Top

29 Agustus 2018

Ketika saya menggali pemahaman tentang kehidupan seorang penyembah, dan mendapati bahwa seorang penyembah yang sejati pastilah merupakan orang-orang yang memang terus menjagai kecintaanNya kepada Tuhan – ia hidup dalam kematian daging, penyangkalan diri: menjauhkan kecintaan akan dunia, cinta akan diri sendiri dan cinta akan uang dari hatinya sehingga seluruh hidupnya dapat mencintai Tuhan secara mati-matian, gila-gilaan & habis-habisan…

Saya juga mendapati bahwa saat seseorang menyembah Tuhan, Roh Kudus bisa menjadikan moment penyembahan itu menjadi moment penyingkapan pewahyuan tentang keberadaan Tuhan (1 Yoh 3:2), maka saya jadi makin diyakinkan betapa pentingnya rutinitas pembacaan firman untuk dapat dilakukan oleh setiap orang percaya.

1. Melalui rutinitas pembacaan firman, kita mengkondisikan pikiran kita untuk selalu tertuju kepada Tuhan.

Pikiran yang masih dalam proses pembaharuan/ di setting ulang untuk memiliki pikiran Kristus, masih mudah untuk kembali memunculkan nature keduniawian/ kemanusiawian. Itu sebabnya tindakan secara rutin membaca firman akan menolong nature pikiran kita ini untuk tetap terjagai selalu tertuju kepada Tuhan. Tanpa pikiran tersetting mutlak kepada Tuhan (sampai sudah terbangun logika Ilahi, kita mewarisi pikiran Kristus) Iblis akan tetap memiliki kemudahan untuk menanamkan benih kekuatiran, ketakutan, intimidasi dan segala bentuk ketidak akuratan hidup lainnya.

Tapi ketika seseorang terus mendisiplin diri dalam melakukan pembacaan firman, ia bisa menjagai dirinya untuk selalu melihat, menilai segala sesuatu bahkan membuat berbagai pengambilan keputusan berdasarkan perspektif firman! Meski Alkitab yang kita baca adalah merupakan firman Tuhan yang tertulis, tapi tetap saja itu adalah firman Tuhan! Dengan mudah Roh Kudus akan bisa menghidupkan firman tertulis tersebut menjadi firman hidup didalam kehidupan kita…!

2. Melalui rutinitas pembacaan firman, kita sedang menaburkan benih-benih firman ke dalam hidup kita.

Dalam perjalanan hidup yang kita jalani ini, kita harus membuat banyak keputusan. Satu pengambilan keputusan, akan menghantarkan kita pada pintu-pintu kesempatan yang juga membutuhkan pengambilan keputusan yang batu. Dapat digambarkan, kadangkala dalam satu pengambilan keputusan yang kita buat, kita akan menghadapi adanya pintu-pintu kehidupan yang ‘tertutup/ terkunci’.

Di saat itulah, karena ada banyak benih firman yang sudah tertabur dalam batin kita, Roh Kudus jadi memiliki ada banyak keleluasaan untuk Ia ‘menghidupkan’ satu atau beberapa ayat firman bagi kita. Benih firman yang Roh Kudus hidupkan itulah yang akan dapat kita pakai sebagai ‘kunci pembuka’ untuk membuka setiap ‘pintu kehidupan yang masih terkunci’.

Misalkan, kadangkala dalam hidup ini, kita bisa saja harus menghadapi ‘pintu tertutup’ berupa sakit penyakit yang sudah di voniskan oleh dokter sebagai ‘tak tersembuhkan’ atau ‘cukup berat’; di saat itu, karena kita sudah menaburkan ada banyak benih firman tentang Allah yang menyembuhkan & membuat mujizat dalam batin kita, disaat kita menyembah Dia, Roh Kudus akan menghidupkan ayat-ayat tersebut dan membawa kita melihat Dia sebagai Allah sang penyembuh. Dengan kita melihat Dia sebagaimana Dia adanya, kitapun diubahkan jadi serupa denganNya (1 Yoh 3:2) Akan ada posisi rohani & otoritas Ilahi yang kita terima dari Tuhan untuk kita dapat menaklukkan kekuatan sakit penyakit tersebut. Bukan hanya kita jadi hidup dalam kesehatan Ilahi, Tuhanpun akan mulai memakai kita untuk menghancurkan sakit penyakit dalam hidup orang-orang lain.!

Prinsip ini akan berlaku atas setiap area kehidupan atau berbagai situasi hidup yang bisa kita alami. Melalui firmanNya yang sudah tertabur dalam hidup kita, Roh Kudus akan memberi posisi rohani yang baru, otoritas Ilahi yang lebih besar untuk kita bisa selalu berkemenangan atas segala situasi/ peristiwa kehidupan diatas muka bumi ini.

Benamkan dirimu didalam firman dan teruslah alami pekerjaan RohNya disaat engkau mencurahkan kasih cintamu kepadaNya melalui penyembahan… Bangkitlah hai para penakluk….!#AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus