Top

27 Juni 2019

Yakobus 1:21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

 

Kata “terimalah” diambil dari kata Yunani ‘dechomai’ yang memiliki arti menerima dengan antusias, menyimak, menangkapnya, dan membuatnya menjadi miliknya sendiri.

 

Kata “dengan lemah lembut” diambil dari kata Yunani ‘prautes’ yang memiliki arti dengan penundukkan diri dan ketaatan, siap menyesuaikan diri dengan otoritas, menaati dengan lembut hati, tanpa perlawanan.

 

Kata “tertanam” diambil dari kata Yunani ‘emphutos’, yang memiliki arti “bawaan lahir, ditanamkan”.

 

Dari ayat Firman ini, saya mendapati bahwa Firman itu telah Tuhan tanamkan dalam kehidupan kita. Hati yang mencintai Tuhan, hati yang tertuju kepada kebenaran sesungguhnya sudah menjadi ‘bawaan lahir’ kita sebagai Ciptaan Baru yang lahir dari Firman kebenaran. Namun Firman ini tidak akan membawa kita mengalami kehidupan yang berbeda dari dunia jika kita tidak mengambil keputusan untuk menyingkirkan segala sesuatu yang tidak akurat.

 

Kita perlu menerima setiap Firman dalam hidup kita dengan antusias, dengan sikap hati yang lembut, dan siap menyesuaikan diri dengan apa pun yang Firman katakan. Setiap Firman yang Tuhan tanamkan dalam hidup saya adalah untuk ditaati dengan sepenuh hati. Firman harus sampai menjadi bagian hidup kita yang tidak terpisahkan, dan Firman itulah yang akan menyelamatkan jiwa kita. Menyelamatkan jiwa kita dari berbagai jenis maut, baik itu kesedihan, konflik batin, dan segala ragam emosi negatif lainnya. Memang kehidupan hanya ada di dalam Firman!

 

Yakobus 1:22-25 menegaskan bahwa setiap Firman yang tertanam dalam hidup kita, perlu kita pastikan terproyeksi melalui kehidupan sehari-hari kita. Untuk dapat menjadi pelaku Firman secara akurat, kita perlu meneliti hukum yang sempurna, yaitu Firman yang telah kita terima dengan sikap hati yang lembut. Meneliti dan bertekun di dalam Firman mengacu pada tindakan terus mempelajarinya, terus mendengarkan ajaran-Nya dengan penuh perhatian.

 

Saya semakin sadar, bahwa mendengar dan memahami Firman saja tidak cukup, menuliskan perenungan Firman setiap hari juga tidak cukup; saya perlu memastikan setiap pemahaman Firman yang saya terima, saya aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari saya. Tetapi juga tidak berhenti sampai di situ saja, Tuhan menghendaki saya menjadi pelaku Firman yang terus merenungkan Firman dan mengevaluasi diri untuk memastikan Firman yang saya terima betul-betul saya hidupi sampai menyatu menjadi jati diri saya dan terekspresi secara natural dalam kehidupan sehari-hari saya, tanpa perlu dipaksakan.

 

Firman itulah yang dimaksud dengan hukum yang memerdekakan orang. Memerdekakan kita untuk hidup secara harmoni dengan Tuhan, membuat kita memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk selalu menyukakan hati Tuhan! Kitapun akan berbahagia oleh karena kesungguhan kita menjadi pelaku Firman (Yak 1:25, Luk 11:28). #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus