Top

27 Februari 2020

      270220_Renungan_Ps_Steven_Agustinus

Saat kita konsisten membangun hidup kita hanya dari firman Allah, maka jati diri kita sebagai anak Allah akan semakin nyata. Ada dasar keyakinan, sikap hati dan gaya hidup sebagai anak Allah yang kita manifestasikan dalam hidup sehari – hari.

 

Kesadaran diri sebagai anak Allah itulah yang akan membuat kehidupan kita ‘tidak aneh – aneh’. Sebab tidak ada ‘ruang kosong’ dalam batin kita. Kita tidak perlu mencari kepuasan hidup lainnya, karena kita menyadari, bahwa kita beroleh jati diri terbaik sebagai anak Allah!

 

1. Kita tidak akan tergoda untuk mengejar kebutuhan hidup sehari – hari.

 

Jika Bapa sudah menyediakan firman-Nya bagi kita setiap hari, maka yang lahiriah pun juga sudah tersedia (Efesus 1:3). Kita tidak perlu banting tulang peras keringat seolah itu semua belum tersedia.

 

Matius 4:3-4 (TB) Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

 

Musuh akan berupaya mengalihkan fokus perhatian hidup kita agar tidak lagi tertuju kepada firman yang keluar dari mulut Allah (melakukan kehendak Bapa – Yohanes 4:34). Jadi hidup kita akan terus disibukkan untuk mengejar kebutuhan hidup sehari – hari. Bukan lagi Bapa yang menjadi pusat perhatian kita, melainkan ‘roti’. Inilah degradasi kehidupan yang teramat parah.

 

Oleh karenanya Ia mau kita menjalani hidup sebagai anak Allah, hidup hanya dari firman-Nya dan melakukan kehendak-Nya. Jika yang rohaniah sudah tersedia (firman) maka yang jasmaniah pun akan mengikuti. Bagian kita adalah fokus pada firman dan melakukan kehendak-Nya!

 

Matius 6:33 (TB) Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

 

2. Sebagai anak Allah, kita tidak akan membawa diri kita ke dalam pencobaan, kita tidak akan ‘bermain – main’ dengan dosa (Roma 6:11)

 

Kita menjadi pribadi yang cinta Tuhan dan tidak pernah berniat mempermainkan Bapa yang penuh kasih dan pengampunan. Sekalipun Ia sanggup membangkitkan kita dari kejatuhan, tapi bukan berarti kita boleh dengan sengaja menjatuhkan diri dan menjadi lengah. Tidak boleh! Justru kasih setia-Nya harus membuat kita semakin mencintai Dia dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan (menaati Dia).

 

Matius 4:5-7 (TB) Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”

 

3. Kita tidak akan tergoda untuk mengejar posisi, jabatan, ataupun fungsi tertentu demi mendapatkan kehormatan atau pujian manusiawi.

 

Dan kita juga tidak tertarik mengejar kesuksesan dunia ini, keglamoran, dan kesenangan duniawi. Dengan demikian ada rasa aman yang tinggi. Jadi kita tidak akan terganggu jika ada orang yang punya posisi atau jabatan manusiawi yang lebih tinggi dan lebih banyak dari kita. Kita tidak akan minder berhadapan dengan mereka, sebab kita tahu persis bahwa kita adalah anak Allah.

 

Matius 4:8-10 (TB) Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

 

Kita pun tidak akan ‘terganggu’ jika ada orang yang dipromosikan oleh Tuhan, tidak ada rasa iri sedikitpun. Justru kita akan men-support semaksimal mungkin orang tersebut. Sebab kita tahu persis, tanpa jabatan dan posisi serta promosi itu pun, jati diri kita tetap adalah sebagai anak Allah (Filipi 2:1-11). Apa pun posisi, jabatan, dan keberadaan kita sekarang, hidup kita tetap akan berdampak sebagai anak Allah. Membawa damai dan sukacita dalam hidup sehari – hari (Matius 5:9, Roma 14:17).

 

Saya berketetapan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti Adam dan Hawa, mereka kehilangan kesadaran akan jati diri mereka sebagai akibat ‘tipu daya’ iblis. Saya mau sama seperti Yesus yang sepenuhnya menyadari bahwa dirinya adalah anak Allah! Dan terus merenungkan dan memperkatakan firman dalam segala keadaan. Itulah yang membuat Yesus berkemenangan dan terus hidup memperkenan hati Bapa! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus