Top

27 September 2019

Perasaan marah terhadap maut sampai saat ini masih sulit hilang dalam batin saya, dan mungkin tidak akan hilang. Ia telah mencuri dan membunuh anak – anak kegerakan yang ada.

 

Tuhan memang baik dan setia. Itu tidak perlu diragukan. Tapi yang kita butuhkan saat ini adalah kuasa Tuhan yang sanggup menelan maut dalam kemenangan! Yesus beberapa kali hendak dibunuh oleh maut. Melalui orang yang membencinya, ataupun peristiwa alam yang tiba – tiba.

 

Lukas 8:23-25 (TB) Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur. Sekonyong-konyong turunlah taufan ke danau, sehingga perahu itu kemasukan air dan mereka berada dalam bahaya. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Guru, Guru, kita binasa!” Ia pun bangun, lalu menghardik angin dan air yang mengamuk itu. Dan angin dan air itu pun reda dan danau itu menjadi teduh. Lalu kata-Nya kepada mereka: “Di manakah kepercayaanmu?” Maka takutlah mereka dan heran, lalu berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepada-Nya?”

 

Kita tahu bersama, murid – murid banyak yang berprofesi sebagai nelayan. Menghadapi badai dan angin bukanlah hal mengagetkan bagi mereka. Tapi taufan kali ini sangat berbeda. Membuat mereka kehilangan akal dalam mengendalikan perahu. Semua ilmu pelayaran tidak terpakai sedikitpun karena alam mengamuk begitu parah. Dan tanda – tanda bahwa mereka akan BINASA sudah sangat dekat. Nyawa taruhannya.

 

Saya rasa, ini bukan perisitiwa alam biasa, melainkan manifestasi dari MAUT yang ingin membunuh Yesus dan murid – murid. Bukan tanpa alasan peristiwa ini terjadi. Maut tidak senang dengan apa yang Yesus lakukan di atas bumi ini. Berbagai macam cara dilakukan untuk menghentikanNya. Tapi tidak berhasil. Angin taufan dihardik oleh Yesus!! Seketika berhenti. Dan ombak menjadi teduh kembali!

 

Saya percaya, kita sebagai anak – anak Allah sesungguhnya telah diberi kuasa untuk menaklukkan maut. Sebab maut memang sudah ditaklukkan oleh Kristus. MAUT SUDAH MATI! Yang tersisa hanyalah tipu dayanya. Tipu daya tersebutlah yang terus menakuti-nakuti kita. Pikiran menjadi tempat KEMATIAN bercokol. MATI selalu ada di benak kita. Jadi, kita selalu ingat kematian. Dan tanpa sadar, kita mempersiapkan hidup sebaik mungkin untuk dijemput oleh kematian! Itu adalah konsep kehidupan yang harus kita buang jauh-jauh!

 

Karena sesungguhnya jika waktu kita memasuki kekekalan tiba, peristiwa itu bukan lagi hal yang mengagetkan bagi kita. Kita sudah tahu kapan waktunya. Jika sudah tiba, kita akan menyerahkan nyawa kita ke dalam tangan Bapa. Bukan ditarik oleh maut. Bagaimana bisa MAUT bersentuhan dengan ROH KEHIDUPAN? Tidak bisa! Maut pasti pergi dan tersingkir! Kita akan dijemput dan disambut oleh para malaikatNya.

 

Tapi jika kita lebih memberanikan iman lagi, maka kita akan mendapati, sudah menjadi kehendakNya KerajaanNya memerintah di atas muka bumi ini. Kerajaan yang kekal. Jadi, bukan kita yang akan pergi ke surga. Melainkan kerajaanNya yang turun atas kita.

 

Saya jadi sadar, apa yang kita alami seringkali sangat berkaitan dengan apa yang kita yakini. Jadi, pilihan ada di tangan kita. Pastikanlah kita terus mengisi pikiran ini dengan KEHIDUPAN saja. Sehingga segala upaya maut harus tersingkir dari diri kita. Maut telah ditelan dalam kemenangan!

 

Amsal 4:23 (VMD) Di atas segala-galanya, hati-hatilah terhadap yang kaupikirkan karena pikiranmu mengendalikan hidupmu.

 

#AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus