Top

28 Mei 2020

Saat kita membaca Alkitab, maka kita akan selalu menemukan adanya pola Tuhan bekerja di atas muka bumi ini. Dalam pergerakan-Nya, Ia selalu membangkitkan seseorang yang dibentuk oleh pekerjaan Roh dan Firman. Sehingga melalui dirinya, Tuhan dapat membangun kehidupan umat-Nya seturut dengan pola dan agenda yang ditetapkan untuk menghadirkan Kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Oleh kedaulatan-Nya Ia memilih siapa yang dikehendaki-Nya untuk menjadi ‘patokan atau pemimpin’ atas suatu kegerakkan (Roma 9:12-18, Yesaya 61).

 

Tapi sungguh disayangkan, pola kerja itu seringkali gagal dipahami oleh banyak orang percaya. Sebab banyak orang yang tidak rela jika ada orang lain yang harus memimpin. Jadi banyak orang percaya juga yang akhirnya ‘mengaku diri’ sebagai pemimpin kegerakan walaupun bukan. Sebab mereka melihat hal itu sebagai posisi yang terhormat dan pastinya akan mendapatkan penghormatan dan pelayanan layaknya seorang pemimpin. Itulah konsep pikir duniawi yang masih ada dalam hidup mereka. Mereka gagal melihat konsep pemimpin dari sudut pandang Tuhan. Bahwa seorang pemimpin adalah juga seorang hamba yang punya tanggung jawab untuk melayani bukan dilayani.

 

Sangat penting bagi setiap orang percaya meminta kepada Roh Kudus untuk membukakan mata hatinya guna melihat pemimpin kegerakan atas suatu bangsa. Sebab jika tidak, kekacauan dan ketidakteraturan akan selalu terjadi dalam kehidupan orang percaya. Semua jadi ingin bergerak masing – masing tanpa terikat dan terhisap dalam satu tubuh Kristus (Efesus 4:10-16).

 

Saya berani mengatakan: Kegagalan kita untuk bisa melihat pemimpin kegerakan dan kegagalan kita untuk menundukkan diri di bawah pengayomannya merupakan kegagalan kita juga dalam mengikuti kehendak Tuhan – kita berhenti berjalan bersama Tuhan. Itulah yang terjadi pada Barnabas. Ia gagal melihat Paulus sebagai rasul yang juga pemimpin kegerakan yang Tuhan bangkitkan.

 

Kisah Para Rasul 15:35-41 (TB) Paulus dan Barnabas tinggal beberapa lama di Antiokhia. Mereka bersama-sama dengan banyak orang lain mengajar dan memberitakan firman Tuhan. Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: “Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka.” Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan berangkatlah ia mengelilingi Siria dan Kilikia sambil meneguhkan jemaat-jemaat di situ.

 

Banyak orang yang mengupas dan menyoroti perikop di atas soal perselisihannya. Dan menganggap bahwa ‘Paulus dan Barnabas’ sama – sama manusia yang bisa saja terjadi salah paham. Bahkan ada yang membahas mengenai kepribadian masing – masing mereka. Bahwa Paulus pribadi yang dominan dan ‘keras’, sedangkan Barnabas pribadi yang penuh kasih dan lembut. Jadi mereka tidak bisa berjalan bersama! Padahal bukan itu esensi dari pemahaman perikop tersebut.

 

Jika kita perhatikan lebih lanjut, pada perikop itulah dalam Kisah Para Rasul nama Barnabas terakhir ditulis. Selanjutnya nama Paulus mendominasi pergerakan yang ada. Bukan karena Paulus ingin menonjol, melainkan oleh kedaulatan-Nya Tuhan telah memilih dirinya menjadi pemimpin kegerakan. Jadi esensi pemahaman dari perikop di atas adalah, “kegagalan Barnabas melihat Paulus sebagai pemimpin kegerakan” (bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah).

 

Jika seandainya Barnabas bisa melihat itu, dan dengan rendah hati menundukkan diri di bawah kepemimpinan Paulus, dan menjaga ‘ikatan janji’ yang ia miliki dengan Paulus, maka Barnabas pasti akan terus melangkah bersama Tuhan dan Paulus. Tapi sungguh disayangkan, Barnabas tidak mengikuti Paulus yang bersama Tuhan, ia justru memilih berpisah jalan demi menjaga ‘ikatan persaudaraan’ lahiriahnya dengan Markus (Kolose 4:10).

 

Dari hal tersebut saya belajar: “Isu siapa pemimpin kegerakan” yang Tuhan tetapkan menjadi sangat penting bagi kita khususnya orang percaya di akhir zaman ini. Jika kita tidak bisa melihat itu, maka tatanan dan pergerakan tubuh Kristus akan tetap kacau. Semua pemimpin menganggap dirinya sebagai pemimpin kegerakan. Alhasil pelayanan tubuh Kristus tidak pernah muncul.

 

Namun saya yakin dan percaya, rencana Tuhan tidak pernah gagal. Tuhan telah membangkitkan ‘pemimpin kegerakan’ dan di saat yang bersamaan, ia juga membangkitkan suatu generasi dan umat yang sehati, sepikir, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tidak mencari kepentingan sendiri dan pujian yang sia – sia, serta mengosongkan diri dan menjalani hidup sebagai hamba yang melayani.

 

Generasi inilah yang akan menyatu dengan pemimpin kegerakan yang Tuhan tetapkan (berjalan dalam ikatan janji) dan menyelesaikan agenda-Nya sampai tuntas di atas muka bumi. Oleh kedaulatan-Nya Ia telah membangkitkan pemimpin kegerakan, oleh kedaulatan-Nya juga Ia telah membangkitkan generasi yang mengosongkan diri sama seperti Kristus (Filipi 2).

 

Baiklah kita meminta anugerah-Nya untuk bisa terhisap masuk ke dalam generasi tersebut dan berjalan bersama Tuhan! Itulah generasi yang akan menyatakan kepenuhan Kristus dan pelayanan Tubuh Kristus di akhir zaman ini!! #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus