Top

27 Agustus 2018

Ketika saya berdoa pagi ini saya semakin disadarkan bahwa pekerjaan firman dan Roh seharusnya semakin berkobar (semakin intense) dalam kehidupan orang percaya. Ada roh doa yang menyala-nyala, selalu diselimuti oleh gelora pekerjaan firman dan roh setiap hari. Adalah tidak wajar jika kehidupan orang percaya terus alami penurunan atau kesuaman. Kita harus menyadari bahwa pekerjaan roh-roh dunia ini memang selalu berusaha mengkondisikan apapun alami PENURUNAN dan menjadi semakin PASIF.

Seperti segelas air panas yang ditaruh di meja dalam hitungan beberapa menit akan berubah menjadi dingiin. Seperti nyala api unggun jika dibiarkan lama kelamaan menjadi padam, demikianlah gambaran kehidupan dunia ini selalu membuat segala sesuatu yang “panas” menjadi “dingin”,  yang “menyala-nyala” menjadi “padam”.

Di sisi lain, kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup akan membuat orang semakin pasif. Orang yang kuatir, tidak berani melangkah, ia selalu takut memulai perubahan. Orang yang kaya, dapat terjebak ingin menyelesaikan segala sesuatu dengan uang, ambil jalan pintas tanpa melalui proses. Orang yang mengejar kenyamanan/kenikmatan hidup cenderung ingin tinggal di zona nyaman.

Ketiga mentalitas ini membuat orang mengalami kepasifan: selalu berkeinginan alami terobosan tanpa membayar harganya. ingin alami kemenangan tanpa pengorbanan. Selalu ingin dilayani daripada diperlengkapi. Sehingga tidak terjadi pertumbuhan yang sehat di dalam Kristus Yesus.

Lukas 8 : 14 Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan DALAM PERTUMBUHAN SELANJUTNYA mereka terhimpit oleh KEKUATIRAN dan KEKAYAAN dan KENIKMATAN HIDUP, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.

Bagaimana supaya kita tidak alami penurunan dan tidak dibelenggu kepasifan?

1. Miliki roh yang aktif

Bangun kebiasaan yang baru dalam hidup kita: belajar menanggulangi segala bentuk kepasifan rohani. Dalam hidup sehari-hari belajarlah mendeteksi adanya kemalasan mulai mendekat, misalkan: mau berdoa malas, mau baca firman merasa bosan ataupun mulai “mager” (malas bergerak) itu adalah pertanda bahwa roh kemalasan mulai mendekat dan berusaha mempengaruhi kita.

Segera usir dengan BERTINDAK AKTIF, lawan, jangan diam saja. Dengan bertindak aktif, maka kita mulai menginjak-injak kedagingan kita, kita mulai mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, karena ada pengorbanan (sacrifice) di sana.

Dalam berdoa jangan hanya berdoa di dalam hati saja, tapi biasakan mulai mempergunakan mulut kita untuk berkata-kata, minimal perkatakan sampai engkau mendengarnya dengan jelas. Demikian pula dalam ibadah jangan hanya pasif dan manggut-manggut saja ketika penyembahan ataupun penyampaian firman, tapi mulai aktif dengan meresponinya. Berkata yes, amin atau mengangkat tangan ketika menyembah.

Saya mendapati tubuh kita ini didesign Tuhan untuk selalu aktif dan bergerak. Seorang yang lumpuh, bagian kaki/tangannya lama kelamaan akan mengkerut dan menjadi kurus/mengecil karena tidak pernah digerakkan.

Dari sini kita dapat belajar, miliki roh yang aktif, terus bangun sampai menjadi nature ilahi, dan kita akan melihat nature kemalasan, kepasifan terusir keluar dari hidup kita.

2.Terus jaga kobaran api roh yang ada menyala

Musuh dalam kegerakan (movement) adalah kemandekan (monument). Pastikan dalam diri kita selalu terbangun kebiasaan untuk berdoa dengan kuat mendesak dalam hadiratNya sampai kita rasakan ada jamahan Tuhan, atau adanya api roh yang mulai berkobar-kobar dalam batin kita.

Kebiasaan orang percaya seringkali berdoa dalam hati saja sambil melipat tangan, pikirnya Tuhan pasti bisa mendengar doanya. Ya itu benar, namun masalahnya telinga kita tidak mendengar apa yang kita ucapkan! Dalam berdoa sesungguhnya bukan Tuhan yang akan kita ubah, namun KITA YANG HARUS DIUBAHKAN setelah berdoa!

Kebiasaan lain yang sering terjadi: kita berdoa supaya Tuhan mendengar apa yang kita ucapkan. Namun seharusnya kita belajar MENDENGAR APA YANG DIA UCAPKAN.

Wahyu 2 : 7 SIAPA BERTELINGA, hendaklah IA MENDENGARKAN APA YANG DIKATAKAN ROH kepada JEMAAT-JEMAAT: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.”

Jika kita telusuri lebih lanjut firman ini: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” hal ini ditulis sampai 7x dalam Wahyu pasal 2 dan 3, artinya memang kita sebagai jemaat (gereja-Nya) harus belajar menyelaraskan frekuensi kita untuk mulai mendengar apa yang Tuhan sampaikan kepada kita.

Mulailah dengan belajar mendengarkan diri kita berkata-kata sewaktu berdoa. Kita bisa mengambil prinsip firman yang sudah diajarkan oleh Bapa Rohani dan coba imajinasikan hal itu mulai terjadi dalam diri kita. Selaraskan frekwensi pikiran kita dengan prinsip firman yang ada.

Berdoalah dalam bahasa roh, mulai rasakan bahasa roh yang kita ucapkan bisa membangun atau tidak, jika masih merasa kosong, ubah/minta kata-kata yang baru dari Roh Kudus. Ketika kita mulai ucapkan dan mulai rasakan ada gelora dalam batin kita, itu pertanda ada pekerjaan firman dan roh.
Terima impresi atau kata-kata Firman yang Tuhan beri, perkatakan dengan bahasa Indonesia, sampai terbangun kesadaran akan hadirat Tuhan.

Api roh yang sudah berkobar ini harus dijaga. Dengan demikian pelita dalam diri kita akan terus menyala dalam hidup kita. (Ams 20:27)

Amsal 13 : 9 Terang orang benar bercahaya gemilang, sedangkan pelita orang fasik padam.

Ketika pelita kita padam, kita akan mulai terkondisikan seperti orang fasik. Jadi JANGAN KENDOR, Itu kuncinya. #AkuCintaTuhan

Message ini masih akan berlanjut besok….

Ps. Steven Agustinus