Top

29 Agustus 2019

2 Timotius 3:5-7 (TB)
Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. JAUHILAH MEREKA ITU! Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.

 

Kondisi di atas terjadi pada jemaat Efesus. Ada jemaat yang “rajin ibadah” namun hidupnya dikuasai oleh berbagai nafsu (masih membawa pola/cetakan dunia) sehingga mengincar “perempuan – perempuan” lemah (kecenderungan hatinya juga mengikuti nafsu) yang tidak berakar pada firman. Dengan tujuan dapat melampiaskan nafsu bersama sampai terjadinya hubungan seksual yang berefek merusak kehidupan berjemaat.

 

Paulus dengan tegas berkata pada Timotius: JAUHILAH MEREKA ITU!!

 

Pertanyaannya, apakah Paulus tidak mengasihi orang berdosa? Saya yakin Paulus mengasihi mereka sama seperti Kristus yang mengasihi dirinya yang berdosa dahulunya. Tapi ingat juga, Paulus juga mengasihi jemaat yang bersungguh hati mencintai Tuhan dan kebenaran. Jadi, tindakan kasih yang harus diambil oleh Paulus adalah memerintahkan Timotius untuk MENJAUHKAN ORANG – ORANG TERSEBUT dari tengah – tengah jemaat Efesus. Dengan satu tujuan: Menjaga agar “cetakan dunia” itu tidak menular ke jemaat yang lainnya. Dan tidak “jatuh korban” perempuan – perempuan lain di tengah jemaat. Itulah adalah tindakan KASIH!

 

Tindakan KASIH itu merupakan wujud pembersihan “pola – pola dunia” yang masih tersisa di tengah jemaat. Karena dahulunya “seks bebas” merupakan manifestasi pemujaan/ ibadah terhadap dewi Artemis bagi masyarakat Efesus. Jadi orang – orang yang Paulus perintahkan untuk dijauhi itu adalah orang – orang yang telah menyatukan rohnya dengan roh dunia! Mereka sudah diajar namun tidak juga “mengenal kebenaran” (kecenderungan hatinya tidak alami perubahan)

 

Dari perenungan di atas, saya belajar sesuatu:

 

1. Tindakan kasih merupakan tindakan tegas terhadap segala bentuk/ cetakan/ manifestasi dari roh – roh dunia.

 

Tindakan tegas memiliki berbagai macam wujudnya. Dari memperingati sampai tindakan utk mengeluarkan/ menjauhi!

 

2. Saya jadi sadar sekarang, seringkali pergaulan bebas yang sering dilakukan oleh orang-orang yang masih hidup dalam kedagingan/ dosa akan selalu bersembunyi atas nama KASIH/ LOVE!

 

Mereka akan membangun opini bahwa Tuhan selalu mau menerima orang berdosa; jadi Gereja tidak berhak untuk menolak mereka yang memang masih ‘bergumul dalam dosa’. Tapi ingatlah selalu, Tuhan memang mau menerima orang-orang berdosa yang mau berubah, bukan orang berdosa yang terus bersembunyi atas nama ‘kasih’ hanya supaya bisa tetap ‘bergerilya’ di dalam gereja untuk menjerat mereka yang ‘masih bergumul’ dengan nafsu kedagingan. Hal ini hanya akan membuat gereja jadi tidak bisa muncul sebagai institusi yang berkuasa untuk menyatakan kekudusan Kristus!

 

3. Saya percaya, Paulus dan Timotius tetap menerima orang – orang berdosa yang memang mau diajar, dibentuk, dan berubah.

 

Tidak peduli seberapa buruk/ berdosanya dirinya dahulu, selama kecenderungan hatinya mau berubah oleh pekerjaan Roh dan Firman, maka mereka tetap layak diposisikan untuk menjadi mempelai Kristus!

 

Pertobatan yang sejati terjadi dalam hidup orang-orang yang memang mau meninggalkan kubangan dosa dengan kesadarannya sendiri, bukan mereka yang hanya menyatakan bertobat karena perbuatannya ketahuan/ terbongkar oleh orang lain.

 

4. Paulus bahkan rela menyerahkan orang-orang yang terus hidup dalam dosanya ke dalam tangan Iblis (1 Kor 5:1-5) demi supaya orang yang hidup dalam dosa tersebut, rohnya tetap dapat diselamatkan pada hari Tuhan.

 

5. Bagian saya saat ini adalah turut serta untuk menjagai jemaat dalam KASIH ILAHI dan sekaligus memobilisasi setiap jemaat untuk bisa saling menjagai satu sama lain sehingga bersama-sama, sebagai satu Tubuh, kita terus bergerak maju dalam kekudusan & kesempurnaanNya.

 

Terkadang, kasih Ilahi memang sering disalahpahami oleh jemaat. Tapi inilah saatnya jemaat mulai belajar mengenal dimensi kasih Ilahi secara seimbang. #AkuCintaTuhan

 

Ps. Steven Agustinus