Top

26 September 2018

1 Samuel 1:6-7 Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya.
Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan.
1 Samuel 1:9-11 Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN, dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu.
Kemudian bernazarlah ia, katanya: “TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.”

1. Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.

Saya mendapati bahwa meski awalnya Hana mengalami sesuatu yang buruk, rahimnya tertutup dan menerima perlakuan-perlakuan jahat dari Penina dalam kurun waktu yang cukup lama… itu bukanlah akhir dari segalanya. Seandainya Hana salah meresponi dengan mengandalkan kekuatannya sendiri atau tenggelam dalam kepahitan, tentu dia tidak pernah mengalami kemenangan, hidupnya akan semakin terpuruk dan bertambah buruk.
Namun dengan Hana berinisiatif mencari dan mengandalkan Tuhan, melalui doa yang dinaikkannya, ia mendatangkan “keajaiban besar” dengan lahirnya nabi Samuel yang “menggembalakan bangsa Israel dengan tongkat dan gada besi’; selama hidupnya musuh tidak bisa menang terhadap Israel (1 Sam 7:13-14)
Samuel juga menciptakan impact yang besar dan kekal lewat pelayanannya, dengan membangkitkan Daud, Raja Israel dengan kepahlawanannya yang perkasa, kelak dari garis keturunan Daud lahir Yesus Kristus, Raja Segala Raja.
Saya percaya Tuhan adalah Allah yang berdaulat. Dia mengawasi hari-hari kita dan Dia turut bekerja dalam segala sesuatu, termasuk mengubah yang buruk menjadi kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. (Rm 8:28)

2. Doa sebagai sarana mencurahkan hati di hadapan Tuhan.

Karena satu dan lain hal, kadang Tuhan ijinkan ada hal-hal buruk terjadi. Kondisi itu dapat membuat hati kita terluka, membuat emosi kita jadi negatif dan berpotensi menjadi kepahitan, atau ledakan kemarahan.
Di saat-saat seperti itu, kita sering merasa ingin mencurahkan isi hati kita kepada orang lain. Dari kisah Hana, saya belajar daripada kita mencurahkan isi hati kepada orang, lebih baik kita mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan. Karena kala kita “curhat” kepada orang, selain berpotensi mencemari orang yang kita ajak bicara, bisa jadi kita malah menerima inputan yang tidak akurat yang membuat hati dan pikiran kita tambah tercemar dan pengertian kita menjadi gelap.

1 Samuel 1 : 15 Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku MENCURAHKAN ISI HATIKU DI HADAPAN TUHAN.
Alkitab terjemahan Versi Mudah Dibaca mencatat: “aku telah MENGELUARKAN SEMUA KESUSAHANKU KEPADA TUHAN DALAM DOAKU”

Setelah curhat dengan Tuhan, maka sesuatu yang ilahi terjadi, Hana yang tadinya begitu sedih dan tidak mau makan meski dibujuk oleh Elkana, suaminya; sekarang mau makan dan WAJAHNYA MENJADI CERAH kembali. (1 Sam 1:18 VMD). Dari ayat firman tersebut ada sebuah prinsip rohani: meski kita memulai doa dari daging, pastikan kita mengakhirinya di dalam Roh. Saat kita terus menerus berdoa, sesungguhnya ada aliran sungai kehidupan yang mulai memancar dari hati kita, dan membersihkan semua kekotoran dan pencemaran di dalam hati kita, membuat hati kita menjadi tahir, bersih. Pada gilirannya wajah kitapun menjadi cerah, senyum kembali mengembang, tanda damai sejahtera dan sukacitaNya memenuhi hati kita.

3. Doa yang lahir dari roh (hati) sanggup menjebol semua kebuntuan rohani.

Pada masa itu firman Tuhan jarang, penglihatan-penglihatan tidak sering, atmosfir rohani diselimuti oleh kekelaman, bahkan imam-imam yang bertugas hidup dalam kefasikan. (1 Sam 3:1, 2:11-17).
Sepertinya tidak ada atmosfir rohani yang kondusif untuk benih firman datang, apalagi bertumbuh. Doa Hanapun awalnya berasal dari kepahitan karena dihina oleh Penina. Namun terlepas dari apapun yang kita alami, doa yang lahir dari hati, sanggup MENGAKTIVASI ROH TEROBOSAN utk bekerja. Roh terobosan yang menyertai doa Hana sama seperti “secercah cahaya di kegelapan malam” dan menciptakan sebuah terobosan di alam roh!
Setelah Hana menyerahkan anaknya Samuel ke dalam penjagaan imam Eli, kembali Hana memanjatkan doa-doanya. Saya mendapati doa Hana berasal dari inspirasi Roh, karena dari rangkaian doa yang ia naikkan (1 Samuel 2:1-10), terlihat jelas bahwa Hana begitu mengenal sifat-sifat Tuhan.

Yang Hana deklarasikan adalah:
-Dia adalah Tuhan yang berdaulat dan berkuasa
-Dia adalah Tuhan yang kudus dan tak tergoncangkan
-Dia adalah Tuhan yang sanggup menciptakan yang tidak ada menjadi ada
-Dia adalah Tuhan yang mematikan dan menghidupkan
-Dia adalah Tuhan yang meninggikan dan merendahkan orang
-Tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri, bergantung kepada Tuhan
-Dia adalah Tuhan yang memerintah, mengangkat dan menurunkan raja.

Saya yakin, doa-doa yang terus diinspirasi oleh dimensi profetis akan mampu menghadirkan perubahan yang nyata di alam lahiriah. Kondisi yang tidak menentu, kekelaman di sekitar kita, bahkan yang melanda negeri kita dan bangsa-bangsa akan sanggup diterobos dan dijebol oleh doa-doa yang diinspirasi oleh Roh. Doa-doa seperti itu akan sanggup membuka langit, menciptakan suatu atmosfir rohani di alam roh dan melahirkan perubahan yang nyata di muka bumi ini!
Bertekunlah dalam doa dan terus panjatkan doa-doa yang diinspirasi oleh Roh, maka sesuatu yang ilahi pasti terjadi dalam hidup kita! #AkuCintaTuhan
Ps. Steven Agustinus