Top

26 Oktober 2018

Message ini adalah kelanjutan dari message kemarin

4. Kembali melihat situasi dan kondisi secara manusiawi akan membuat saya kehilangan platform untuk berjalan di atas Firman! Ketika saya sudah menerima Firman, saya harus latih fokus saya untuk terus melihat FirmanNya!

Mat 14:30 (TB) Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!”
(Kata ‘dirasanya’ berasal dari kata Yunani ’Blepo’ yang memiliki arti: melihat, bersikap hati-hati, mengingat, memperhatikan dengan mata jasmani)
Syarat untuk saya dapat terus berjalan di atas Firman dan menikmati apa yang mustahil bagi orang-orang dunia adalah: mempercayai Firman! Saya mencamkan kepada diri saya sendiri untuk tidak lagi berfokus kepada fakta lahiriah, tetapi justru terus melihat kepada Tuhan, Sang Firman, sehingga keberadaan saya semakin dipengaruhi dengan kuat oleh fakta ilahi yang terkandung dalam FirmanNya! Saya percaya ketika saya terus hidup di bawah pengaruh ilahi dari FirmanNya, fakta ilahi akan segera termaterialisasi menjadi fakta lahiriah! Haleluya!

5. Ketika logika duniawi masih lebih mempengaruhi hidup saya dan membuat saya mulai kembali ‘tenggelam’ dalam kondisi hari yang jahat dan masa yang sukar, Tuhan tidak akan meninggalkan saya, Dia akan bertindak.

Tetapi saya harus menyadari bahwa hal ini adalah tanda peringatan bagi saya krn saya belum hidup sebagai orang benar (karena orang benar hidup oleh iman!)
Matius 14:31 (VMD) Yesus menangkap Petrus dengan tangan-Nya. Ia berkata, “Imanmu sangat kecil. Mengapa engkau ragu-ragu?”
(Kata ‘tanganNya’ diambil dari kata Yunani ’Cheir’ yang melambangkan keaktifan kekuatan dan kekuasaan Tuhan dalam menegakkan, melindungi, menolong seseorang, serta dalam hal menentukan masa depan seseorang)
Kembali dimensi kesetiaan dan kasih Tuhan melingkupi saya dengan kuat ketika membaca ayat ini. Di ayat yang sama saya mendapati bahwa Tuhan memang akan menghardik saya ketika saya tidak hidup oleh iman, tetapi, Tuhan tidak membiarkan saya mati tenggelam! Dia Bapa yang baik, kalaupun saya belum ada pada level yang Tuhan inginkan, Dia bukan Bapa yang akan diam saja ketika saya dilanda badai dan menjadi takut! Saya menyadari bahwa dalam kasih setiaNya, Ia akan menangkap saya dengan tangan-Nya untuk menegakkan keberadaan saya, melindungi saya dan memastikan masa depan saya aman di dalam tanganNya!
Saya berketetapan untuk terus secara aktif dan agresif memperkaya diri saya dengan fakta-fakta rohani, bertekun merenungkannya sampai Roh Kudus memeteraikannya dengan memanifestasikannya sebagai kuasa iman dalam hidup saya! Karena saya menyadari, bahwa memang Dia akan menolong saya ketika saya ada masih ada dalam kondisi lemah, tetapi saya harus aktif melakukan sesuatu! Karena yang Dia kehendaki adalah untuk saya hidup kuat di dalam Tuhan, dalam kekuatan kuasaNya! (Ef 6:10) KesetiaanNya bukanlah excuse bagi saya untuk tetap tinggal dalam kelemahan, justru kesetiaanNya menjadi daya dorong bagi saya untuk secara agresif dan aktif menyelaraskan diri untuk hidup sesuai dengan kehendakNya, bangkit menjadi kuat di dalam Dia, dan hidup hanya bagi Dia dan agenda KerajaanNya!

6. Seringnya melihat kedaulatan Tuhan yang termanifestasi ternyata tidak menjamin logika ilahi sudah terbangun di dalam diri saya.

Markus 6:52 (TB) sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil._
(Kata ‘belum mengerti’ diambil dari kata Yunani ’Suniemi’ yang berarti: mensetting sudut pandang dan menyatukan pikiran)
(Kata ‘degil’ diambil dari kata Yunani ’Poroo’ (berasal dari akar kata ’poros’ – suatu jenis batu) yang berarti: membuat keras kepala, tidak berperasaan, menjadi tumpul, kehilangan kekuatan untuk memahami)
Ketika membaca ayat ini, saya tersentak ketika mengingat bahwa peristiwa ini terjadi persis setelah Yesus mendemonstrasikan mujizat memberi makan 5000 orang! Wow, seharusnya para murid sedang berkobar-kobar, apalagi mereka lah yang membagikan roti hasil mujizat tersebut kepada 5000 orang dan mereka juga yang mengumpulkan sisanya sebanyak 12 bakul penuh! Mereka baru saja menjadi bagian dalam mujizat tersebut! Tetapi, ternyata bagi murid-murid Yesus yang secara fisik sudah terus berinteraksi dengan Dia dan menyaksikan dengan matanya sendiri setiap mujizat-mujizat tersebut tidak menjamin terbangunnya logika ilahi di dalam kehidupan mereka…
Saya mau pastikan saya tidak tertipu dengan merasa bahwa saya sudah mengenal Dia ketika saya sering melihat demonstrasi kedaulatan Tuhan di hadapan saya, saya berketetapan untuk terus aktif membangun logika ilahi dalam hidup saya, mensetting sudut pandang yang saya miliki berdasarkan Pikiran Kristus.

7. Ketika saya mengharapkan keberadaan Tuhan dalam hidup saya, dan memposisikan Dia bertahta dan memerintah atas hidup saya, saya sedang memposisikan diri untuk mengalami akselerasi dalam mencapai destiny yang Dia telah tetapkan bagi saya sebagai hamba KerajaanNya!

Yoh 6:21 (TB) Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.
(Kata ‘mau’ diambil dari kata Yunani ‘Thelo’ yang berarti: berharap, berkehendak, suka, menikmati, mencintai)
Saya mendapati bahwa kehidupan saya tanpa Tuhan adalah seperti perahu yang mudah diombang-ambingkan oleh fakta lahiriah.
Para murid sedang mengalami situasi danau yang bergelora karena angin kencang, situasi fakta lahiriah yang seakan membahayakan mereka.
Mereka sedang terus berusaha mendayung (mempergunakan kemampuan manusiawi) untuk mencapai ke tujuan mereka (tempat yang Tuhan arahkan untuk mereka tuju – Matius 14:22), tetapi ketika mereka bersedia untuk ‘mengizinkan’ Yesus naik ke dalam perahu mereka, seketika itu juga perahu tersebut sudah sampai ke pantai yang mereka tuju. Padahal pada awalnya mereka begitu bersusah payah, bergerak dengan begitu pelan menuju ‘destiny’ mereka (Yoh 6:21 AMP).
Bagian ini berbicara begitu kuat bagi saya, saya mau terus memastikan Kerajaan Keakuan sepenuhnya tersingkir dari hidup saya, saya rindu keberadaan Tuhan ada di dalam hidup saya bukan karena keberadaanNya yang omnipresent saja, tetapi karena memang saya berharap, saya menyukai dan menikmati keberadaanNya ada dalam kehidupan saya. Saya percaya, apapun yang Tuhan arahkan untuk saya lakukan saat ini, semustahil apapun itu, sebesar apapun badai yang menghadang, tetapi ketika saya memposisikan Dia menjadi Pemilik dan Raja atas kehidupan saya, saya tidak perlu bersusah payah mencapai destiny yang Tuhan tetapkan bagi saya. Karena keberadaanNya, ketidakterbatasanNya akan begitu saja membawa saya mencapai destiny yang telah Ia tetapkan bagi saya untuk berdaya guna bagi KerajaanNya! Terjadilah di dalam nama Yesus, Amin!! #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus