Top

27 Juni 2020

1 Tesalonika 5:16-18 (TB) Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

 

Saya rasa, Roh Kudus sedang terus membangun tekad untuk memanifestasikan kehidupan yang berbeda dalam hidup sehari – hari. Oleh karenanya Roh mengingatkan saya pada ayat di atas. Jadi tidak boleh ada manifestasi kehidupan yang lain. Ia menghendaki kita senantiasa bersukacita, tetap terkoneksi dengan realita Tuhan, dan mengucap syukur dalam segala hal.

 

Dari hal tersebut kita bisa menyadari bahwa kehidupan yang penuh kesedihan, penuh amarah, murung, ngambek, sebal, dan konflik batin lainnya, itu semua sesungguhnya bukan berasal dari Tuhan. Ia tidak pernah berkehendak hal itu berada dalam diri kita. Sadarlah, emosi negatif merupakan ‘kotoran’ yang sedang dilempar oleh musuh ke dalam batin kita. Jika itu kita anggap hal yang wajar, maka kotoran akan semakin menyatu dengan emosi kita, jadi tidak boleh kita anggap wajar. Masakan kita mau membiarkan kotoran terus melekat di hidup kita? Harusnya kita jijik dan merasa najis jika itu sampai menempel pada diri kita. Dan harusnya sesegera mungkin bertindak untuk membersihkannya.

 

Bersukacita senantiasa merupakan bagian atau tindakan kita yang harus dipraktekkan dengan sungguh Рsungguh dalam hidup sehari Рhari. Ini harus menjadi prinsip firman yang dilakukan senantiasa (di segala waktu dan juga keadaan apa pun). Mungkinkah kita bisa bersukacita senantiasa? Bisa! Karena ada Roh Kudus bersama kita. Bekerjasamalah dengan Roh Kudus sebagai sumber sukacita dalam hidup kita. Berdialoglah dengan Roh Kudus untuk mendapatkan sudut pandang dan posisi rohani yang kita butuhkan dalam menghadapi apa pun untuk tetap bersukacita! Fokus saja pada suara Roh Kudus! Ia akan mengajar kita bagaimana harusnya bersikap, bertindak, dan bertutur kata. Bagian kita hanya taat saja.

 

Saya semakin paham, kita sesungguhnya tidak bisa mengontrol apa yang akan terjadi dalam hidup ini, dan juga tidak bisa ‘mengatur’ sikap serta tindak tanduk orang lain. Hal itu sulit untuk kita jagai agar selalu bisa ‘menyenangkan’ hati kita. Berhentilah mengharapkan itu! Kita hanya punya kendali atas hati kita sendiri. Itulah yang ada dalam jangkaun untuk bisa kita jagai.

 

Amsal 4:23 (FAYH) Yang terutama sekali, jagalah hatimu karena hatimu mempengaruhi segala sesuatu dalam hidupmu.

 

Ayat di atas haruslah kita pakai untuk merombak akal budi kita yang selama ini mengganggap bahwa faktor eksternal menentukan emosi batin dan pemikiran kita. Karena kebenarannya tidaklah seperti itu. Yang benar adalah hati kitalah yang sesungguhnya harus mempengaruhi kehidupan sehari – hari yang kita jalani. Jadi sukacita, realita hadirat-Nya, dan ucapan syukur harus keluar dan memancar memanifestasikan dirinya dari dalam batin kita. Itulah hidup yang pantas, layak, dan wajar untuk kita alami setiap hari.

 

Jadi tidak peduli seburuk apa pun yang kita hadapi, tidak peduli semenjengkelkan apa pun orang yang ada di hadapan kita, dan tidak peduli fakta negatif yang masih berada dalam kehidupan kita, kita harus tetap bertekad untuk bersukacita, berdoa, dan bersyukur! Itulah kehendak Bapa dan itulah jenis kehidupan yang memperkenan hati-Nya. Jadi, pilihlah kehidupan yang memperkenan Tuhan – dari dalam hati kita senantiasa terpancar kehidupan, sukacita, realita Tuhan, dan ucapan syukur. Dengan demikianlah kita bisa menikmati surga di atas bumi ini dalam hidup sehari – hari kita! Amin! Terjadilah atasku! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus