akan berbenturan dengan logika dan pemahaman yang kita miliki. Logika yang kita miliki, selalu akan mendasari cara berpikir kita dalam mengambil keputusan dan bertindak dalam hidup sehari-hari. Selama logika lama itu tidak dibongkar, tentu akan membuat firman yang kita terima tidak bisa masuk lebih dalam lagi. Firman hanya akan berhenti sebatas informasi atau pengetahuan belaka.

Saya ambil contoh, misalnya kita mendengar pengajaran tentang pentingnya “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul” (Kis 2:42). Dalam pikiran yang belum diperbaharui, bisa saja muncul berbagai logika sebagai berikut:

~ Saya ini jemaat biasa, untuk mendalami firman ‘kan tugasnya para pendeta saja, bukan buat saya.

~ Saya ini orangnya sibuk sekali, mana mungkin punya waktu untuk bertekun dalam firman?

~ Buat apa bertekun? Apakah tidak cukup kalo saya sudah setia ke gereja dan sudah dengar kotbah tiap hari Minggu?

Dengan memiliki logika berpikir seperti ini saja, sudah menjadi tanda dalam pikiran kita sudah terbangun tembok-tembok logika lama yang tanpa sadar akan memblok/menolak prinsip firman yang berbicara tentang pentingnya bertekun, dan paling jauh firman ini akan berhenti sebagai informasi saja!!! Dan sebagai informasi artinya bisa kita tolak dan kita abaikan begitu saja.

Lain halnya jika kita menganggap prinsip firman ini sebagai hukum yang sempurna (Yak 1:25) dalam Kerajaan jika ada orang menolak hukum, pasti akan berhadapan dengan konsekuensi, karena hukum adalah gambaran dari kedaulatan Raja. Ini adalah logika ilahi: jika kita menolak firman, pasti ada konsekuensi dalam hidup kita. Kalau kita memiliki logika ini saja, kita akan mengambil sikap mau melakukan apa saja untuk bertekun.

Dapat kita bayangkan dalam kehidupan sehari-hari pasti masih banyak lagi logika kita yang masih keliru, dan masih berseberangan dengan firmanNya, jika kita biarkan, pasti akan membuat kita tetap hidup secara manusiawi dan duniawi. Tidak bisa hidup sebagai ciptaan yang baru.

Supaya firman benar-benar mempengaruhi dan membongkar logika lama kita, firman itu harus kita teliti dengan penuh MINAT, sehingga firman dapat MASUK ke dalam pikiran, serta MEMPENGARUHI jalan berpikir kita. Dengan demikian logika lama kita yang sudah “karatan” dan “usang” itu akan dibongkar, diganti dengan logika ilahi, yaitu logika yang akurat dan seturut dengan apa yg firman katakan.

Yakobus 1 : 25 Tetapi barangsiapa MENELITI HUKUM yang sempurna, yaitu HUKUM yang memerdekakan orang, dan ia BERTEKUN di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya (hanya sebagai informasi), tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Kata ‘Meneliti’ diambil dari kata parakupto, yaitu: “to stoop to a thing in order to look at it, look into carefully into, inspect curiously” yang artinya membungkuk ke suatu benda agar bisa melihatnya, menatap/ melihat dengan seksama, atau melihat sesuatu yang ada di bagian dalam dengan teliti, dengan penuh rasa ingin tahu.

1. Mencari dengan teliti disertai rasa ingin tahu, pasti didasari oleh adanya MINAT dalam diri kita, sehingga kita rela menginvestasikan waktu untuk mempelajari firman lebih dan lebih lagi.

Tanpa minat, kita hanya menerima dan menelan saja firman tanpa adanya tindak lebih lanjut. Rasa ingin tahu akan membangkitkan rasa PENASARAN yang membuat kita ingin mencari tahu lebih dan lebih lagi hukum yang sempurna itu. Waktu akan berlalu begitu saja, bagi mereka yang digerakkan oleh minat dan rasa penasaran. Bagi mereka yang tidak berminat, waktu akan terasa begitu lama dan membosankan.

Minat juga yang akan mengkondisikan pikiran kita untuk tetap FOKUS dan menyingkirkan apa yang tidak penting dalam proses memilah-milah pencarian kita. Seperti orang mencari sebuah buku di tumpukan barang-barang.

2. Mencari dengan penuh teliti dan penuh rasa ingin tahu akan mengkondisikan pikiran kita menjadi TERBUKA (open minded)  dan pasti kita akan menemukan pengertian dan pemahaman yang baru yang lebih utuh, lebih original, lebih luas dan lebih dalam.

Karena firman berkata mereka yang meminta, menerima, mereka yang mencari pasti mendapat apa yang dicarinya (Mat 7:8 Lukas 11:10).

3. Dengan adanya minat, akan membuat kita BERTEKUN di dalam mempelajari firman.

Bertekun dari kata parameno, dalam bahasa Inggris: to remain beside, continue always near, yang mengandung arti selalu berusaha ada di samping, terus menjaga jarak agar selalu ada dalam jarak yang dekat. Kita mengkondisikan hati dan pikiran kita untuk terus ada dalam kedekatan yang sama dengan firman setiap harinya.

Ketika kita lengah, menjadi kendor, mari kencangkan kembali, sehingga terus ada dalam kekonsistenan yang sama. Cek apakah ada roh yang haus dan lapar setiap harinya. Jika terasa kendor, minta kembali agar Tuhan memberi roh yang haus dan lapar itu (Mat 13:12).

4. Mereka yang mau meneliti hukum yang sempurna ini akan mengkondisikan hatinya untuk menerima harta yang terpendam: logika ilahi yang akan mengubah cara berpikir kita yang lama (Mat 13:44-46).

Orang ini akan mengalami perubahan sikap hati menjadi semakin mati-matian, gila-gilaan dan habis-habisan bagi Tuhan dan penggenapan renacanaNya. Tanah hatinya akan terkondisi menjadi tanah hati yang baik, sehingga firman dapat berakar semakin dalam dan kuat dalam pikiran dan hatinya. Kondisi tanah hati pinggir jalan, berbatu-batu dan bersemak duri, otomatis akan tersingkir dari hidupnya.

5. Terima dan perkatakan prinsip firman (logika ilahi) ini sampai berkobar-kobar dalam batin kita agar termeterai dalam pikiran kita.

Dan alamilah pembaharuan pikiran, menjadi pikiran Kristus. Sudut pandang, cara berpikir kita alami perubahan dengan sendirinya menjadi selaras dengan Roh. (Roma 8:5) #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus