Top

27 Agustus 2019

Sepanjang hari ini, saya merasakan ada kerinduan akan Tuhan yang bergelora dalam batin saya. Ketika saya sedang membangun manusia roh saya hari ini, saya merasakan adanya gelora hati yang mencintai Tuhan yang kembali membakar hidup saya, dan Roh Kudus mengaktivasi bekerjanya roh penyembahan yang menuntun saya untuk memasuki Ruang Tahta-Nya lebih dalam lagi.

Dalam cengkeraman realita hadiratNya, sambil terus menyembah, saya merasakan Tuhan menjamah kehidupan saya dan muncul suatu kesadaran yang begitu kuat bahwa sesungguhnya ketika Tuhan menjamah kehidupan saya, Ia sedang mengingatkan saya bahwa saya adalah milik-Nya! Itu sebabnya Tuhan menjamah saya! Inilah kesadaran yang Roh Kudus sedang terus bangun dalam kehidupan saya hari-hari ini, yaitu bahwa saya adalah milik kepunyaan-Nya.

Roh Kudus membawa saya untuk merenungkan dan menyadari bahwa saya adalah mempelai wanita Kristus. Seperti secara lahiriah, seorang wanita hanya boleh dijamah oleh suaminya; seperti itulah seharusnya saya menjagai dan menjalani kehidupan saya sebagai milik-Nya. Seketika dimensi kekudusan Tuhan melingkupi keberadaan saya, membawa saya menyadari bahwa seluruh keberadaan diri saya, seluruh aspek dalam hidup saya, seharusnya hanya boleh dijamah dan dipakai oleh Tuhan sebagai Pribadi yang memiliki saya. Saya mau menjadi mempelai wanita Kristus yang hidup dalam kekudusan dan kesetiaan terhadap Kristus, karena saya mencintai Dia!

Saya percaya, sudah seharusnya wujud nyata dari cinta dan komitmen setia saya kepada Kristus terwujud nyata dalam bentuk menjagai diri saya untuk senantiasa menjadi senjata kebenaran di tanganNya, artinya, saya tidak boleh mengizinkan roh yang tidak berasal dari Tuhan utk ‘menjamah’ dan memanifestasikan dirinya melalui kehidupan saya.

Sebagai mempelai wanita Kristus, saya mau menjagai kecenderungan hati saya untuk terus tertuju hanya kepadaNya, saya mau pastikan terus terjadi pembaharuan akal budi yang membawa saya mewarisi pikiran Kristus, karena saya rindu hidup seturut kehendakNya dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef 4:23-24). Saya mau memastikan seluruh aspek kehidupan saya hanya dipakai seturut kehendakNya, dan hidup saya hanya boleh disentuh oleh PribadiNya.

Saya tidak izinkan lagi diri saya ‘dijamah’ oleh roh dunia, apalagi ‘dicengkeram’ oleh roh dunia; yang wujudnya seringkali berupa munculnya imajinasi dan keinginan yang najis, yg tidak seturut kehendak Tuhan, emosi yang tidak ilahi (marah, kuatir, takut, sakit hati), dll. Saya tidak izinkan roh-roh dunia menggunakan hidup saya menjadi senjata kelaliman, untuk memanifestasikan dirinya melalui ucapan ataupun tindakan yang tidak akurat. Saya bangun kesadaran ini dalam diri saya, bahwa saya sudah mati terhadap dosa, dan saya hidup hanya bagi Tuhan, saya adalah milik Kristus! (Rm 6:11-13, 2 Kor 5:15)

Secara spesifik, Roh Kudus membawa saya menelaah dua aspek kehidupan saya, yang saat ini menjadi agenda Roh Kudus untuk saya evaluasi dan selaraskan agar berfungsi seturut dengan kehendak Allah. Karena saya diciptakan serupa dan segambar dengan Dia, sudah seharusnya setiap aspek hidup saya berfungsi seturut dengan kehendak Pencipta-nya.

Dua hal tersebut adalah:

1. Hati dan perasaan yang saya miliki diberikan Tuhan kepada saya untuk dapat terkoneksi dengan Tuhan, untuk dapat merasakan kasihNya yang berlimpah dalam hidup saya, untuk dapat merasakan perasaan Kristus, dan juga untuk mencintai Dia serta mengalirkan kasihNya bagi orang lain (Fil 2:5).

Bukan untuk merasakan emosi negatif ketika ada hal negatif tertentu terjadi, tetapi hati dan perasaan saya ada justru untuk menjadi channel Tuhan mengalirkan kekuatanNya melalui sukacita dan damai sejahtera yang melampaui segala akal yang Dia sediakan bagi saya. Dalam segala situasi, hati dan perasaan saya terjaga aman di dalam limpahan kasihNya.

Hati dan perasaan saya juga Dia berikan agar saya dapat ambil bagian dalam perasaanNya (memahami perasaanNya), sehingga saya dapat berfungsi sebagai saluran kasihNya bagi orang lain. Karena melalui fungsi hati dan perasaanlah saya dapat merasakan apa yang Dia rasakan. Sebagai contoh, ketika saya dapat merasakan belas kasihan Bapa untuk orang-orang di sekitar saya, saya dapat menjadi pribadi yang berfungsi mengalirkan belas kasihan Bapa untuk menjamah dan memulihkan orang-orang di sekitar saya.

Hati dan perasaan saya tidak boleh justru saya pakai untuk menghakimi kehidupan orang-orang di sekitar saya; tidak peduli setidak akurat apapun kehidupan mereka, namun fungsi dari hati dan perasaan saya adalah untuk berfungsi memanifestasikan DiriNya. Sehingga biarlah ketika ada teguran yang perlu saya sampaikan kepada orang-orang di sekitar saya, hal tersebut bukan merupakan luapan dari amarah/emosi manusiawi dari diri saya, tetapi merupakan ekspresi dari kasih Kristus yang menegur mereka, di mana ketegasan, ketulusan dan kasih yang sempurna itu nyata secara bersamaan.

2. Waktu yang saya miliki, Ia berikan untuk saya pakai seturut kehendak dan rencanaNya, untuk melakukan hal yang benar, yang berguna, produktif dan membangun.

Tidak boleh ada lagi waktu yang terbuang sia-sia karena sibuk memikirkan atau mengerjakan hal-hal yang tidak membangun. Tetapi di saat yang sama, tidak boleh juga menjadi ‘gila kerja’, karena bahkan waktu istirahat pun menjadi waktu yang produktif bagi saya ketika saya betul-betul hidup akurat untuk mengerjakan rencanaNya.

Saya berdoa Roh Kudus terus menolong saya untuk mengevaluasi dan menyelaraskan setiap aspek hidup saya, satu-per-satu dengan detail, untuk dapat berfungsi seturut kehendakNya. Saya rindu saya betul-betul dimiliki oleh Tuhan, bukan hanya secara ‘de jure’, tetapi sampai secara ‘de facto’ saya dimiliki oleh Tuhan; karena memang saya adalah milik-Nya! Amin. #AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus